Natin #51: Karir Yang Stagnan

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ September 18, 2012 ⋅

 Kegembiraan dipromosikannya Jeanice tidak serta merta menjadi kegembiraan semua orang. Seneng sih mereka. Siapa yang nggak seneng coba, kalau punya teman ketiban naik pangkat. Tapi kalau mikirin diri sendiri. Duh, kenapa karir ini kok nggak gerak-gerak ya? Jalan ditempat. Alias stagnan.

Jujur ajalah. Udah kelamaan kerja begini-begini aja. Maunya kan ada peningkatan seperti orang-orang yang lainnnya. Seperti Jeanice-lah persisnya. Dengan promosinya itu, dia sudah naik ke tangga karir yang setingkat lebih tinggi. Dan itu. Artinya dia punya kesempatan untuk naik ke anak tangga berikutnya.

Campur aduk. Antara hepi untuk sahabat sejati. Dan miris kalau mikirin nasib diri sendiri. Setelah selama seharian kemarin haha hihi itu. Suasana di kubikal hari ini mendadak jadi sepi. Mereka masih datang tepat waktu sih. Masih saling melempar seyum dan sapaan renyah. Masih pada cantik seperti biasanya. Tapi. Kerasa banget kalau jadi pada rada pendiam.

Nggak cuman satu orang. Kalau boleh berlebihan ngomongnya pantes juga dibilangin ‘semua orang’ di kubikal jadi pada pendiam. Mereka sendiri juga merasakan hal itu. Baik pada diri sendiri. Maupun pada diri orang lain. Akhirnya, mereka jadi pada seperti orang asing gitu. Duduk dikubikalnya masing-masing. Pak pik pek ngerjain ini dan itu. Tapi, nggak ada keceriaan khas kubikal yang biasanya mereka ciptakan. Maap kata ni ya, jadi seperti suasana kuburan gitu deh. Sepi. Dingin. Dan mencekam.

Sekali waktu mereka merasa terganggu juga dengan kesunyian aneh itu. Nggak. Ini nggak mencerminkan kepribadian mereka. Tapi, mau gimana lagi. Suasana hati lagi nggak mood. Sudah sejak semalaman sih. Sehabis siangnya merayakan keberhasilan Jeanice. Mereka tiba di rumah. Lalu tiba-tiba saja didalam kamar mereka pada mikir; ‘kapan karir gue bisa menanjak seperti Jeanice?’ Nah. Pertanyaan itulah yang menyebabkan kegelisahan jiwa mereka. Sampai-sampai susah tidur segala.

Sesekali Aiti melirik ke kubikalnya Fiancy. Eh, nggak nyangka. Yang dilirik ternyata sedang melirik kearahnya juga. Mereka sama-sama kaget. Terus buru-buru membuang mata ke kertas kerja masing-masing. Tengsin banget kepergok nengok orang lain. Ajaib tahu nggak sih. Itu juga kejadian sama Sekris waktu dia melirik Opri.

“Lha, terus kapan kita lirik-lirikan kayak mereka, X?” kata Mbak Aster.
“Lah, kita sih sudah kadung ketuaan kali, Ter….” balas Mrs. X.
Sepertinya mereka sengaja mengatakannya dengan suara yang agak keras supaya kedengeran sama yang lain.

“Emangnya kalau udah tua kayak kita nggak boleh galau?” tanya Mbak Aster lagi.
“Galau apa-an?” hardik Mrs. X. “Masak sih gara-gara nggak dipromosi aja kok kalau…”

Aiti, Fiancy, Sekris dan Opri bukannya nggak denger apa yang mereka katakan. Cuman malas aja nanggapin. Lagi nggak ada hasrat sama sekali untuk ngebahas itu.

