Melihat Dari Posisi Yang Lebih Tinggi

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ October 22, 2012 ⋅ Post a comment

Tidak ada yang melihat Opri.
Tadi dia ada disini. Waktu orang-orang di kubikal mau pergi makan siang dia masih ada. Cuman nggak mau diajak makan bareng. Ya udah ditinggal aja kalau emang lagi nggak mood makan. Lagian juga badannya sudah mengkal gitu juga. Nggak usah khawatir bakal mengalami penyakit busung lapar deh.

Sepulang dari makan siang, orang-orang mendapati meja Opri kosong. Mungkin dia kepengen menyendiri. Pergi makan siang nggak bareng teman. Ya udah. Dihormati dong keinginannya untuk menjaga privacy. Eeh.. jangan-jangan dia janjian makan siang sama cowok… Makanya, pura-pura nggak mau makan padahal menyelinap pergi setelah suasana di kubikal sepi. Tapi… aaah… nggak mungkin. Itu bukan gayanya Opri.

Sampai sesore ini. Opri belum juga menampakkan batang hidungnya. Soal menghilangnya Opri ini jelas menjadi ujian berat juga buat Jeanice. Ketika bossnya bolak balik menelepon Jeanice soal pekerjaan yang mesti diselesaikannya segera, eh Jeanice malah kehilangan salah satu dari staff seniornya yang paling bisa diandalkan. Padahal, pekerjaan itu nggak bakal selesai tepat waktu kalau ada satu saja anggota teamnya yang mangkir. Lha, ini. Opri menghilang nggak jelas juntrungannya begini.

Jeanice sudah berkali-kalau meneleponnya. Tapi tidak ada jawaban lain selain bunyi tulalit. Mungkin dia sengaja mematikan teleponnya. Apalagi SMS dan ping atau apapun yang berkali-kali dikirim ke dia juga nggak ada yang dibalas. Ada apa sih dengan anak ini? Orang-orang di kubikal pun mulai gelisah. Nggak biasanya si tomboy itu bertingkah seperti itu.

Jam empat sore. Jeanice mengumpulkan orang-orang. Lalu,”gimana, tugas elo udah pada selesai semua belum?” katanya.

“Boro-boro Jean,” tukas Aiti. “Kepala gue aja masih mumet kayak gini,” katanya. “Bentar lagi deh Jean…” tambahnya.

“Gue sih nggak keberatan kasih waktu bentar lagi,” jawab Jeanice. “Tapi kalau bentar laginya nggak jelas kayak gini, ya… gimana ceritanya coba?” dia melanjutkan. “Gue juga kan mesti punya gambaran, kapan kita bisa menyelesaikan pekerjaan ini?”

“Gue ngerti Jean,” timpal Fiancy. “Tapi kan kalau pas serba ribet gini kita juga nggak tahu bakal selesainya kapan…” dia seolah menguatkan argumen Aiti.

“Jadi yang lain juga pade belum jelas selesainya kapan?” Jeanice melihat ke semua orang.
Udah jelaslah, pasti mereka bilang “Belon….” Atau geleng kepala sambil senyum kecut gitu.

“Kalau pun kita udah selesai, bagian yang dikerjain si Opri gimana urusannya tuch Jean?” Tanya Sekris.

“Sebaiknya elo nggak usah ngurusin dulu orang lain deh Kris. Mending sekarang elo focus sama urusan yang mesti elo selesein dulu,” Jawab Jeanice. Ini adalah kejadian pertama bagi Jeanice mendapatkan tekanan yang begitu berat sebagai supervisor. Selama ini, dia bekerja bagus. Tapi sekarang, Jeanice bukan lagi seorang staff yang hanya bertanggungjawab untuk menyelesaikan bagiannya sendiri. Sekarang dia adalah pemimpin yang bertanggungjawab terhadap kinerja setiap orang dalam kelompok yang dipimpinnya.

“Haduh, pusing gue kalau begini caranya…” kata Jeanice.
“Lah, yang kepengen dipromosi kan elo-elo juga, Jean…” timpal Fiancy. “Nggak ada yang maksa elo buat jadi supervisor…” tambahnya.

“Nah, nah, nah.. udah mulai ngaco nih ngomongnya…” protes Jeanice.
“Yang ngaco itu elo Jean…,” Pernyataan Sekris lumayan menohok juga.
“Lho, kok jadi gue yang ngaco?” Jeanice makin tersudut. Semua orang di kubikal seperti sedang menghakiminya.

“Ya iya dong Jean, elo yang ngaco…” Sekris bersikeras.
“Dimana ngaco-nya gue?” Tantang Jeanice.
“Ngaconya elo itu…” Mbak Aster menimpali. “Elo mengucapkan kalimat-kalimat negatif didepan anak buah elo…” tambahnya.

“Kalimat negatif yang mana?” Jeanice kembali protes.
“Lha, lupa kan?” balas Sekris.
“Itu lho Jean,” Mbak Aster bicara lembut sekali. Faktor umur memang pengaruh banget sama kematangan emosi. “Elo bilang ‘Haduh, pusing gue kalau begini caranya’… itu lho…” katanya. “Sebagai pemimpin, elo nggak pantes bicara begitu didepan anak buah elo….” Mbak Aster berhenti sejenak. Lalu, “Itu merusak kredibilitas diri elo sendiri…” tambahnya.

