Pekan Demo Karyawan

From www.dadangkadarusman.com

By ⋅ October 31, 2012

jobwelldone-victoriasvoice44bp-300x214“Hah? Dikantor elo bakal ada demo?”
Begitu rata-rata orang merespon waktu pada makan siang di Amigos. “Elo nggak takut di pecat?!” kata mereka. Biasanya kan kalau demo dilakukan oleh pegawai di pabrik. Di gedung perkantoran mentereng kayak tempat kerja mereka, mana pernah ada demo. Jadinya ya wajar aja kalau mereka pada heran. Kok demo sih. Nekat amat.

“Ngapain takut dipecat?” jawab orang-orang kubikal nyantai aja.
“Gila ya, elo udah pada nekat?” Bagaimana pun juga cara berpikir orang-orang di kubikal masih belum seluruhnya bisa diterima oleh tetangga-tetangga kantor. Meskipun mereka tidak akrab-akrab amat, tapi kalo soal solidaritas sesama karyawan sih biasanya kan otomatis tumbuh juga.

“Ya nggak lagee…” kata orang-orang kubikal. “Pak Presiden Direktur malah sudah approve proposalnya….” Lanjutnya.

Karuan aja semua orang pada melongo. Nasi yang tadi sudah siap disuapin jadinya menggantung disendok yang jaraknya tinggal 12 milimeter lagi dari bibir mereka. Jangan gitu, yang sudah masuk ke mulut aja nggak jadi dikunyah.

“P-Presiden Direktur elo menyetujui acara demo?” kata salah seorang tetangga kantor.
“Yo-i,” kali ini Opri yang paling bersemangat menjawab.
“Bercanda kali lo…” mereka nggak juga percaya.
“Ya udah kalau nggak percaya…” orang-orang kubikal cuek bebek. Mereka melahap sajian makan siangnya dengan nafsu makan seperti orang sedang dalam masa pertumbuhan.

“Serius?” Lah, yang tadi nggak percaya malah jadi tambah penasaran.
“Ya udah gue bilang kalau nggak percaya ya udah aja….” Tukas Opri dengan muka judesnya.

“Berapa lama?’ kata orang itu lagi.
“Tujuh…” jawab Opri singkat.

“Yeee, pantesan aja di approve sama boss,” orang itu menepuk pahanya sendiri. “Demonya cuman tujuh menit.” Katanya. “Itu namanya kultum. Kuliah tujuh menit. Bukan demo…..” Ucapan terakhirnya disambut dengan bunyi ‘ooooh….’ Dari mulut orang-orang lainnya di kantin amigos.

Opri sepertinya tidak terganggu dengan keributan itu. Dia cuman mengambil kerupuk. Lalu digigitnya dengan penuh nafsu. Menghasilkan bunyi ‘kerekes’ yang nyaring sekali.

Teman-teman kubikal yang paham pertanda itu langsung mengusap-usap pundak Opri. “Sabar Pri…” katanya.

“Tujuh hari!” teriak Sekris.
Kejadian lagi deh peristiwa mematungnya orang-orang sambil melongo dengan gayanya sendiri-sendiri. “HAH?!!! TUJUH HAAAARI….” Sama sekali nggak percaya kalau bakal ada demo karyawan selama itu. Disetujui Presiden Direktur pula. Nggak mungkin banget deh.

“Yo-i, tujuh hari.” kata Fiancy.
“Makanya disebut Pekan Demo Karyawan,” sambung Aiti.
“Elo tahu artinya ‘pekan’, kan?” sereng Opri.

Seketika itu juga situasi di kantin amigos menjadi heboh. Orang-orang yang lagi makan di kantin lain juga pada pindah tempat. Mereka setengah nggak percaya ada demo karyawan selama itu. Tapi mereka juga nggak mau ambil resiko kehilangan kesempatan buat ngadain demo yang sama kalau demo itu berhasil di kubikal.

Tanpa disangka perbincangan ringan itu telah berubah menjadi isu santer yang cepat menyebar ke seluruh gang sempit yang berisi pulahan kios makan itu. “Ada demo! Ada demo!” begitu beberapa orang berteriak. Akhirnya semakin banyak orang yang datang ke kantin amigos. Kayaknya emang mereka udah sejak lama kepengen demo. Cuman pada nggak berani aja. Makanya, begitu ada isu demo langsung deh mereka nyamber. Pada berlarian ke kantin amigos yang dilengkapi dengan AC alam itu. Ada yang masih pegang mangkok bakso segala loh. Bener-bener ogah rugi banget deh orang itu.

“Hayo hajar aja! Hajar aja!” seseorang berteriak dari barisan paling belakang. Nggak jelas orangnya yang mana. Keadaan menjadi hampir tidak terkendali.