Mbak Aster sama Mrs. X sih nggak ada henti-hentinya ngomong. Biasalah ibu-ibu. Nggak rela kalau bakat ‘multi tasking’ yang sudah Tuhan berikan ini kalau disia-siakan. Jadinya sambil kerja ya sambil tembak-tembakan gitu. Ada kalanya Mbak Aster yang ‘ngoper bola’ terus di semes sama Mrs. X. Ada kalanya juga sebaliknya. Pokoknya jadi asyik banget deh saling nimbrung kayak gitu. Seperti berbalas pantun gitu deh. Kapan lagi, tahu nggak sih. Mumpung di kubikal lagi nggak ada orang lain yang mau ngomong selain mereka berdua.

“Tapi dulu elo juga kan gitu kan X,” kata Mbak Aster. “Elo mutung banget waktu nggak lolos seleksi supervisor kan?”

Orang-orang di kubikal pada ngelirik sebentar. Monyongin mulut. Terus berpaling lagi sambil menggerutu nggak jelas gitu.

“Yeee… kapan gue nggak lulus seleksi supervisor?” Mrs. X memasang tampang garang.
“Jadi elo berhasil dapat promosi supervisor toh?” ledek Mbak Aster.

“Nyindiiiir……” Opri nyeletuk. Sambil tetap melihat layar monitor desktopnya.
Kedua senior itu pura-pura nggak denger. Sedangkan para junior memasang senyum kecut karena merasa aspirasinya terwakili oleh celetukan Opri.

“Gue nggak pernah gagal dalam seleksi supervisor, Ter!” protes Mrs. X.
“Buktinya? Mannnnnah?” Mbak Aster menghentikan jari tangannya yang tadi sedang memencet-mencet keayboard desktop. Lalu sambil memasang wajah lucu katanya;”Kenapa sampai sekarang elo masih jadi kacung kayak gini?”

Kirain Mrs. X mau membalas. Atau menyangkal. Atau protes. Atau apalah gitu. Eh, dia malah mendekati kubikal Mbak Aster. Setelah dekat, dia bilang;”Boro-boro lolos seleksi Ter, gue kan masuk hitungan buat jadi calonnya aja kagak… haha hihi haa…..” suara tawanya seperti yang nggak bakalan bisa berhenti. Terus mereka sama-sama mengangkat tangan kanannya. Lalu satu, dua, tiga, mereka tos high five gitu. Terus. Mereka pada cekikikan lagi.

“Terus aja nyindir, terus…..” Opri udah semakin kegerahan.

“Loh, siapa juga yang nyindir elo, Pri?” Balas Mbak Aster dan Mrs. X. Lalu mereka cekikikan lagi.

“Lah, tadi elo pade ngomong apa?” Opri sudah berdiri sekarang. Nggak nahan deh rasa panas ditelinganya. Sekarang malahan rasa panas itu sudah meleleh sampai kedalam hatinya.

“Ups!” Mbak Aster dan Mrs X sama-sama menutup mulutnya.
“Elo salah omong tuch, X!” hardik Mbak Aster.
“Elo kali yang salah ngomong,” balas Mrs. X. Dia nggak terima kalau disalahkan sendirian.

Beberapa saat kemudian, Mbak Aster dan Mrs. X terlibat perdebatan yang hanya mereka berdua yang mengerti. Sementara orang-orang lainnya jadi pada geleng-geleng kepala.

“Jadi elo ngerasa kesindir ya?” kata Mbak Aster dan Mrs. X beberapa saat kemudian.
“Iya. Emangnya kenapa?” dagu Opri terangkat naik.

“Ooooh… kalau begitu….” Kata dua senior itu.
“Saya Aster,” sambung Mbak Aster.
“Saya X!” timpal Mrs. X.
“Dan kami: Aster-X!” mereka beteriak kompak banget. “Meminta mmmaaf!” katanya.

Opri dan teman-temannya yang hampir marah jadi ikut kegelian juga. Biar pun begitu, mereka berusahaan menyembunyikan lengkung tipis dibibir menahan tawa sambil berkata:”Nggak lucu!”. Lalu mereka buru-buru menyembunyikan tampangnya masing-masing.

Bagaimanapun juga mereka memahami jika Mbak Aster dan Mrs X itu sedang mentertawakan diri sendiri. Bukan nyindir atau ngeledekin mereka. Sebagai karyawan paling senior disitu, mereka sudah merasakan pahit dan manisnya bekerja. Sudah belasan tahun. Tapi sama sekali tidak ada peningkatan apapun selain kenaikan gaji rutin dan makin bertumpuknya pekerjaan.

Mereka mentertawakan diri sendiri. Karena perilaku orang-orang kubikal yang masih pada muda-muda itu kira-kira mirip seperti yang mereka alami bertahun-tahun yang lalu. Semacam sejarah yang berulang. Di kantor itu, sudah banyak karyawan yang masuk dan keluar. Kebanyakan sih masuk dengan penuh harapan. Tapi kebanyakan yang keluar tidak bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan. Kebanyakan lagi, orang yang pensiun dengan jabatan yang sama seperti ketika mereka memulai pekerjaan itu beberapa puluh tahun yang lalu. Mrs X dan Mbak Aster mentertawakan diri mereka sendiri. Soalnya, mereka pun sering bertanya dalam hati; ‘apakah gue akan berakhir masih seperti ini?’

“Gue nggak mau nasib karir gue berakhir seperti yang dialami oleh kedua nenek sihir ini…” Kata Aiti. Sambil nyengir.
“Ehh, sembarangan lo ya…!” Mbak Aster melotot.
“Masak sih Ti, gue udah setua itu…” protes Mrs. X.

“Nggaaaak….,” hibur Fiancy. “Masih muda kok, Mbak. Masih cantik-cantik….”
Hidung kedua senior itu mengembang.

“Kalau dilihat dari bulan….” Sambung Sekris. Kontan aja kedua senior itu langsung ngambek lagi.

“Ssssh… sudah-sudah. Jangan berisik mulu,” kata Aiti. “Bu Supervisor sudah datang…” tambahnya.

Jeanice, berjalan masuk ke kubikal. “Sudah siap, Galz?”
“Kami sudah siap Bu Supervisoooooor….” Kata mereka serempak.

“Iiiih, nggak usah gitu-gitu amat kali…” protes Jeanice. “Gue malah jadi nggak gini….”

“Gue rasa ajakan elo kali ini rada aneh deh, Jean!” kata Opri.

Protes Opri masuk akal juga sih. Emang rada aneh cara Jeanice mentraktir teman-temannya. Biasanya kalau orang dipromosi kan traktir teman di restoran. Eh, ini malah diajaknya ke Gym. Mentang-mentang body dia langsing banget deh.

“Eh, ini bukan ide gue…” katanya.
“Hah?” teman-temannya pada bengong.
“Natin….” Jeanice mengacungkan tangan jari telunjuk dan tengahnya.

Opri hampir saja protes. Tapi keburu ditarik sama Jeanice. “Udaah… ntar aja protestnya. Jam istirahat kita keburu habis…” katanya. Lalu mereka rame-rame pergi ke Gym.

Tempat Gym itu nggak jauh dari kantor. Cuman perlu menyeberang jalan. Terus masuk ke mall. Naik lift ke lantai 2, sampai deh.

Nggak sangka. Hari itu Gym penuh sesak. Agak aneh juga sih. Biasanyanya nggak serame itu. Nggak ada satu pun fasilitas fitness yang bisa di pake. Ujung-ujungnya mereka hanya bisa bengong. Jeanice jadi nggak enak sendiri. Meskipun teman-temannya bilang nggak apa-apa, tapi namanya yang punya acara kan pengen ngasih yang terbaik buat temannya. Kenyataannya mereka cuman bisa nonton orang lain di ruang mesin treadmill.

“Kita ke tempat lain aja yuk…,” Akhirnya Jeanice tidak tahan lagi. Nggak seharusnya dia memperlakukan teman-temannya seperti ini. Dia ingin mentraktir mereka dengan sesuatu yang istimewa. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Sok pasti dong, nggak bakal ada yang mau tinggal disitu. Mereka langsung setuju ajakan Jeanice.

“Dasar nih si Natin,” begitu gerutu Opri.