Orang-orang didalam kantin sudah mulai ketar-ketir juga. Takut kalau keadaan menjadi semakin liar. Cuman Opri aja yang nyantai. Dia memasukkan suapan terakhir Mie Aceh kesukaannya. Nah, habis makan yang pedes-pedes itu dia mengambil sebotol teh dingin. Nyeeeessss…. Diminumnya sekaligus sampai habis. Lalu, dengan santainya dia naik keatas meja makan. Kemudian…

“DIAAAAAAAAAMMMMMMMMM!” teriaknya.
Seperti terkena sihir aja. Semua orang terpana mendengar gelegar suara Opri yang menggema seperti bom nuklir yang menghajar bumi Hirosima. Untuk beberapa saat lamanya, kantin yang tadi hiruk pikuk itu berubah menjadi senyap.

“Siapa yang tadi teriak-teriak dibelakang itu?” kata Opri. Wajah sangarnya memandang sekeliling. Nggak ada yang ngaku. Cuman saling nunjuk aja nggak jelas gitu.

“Kalau elo berani maju kedepan ya!” teriak Opri sekali lagi. “Jangan cuman berani ngomporin di belakang kayak gitu.” Katanya. Nggak juga ada yang berani maju.

“Nah, itulah kelakukan tukang kompor,” kata Opri lagi. “Nyuruh orang main labrak. Eh, dianya sendiri ngacir duluan. Pengecut lu!” hardiknya.

“Sodara-sodara,” Opri berteriak sekali lagi. Dia sudah berancang-ancang buat meneruskan pidatonya. Tapi sebelum dia mulai, sekonyong-konyong aja ada orang yang nyodorin speaker kotak.

“Pake ini aja Mbak…” katanya. Seorang tukang ngamen meminjamkan speakernya.
“Nah… kayak gini yang keren nih. Nggak banyak omong. Langsung action. Ngasih solusi. Nggak kayak elo pade bisanya cuman teriak-teriak doang…” gerutu Opri.

“Elu pade ngapain ngumpul disini?” katanya. Suaranya sekarang terdengar jelas ke semua penjuru.
Ada sekitar lima ratus orang berkumpul disitu. Dan semuanya berdiri mematung mendengarkan Opri.

“Anu Mbak…” kata seseorang di pojok kiri. “Katanya ada demo…” tambahnya. “Ya kami mau ikutan kalau demo….”

“Demo, demo.” Kata Opri. “Demo dari Hong Kong?” tambahnya.
“Oalaaaah.. siapa juga yang tadi nyebar isu nggak bener itu…” orang-orang pada menggerutu. “Lha, katanya ada demo. Tapi kok ndak ada toh… gimana sih ini…”

“Demo sih emang ada.” Tukas Opri. “Tapi bukan demo seperti yang elo pada bayangkan…” tambahnya.

“Lah, tuch katanya ada demo,” orang-orang nggak jadi bubaran.

“Makanya. Dengerin dulu gue ngomong…” kata Opri. “Di PT Kubikal International emang bakalan ada demo.”

Orang-orang pada bersuit-suit. Ada yang berteriak-teriak segala. “Ya udah, kita juga ikut demo…” kata beberapa diantara mereka.

“Nggak bisa. Ini demo internal,” kata Opri.
“Ya ndak apa-apa. Kita bantu,” teriak mereka. Semangat sekali rupanya. “Apa yang mau dituntut Mbak?” Seseorang mengacung-acungkan tangannya.

“Perbaikan nasiblah,” jawab Opri. “Kita mau punya masa depan yang lebih baik,” katanya.

“Tapi lha itu tadi katanya sudah di approve oleh Presiden Direktur gitu lho…” salah seorang yang ikut sejak awal nimbrung. Orang-orang yang baru tahu pada keheranan. Apalagi setelah mereka diberitahu juga kalau demonya dilakukan selama seminggu penuh. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau bisa demo seleluasa itu. Dan bisa didukung penuh oleh top management.

Dengan speaker pengamen ditangannya, Opri bisa leluasa mengusai panggung yang aselinya meja makan itu. Opri bertanya; “Jadi elu mau ngadain demo di kantor elo juga?” semua orang kontan pada bilang iya. Kompak. Dan bernafsu.

Opri bilang boleh aja. Tapi, mereka diminta untuk melakukan demo seperti di kubikal. Demo di kubikal itu, tidak membuat pengambil keputusan menjadi berang. Apalagi main sweeping segala. Nggak ada itu. Di kubikal, demonya nggak pake sweeping-sweepingan. Demo itu mesti sukarela. “Kalau ada yang maksa-maksa, elo mesti hati-hati,” kata Opri. Bisa jadi dia cuman tukang kompor aja. Entar kalau orang lain udah pada bergerak, eh dianya sendiri nggak ikutan. Sembunyi di rumah sambil nonton di tivi.