Ketika mereka hendak beranjak pergi, suara musik di Gym berubah menjadi pelan. Lalu suara musik itu digantikan oleh pengumuman dari resepsionis.

“Pengumuman untuk penghuni kubikal….” Katanya.
Mereka langsung terkesiap ketika mendengar kata ‘kubikal’. Jelas sekali pengumuman itu ditujukan kepada mereka.

“Sesuai pesan Natin, para penghuni kubikal diminta memperhatikan orang-orang diarea treadmill. Terimakasih.” Suara musik pun kembali terdengar. Seiring dengan menghilangnya suara resepsionis di pengeras suara.

“Cuma gitu doang?” teriak mereka.
Nggak ada yang jawab dong. Soalnya nggak ada yang tahu mesti jawab apa. Mereka cuman bisa terkurung dalam rasa penasaran. Lalu kembali memperhatikan orang-orang yang sedang treadmill. Kali ini, serius banget. Karena da misi yang jelas dari Natin.

Ada sekitar 20 mesin treadmill disitu. Semuanya terpakai. Perhatian mereka tertumpah pada semua orang di ruangan itu. Ada yang berjalan pelan-pelan. Ada yang berlari kencang sekali. Dan ada yang biasa-biasa saja. Setiap orang menyetel mesin treadmill dengan kecepatannya sendiri-sendiri. Ada yang berjalan di landasan datar. Ada juga yang memasang kemiringan tinggi. Ada yang sudah keringetan. Ada pula yang masih kering.

Mereka mengernyitkan dahi. Memikirkan. Apa yang Natin inginkan untuk mereka mengerti. Natin telah menjadikan mesin treadmill itu sebuah teka-teki. Untuk menjawab kegalauan mereka selama ini. Cukup lama mereka berada disitu. Memperhatikan satu per satu orang yang bertingkah polah diatas mesin treadmill itu. Lalu… pet. Tiba-tiba saja tivi yang berjejer didepan area treadmill mati. Yang pasti bukan karena listrik padam. Soalnya, lampu masih tetep nyala.

Hanya sebentar saja tivi-tivi itu mati. Tak lama kemudian layarnya berfungsi lagi. Namun sekarang bukan film atau beragam tayangan biasa lainnya yang muncul. Layar semua tivi itu sekarang hanya menunjukkan dua baris kalimat ini:

KARIR ITU SEPERTI MESIN TREADMILL, JALAN DITEMPAT, TAPI BEDA NILAI PENCAPAIANNYA

“Sekarang elo ngerti kenapa Natin ingin kita kesini, kan?” kata Jeanice.
Teman-temannya pada diam. Tapi mereka mengerti maksudnya. Natin ingin menunjukkan kepada mereka sebuah jawaban. Atas kegundahan dan kegalauan yang mereka alami soal karirnya yang stagnan.

Karirmu itu mungkin jalan di tempat. Sama seperti orang lain di kantormu. Kira-kira begitulah yang ingin Natin katakan. Tapi tidak berarti nilai pribadimu sama seperti orang lainnya di kantor itu. Melalui orang-orang di area treadmill itu Natin menunjukkan kepada mereka bahwa boleh jadi, saat ini karir kita memang sepertinya masih disitu-situ saja. Tapi seperti orang yang berjalan di treadmill itu, pencapaian kita masing-masing berbeda sama sekali.

Ada loh, orang yang ke gym. Terus pakai mesin treadmill. Tapi jalannya pelaaaaaan banget. Orang kayak gini nggak bakal keringetan meski sudah berjalan satu jam. Beda dengan orang yang berjalan lebih cepat. Lebih banyak kalori hasil pembakarannya. Sehingga meskipun dia tetap berada disamping si lamban itu, tapi dia bisa mencapai hasil yang jauh lebih banyak. Dikantor juga begitu. Ada loh orang yang kerjanya leleeeeet banget. Pastinya pencapaian orang ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang gesit. Meskipun raga mereka sama-sama di kubikal itu, tapi mereka menghasilkan perbedaan besar.