Di kubikal, demo tidak pake teriak-teriak. Tidak pake megaphone. Dan tidak pake marah-marah.

“Yaah.. kalau kayak gitu sih mana seru demonya?” protes cowok pendek sekal yang pake baju biru muda.

“Elo mau cari manfaatnya atau mau cari serunya?” Opri langsung melotot kepadanya.
“Ya gimana demonya Mbak kalau cuman gitu doang?” sergahnya.
“Ya makanya elo jangan sotoy gitu dong. Denger dulu gue ngomong kenapa?” balas Opri.

“Elo mau aspirasi elo didenger management apa tidak?” Opri meneruskan orasinya.
Kontan saja semua orang pada teriak ‘MAU’ sambil mengacung-acungkan tinjunya ke udara.
“Kalau gitu, elo mesti melakukan demo yang enak untuk didengar sama management,” balas Opri.

Bayangkan seandainya elo adalah seorang pejabat di perusahaan. Bayangkan aja. Nggak usah sungkan. Ngebayangin aja kan gratis. Misalnya aja elo udah jadi direktur. Terus, ada anak buah elo yang mendemo kepemimpinan elo. Mereka bilang kalau elo itu tidak fair. Mereka bilang elo cuman mementingkan diri sendiri. Mereka bilang elo nggak peduli pada nasib karyawan. Mereka bilang deh, semua kejelekan elo. Kira-kira nih ya; elo bakal suka nggak sama mereka?

Semua hadirin pada diam termangu. Mungkin mereka pada asyik membayangkan seandainya dirinya sudah menjadi boss. Ya tentunya mereka nggak bakal senang kepada karyawan yang bikin ulah. Nah. Begitu juga sebaliknya.

Kalau demo elo bikin telinga managemen panas. Pasti nggak bakal didengar. Kalau elo demonya merusak fasilitas kantor, elo juga nggak bakal disukai boss elo. Kalau demo elo memblokir jalan tol apa lagi. Elo nggak bakal dapat simpati masyarakat. Bikin rusuh namanya. Makanya, elo mesti melakukan demo dengan cara yang berbeda. Seperti di kubikal. Kata Opri;”Kami mendemonstrasikan dedikasi dan kompetensi kami dihadapan management……”

Semua orang yang tadi pada gelisah dalam suasana yang panas membara tiba-tiba saja bengong lagi. “Demo dedikasi dan kompetensi?” mereka meracau sendiri. Suaranya nggak jelas karena setiap orang membeo dengan dirinya sendiri.

Ya. Memang begitulah acara pekan demo karyawan yang dijalankan di kubikal. Dalam sepekan itu, setiap karyawan mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan dedikasinya secara ekstra dalam pekerjaan. Nggak perlu ada yang takut dibilang ‘sok’. Atau ambisi. Nggak. Dalam pekan demo itu, semua orang dipersilakan untuk pamer semua kehebatan dirinya. Ada jurinya juga. Ada hadiahnya juga. Makanya, dalam sepekan itu suasana di kubikal bakal menjadi seperti festival prestasi seluruh karyawannya. Mereka boleh mendemonstrasikan apapun. Asal baik buat perusahaan. Baik buat team kerjanya. Baik buat teman-teman sekerjanya. Pokoknya, asal menghasilkan kebaikan.

“Ada-ada saja nih…” celetuk seseorang. “Ide dari mana tuch kok ada demo kayak gitu?” katanya.

Opri menengok kearah orang itu. “Sini lu!” kata Opri.
Orang itu tentu keder dong. Biar pun dia cowok tinggi besar, kalau berhadapan dengan Opri ya pikir-pikir dulu…

“Sini dong kalau elo mau tahu….” Bujuk Opri. Kali ini nada suaranya tidak terlalu sangar.
“Maaaaju. Maaaaju. Maaaaju!” teriak orang-orang. Heboh banget. Ya udah nggak ada pilihan lain buat cowok itu selain maju.

Sekarang dia sudah berada satu panggung bareng Opri. Terus Opri memencet-mencet gadgetnya. Setelah itu, dia menyerahkan gadget itu kepadanya. “Baca,” kata Opri.

Cowok itu terlihat ragu-ragu.
“Ya udah, baca aja….” Kata Opri lagi.
“Baaaaca. Baaaaca. Baaaaca!” teriak orang-orang lagi.