Ada orang yang menyetel landasannya menanjak. Kalau dipikir-pikir, ngapain dia pakai seting menanjak? Kan jadi berat. Ternyata, orang yang berjalan menanjak itu bisa membakar lebih banyak lemak dari pada orang yang berjalan dijalur datar. Sehingga dalam waktu yang sama, dan kecepatan yang sama; dia bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar. Sama persis dengan kantor kita. Orang-orang yang mau ‘bersusah-susah’ dengan mengerjakan tugas-tugas yang lebih menantang, biasanya belajar lebih banyak daripada mereka yang hanya mau mengerjakan tugas-tugas yang gampang.

Ada orang yang sengaja memasang kemiringan landasan maksimal. Lalu dia berlari diatas mesin treadmill itu. Makanya dia bisa lebih cepat berkeringat dalam waktu yang sangat singkat. Seperti orang-orang yang sengaja menantang dirinya sendiri dengan pekerjaan-pekerjaan paling sulit dan beresiko di kantor. Mereka itu biasanya menjadi orang yang paling cepat meraih sesuatu. Kalau orang yang nyantai aja butuh waktu 10 tahun untuk meraih sesuatu, maka orang yang rajin menantang diri dengan pekerjaan yang memaksanya mengerahkan seluruh daya diri mungkin hanya membutuhkan waktu 5 tahun saja. Atau lebih singkat lagi.

Hari itu, orang-orang kubikal mendapatkan pelajaran baru. Meskipun tidak ada guru yang mengajari. Tapi mereka bisa melihat metafora dari mesin treadmill di pusat kebugaran itu. Masing-masing mengambil hikmah dengan caranya sendiri. Hingga tak seorang pun bisa berkata-kata. Sekarang, mereka sudah bisa menemukan jawaban atas kegundahan hati mereka tentang karir yang sepertinya tidak mau beranjak ini.

Disaat sedang pada merenung itu, seseorang menyeruak ke tengah kerumunan.
“Lho, kok kalian ada disini?’ katanya.
“Lah, Bapak sendiri ngapain kesini?” Balas Opri.
“Saya disuruh Natin kesini,” jawab Pak Mergy. “Kalau kalian, siapa yang suruh?”
“Ya saaaama lah Pak…” Ceplos Opri. “Natin kan tahu siapa yang sedang galau dengan karirnya yang mandek….”
“Eh, jangan sembarangan nuduh karir saya mandek ya…” Protes Pak Mergy. “Saya sudah jadi Manager lho ya… ingat itu.” Tambahnya.
“Iya deh… Bapak sudah jadi Manajeeeeer….” Opri mengalah. “Tapi, kenapa setelah itu Bapak nggak naik-naik lagi ya…..?”

Wajah Pak Mergy agak memerah.
“M-makanya..eh..” katanya malu-malu. “Natin menyuruh saya kesini…he….”

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa posisi yang tidak naik-baik itu sama sekali bukanlah pertanda bahwa karir kita stagnan. Kata Natin, kualitas profesionalisme kita itu sama sekali tidaklah ditentukan oleh kenaikan jabatan semata. Melainkan oleh kesanggupan kita untuk terus menantang diri sendiri dengan tanjakan yang berat melalui keberanian untuk menangani tugas-tugas sulit. Juga oleh kecepatan kita dalam menyelesaikan suatu penugasan. Kalau soal jabatan, jumlahnya pasti terbatas. Tapi soal mengoptimalkan potensi diri, nggak ada kata terbatas. Maka wajar jika sekarang kita terus mengasah kemampuan. Agar ketika kesempatan itu datang, kita sudah siap meraihnya. Apakah kesempatan itu di lingkungan internal. Atau ditempat lain. Itu tidak masalah. Selama kita sudah berhasil mempersiapkan diri untuk menggapainya.

Catatan Kaki:
Jika karir kita belum meningkat, itu bukan pertanda kiamat. Tapi jika kemampuan kita tidak bertambah baik, itu menandakan kalau karir kita akan segera menemui jalan buntu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s