Akhirnya cowok itu mengalah juga. Dia mengambil gadget itu dengan tangan kanannya. Dan memegang microphone dengan tangan kirinya. Lalu dia membaca keras-keras:

BIKINLAH DEMO YANG SIMPATIK & POSITIF
BIAR ORANG LAIN MAU MENDENGARKAN ASPIRASIMU

Buat orang-orang di kubikal, tentu sudah tidak asing lagi. Itu adalah menu hari ini dari Natin. Kita memang mesti demo dulu. Baru suara kita diperhitungkan. Tapi. Banyak orang yang berdemo dengan cara yang keliru. Makanya. Bukannya simpati. Atau kasih sayang yang mereka dapatkan. Yang ada. Mereka cuman kehujanan dan kepanasan. Paling banter dapet upah demo lima puluh rebu perak. Itu juga nggak semua orang dapet. Yang pasti sih, mereka menanam saham kekesalan dimata top management.

Boro-boro bakal dinaikin gajinya. Yang ada, management mencari orang lain untuk menggantikan mereka. Ditandain. Semua karyawan yang perilakunya berangasan dan suka main demo anarkis. Nggak diperpanjang lagi kalau kontraknya sudah habis.

Kalau udah gitu. Mewek deh.
Natin mengingatkan kepada semua karyawan. Bahwa kita semua punya hak untuk berdemo. Tapi ada cara demo yang baik. Dan ada cara demo yang buruk. Bagaimana pun juga, demo anarkis itu lebih banyak buruknya daripada baiknya. Beresiko lagi. Belum tentu juga hasilnya sesuai dengan harapan.

“Sekarang elo pade punya dua pilihan,” kata Opri. “Demo yang merusak dan ribut-ribut.” Lanjutnya. “Atau demo seru, happy, dan sejuk di ruang ber AC sambil menunjukkan kepada boss-boss elo kalau sebenarnya elo punya kemampuan yang tinggi sehingga layak dibayar lebih tinggi?”

“Kita kerja baik juga belum tentu dihargai tinggi Mbak….” Teriak seorang peserta dari sebelah kanan.
Opri melihat kesana. Lalu katanya;”Elo udah kerja maksimal apa belum? Kerjaan aja masih nggak beres elo berani ngomong gitu. Tunjukkan dulu kerjaan bagus elo. Baru ngomong….”

Orang itu langsung melempem. Apa lagi sambil ditertawakan para hadirin.

“Kalau saya sih yakin sudah kerja baik sekali Mbak…” kata seorang perempuan di barisan depan. “Nggak pernah terlambat masuk.” Tambahnya. “Nggak pernah absen.” Lanjutnya. “Target tercapai terus.” Katanya. “Penilaian juga baik.” Dia diam sebentar. “Tapi kayaknya management tidak memperhatikan. Gimana dong Mbak?”

“Nah, kalau perusahaan elo nggak beres kayak gitu,” sahut Opri. “Elo nggak usah ribut-ribut deh. Elo sebarin aja CV elo. Cari perusahaan lain.” Tambahnya. “Kalau elo emang bagus, masih banyak kok perusahaan yang cocok sama elo. Mau bayar lebih tinggi ke elo. Tinggalin aja…”

Semua orang pada diam. Manggut-manggut. Sepertinya sedang meresapi kata-kata Opri. Ditengah keheningan itu ada satu orang yang menelusup disela-sela orang-orang yang berdiri dalam barisan yang sangat rapat. “Permisi, permisi…” katanya. “Kasih saya jalan….. kasih saya jalan.”

Akhirnya orang itu sampai juga ke barisan paling depan. Berhadapan langsung dengan panggung tempat Opri berdiri. Lalu orang itu bertanya dengan polosnya “Lho… artisnya mannah?”

“Artis apa-an, Pak Mergy?” balas Opri.
“Lho, katanya disini ada dangdutan?” Jawabnya.

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa demo sering disalahartikan sebagai melakukan tindakan diluar kendali. Rame-rame. Merobohkan pagar pabrik. Mensweeping orang yang giat bekerja. Memaksa orang lain berhenti bekerja. Menghentikan produksi pabrik. Mengajak para pekerja nggak menghasilkan apa-apa. Tapi mereka minta naik gaji? Aneh. Bukan demo seperti itu yang ingin mereka lakukan di kubikal. Mereka ingin mendemo management supaya menaikkan kepercayaan dan imbalan buat mereka. Tapi. Caranya. Tidak seperti yang suka dilihat ditivi-tivi. Mereka ingin berdemo di kantor. Dengan menunjukkan bahwa mereka, punya kemampuan yang tinggi. Punya dedikasi yang tinggi. Dan punya segala hal yang pantas untuk dibayar lebih tinggi. Mereka menyebutnya sebagai Pekan Demo Karyawan.

Catatan Kaki:
Ketika Anda menunjukkan kinerja, kompetensi dan dedikasi tinggi; sebenarnya Anda sedang berdemo untuk membuka mata top managemen bahwa Anda layak mendapatkan kepercayaan dan bayaran yang lebih tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s