“Dan menurunkan semangat anak buah elo…” tambah Sekris.
Jeanice bengong. Hampir saja dia membuat argumen baru untuk membela diri. Tapi, dia segera menyadari jika itu tidak ada gunanya sama sekali. Dia menarik nafas dalam. Kemudian, “Padahal, gue nggak bermaksud begitu….” Gumamnya.

“Gue tahu kok Jean, elo nggak bermaksud begitu…” kata Sekris. “Cuman ya elo mesti maklum juga kalau itu kerasa banget sampai kedalam hati.” Tambahnya.

Jeanice menatap wajah sahabatnya.
“Apalagi gue perhatikan beberapa hari ini elo sering banget menumpahkan stress elo ke kita-kita….” Sekris menambahkan lagi. Teman-temannya yang merasa terwakili ikut manggut-manggut.

“Hah? Gue nggak niat begitu kali, Kris…” kata Jeanice. “Please believe me…”
“Kita percaya sama elo Jean,” sela Fiancy. “Tapi kita nggak kepengen elo menjadi atasan yang seperti orang lainnya. Elo mesti lebih baik dari mereka Jean.”

“Iya Jean. Elo itu symbol kemenangan kubikal. Makanya, elo nggak boleh terbawa arus perilaku atasan-atasan yang lainnya…”

“Tugas gue berat banget, Gals…” kata Jeanice. “Gue nggak nyangka kalau bakal seberat ini…” tambahnya.

“Ya pasti beratlah Jean…” kata Aiti. “Tapi elo mesti kuat.” Tambahnya. “Kalau elo mengeluh, apalagi anak buah elo….”

“Jadi gue nggak boleh curhat lagi ya….?” Wajah Jeanice menerawang.
“Jean… kita masih tetap boleh curhat-curhatan seperti dulu…” Fiancy memegang tangan Jeanice. “Elo curhat apapun, kita bakal dengerin kok.” Lanjutnya. “Ini bukan soal curhat Jean….”

“Gue nggak bisa mikir lagi sekarang Fi…” balas Jeanice.
“Bagus Jean,” kata Mbak Aster. “Itu artinya elo udah mikir maksimal.”
“Tapi hasilnya apa, Mbak?” Tanya Jeanice. “Pekerjaan ini penting. Tapi kita nggak bisa menyelesaikannya. Gue udah gagal……”

“Jean. Pekerjaan ini bukan cuman penting buat elo. Tapi buat kita semua juga,” kata Aiti.
“Percayalah Jean, kita bakal bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik,” timpal Sekris. “Yang penting, elo mesti bisa menjadi atasan yang beda dengan atasan-atasan lain yang lain kita kenal…..”

“Jadi gue mesti gimana, dong?’ Tanya Jeanice.
“Emh….” Semua orang saling pandang. Mesti gimana dong? Kan Jeanice yang jadi atasan. Masak anak buahnya yang memberikan jawaban. “Please…?” kata Jeanice. “Gue kepengen banget jadi atasan yang bagus….”

“NAAAH!” semua orang serempak teriak begitu. Sampai jantung Jeanice nyaris copot karena kaget. “Itu yang mesti elo lakukan Jean…” kata mereka. Pokoknya nggak jelas banget deh.

“IYA APPPAAAAA?” Jeanice setengah kesal dan geli dengan ulah orang-orang aneh itu.
“Yaitu,” kata mereka. “Elo mesti jadi atasan yang bagus…”

“Yeee … kalau itu sih gue juga udah ngerti sejak zaman megalitikum,” protes Jeanice. “Caranya gimanaaaaa?”

Semua orang kembali diam. Mau gimana lagi. Mereka kan enggak pernah menjadi atasan. Dari pada sok tahu, mendingan diam aja dong. Biasanya kan begitu. Orang-orang yang sok tahu suka bilang ini itu. Kalau jadi atasan itu mestinya begini dan begitu. Padahal mereka nggak pernah ngalamin gimana jadi atasan itu. Mereka kira gampang jadi atasan. Makanya suka ngegampangin. Mereka merasa tahu cara menjadi atasan. Makanya suka sotoy. Sok tahu lutuye! Orang-orang di kubikal, nggak mau kayak gitu. Mereka memilih diam aja.

Lima menit berlalu. Tanpa suara sedikit pun. Mau gimana lagi? Semua orang pada nggak tahu mesti gimana. Biar ditahu-tahuin juga tetap aja nggak tahu.

“Ya udah deh… emang ini tugas gue,” kata Jeanice. “Sori teman-teman. Gue tidak seharusnya membuat elo mikirin ini. Gue yang mesti mikirin. Tapi gue seneng. Punya teman-teman yang perhatian seperti elo pade….”

Jadi inget upacara bendera di sekolah. Begitu komandan upacara bilang; “mengheningkan cipta, selesai!” langsung semua orang pada mengangkat kepalanya. Hihi lucu juga itu orang-orang di kubikal. Keheningan langsung berakhir begitu mereka selesai mengheningkan cipta.

“HAAAAAA?” begitu suara yang keluar dari mulut mereka. Semuanya pada kaget campur bingung. Tanpa disadari, selama mereka mengheningkan cipta itu, rupanya telah terjadi sesuatu. Tanpa mereka ketahui.

“Sejak kapan spanduk itu nempel disitu?” Tanya mereka.
Mereka yakin jika tadi, di ruangan itu nggak ada spanduk. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba saja spanduk itu sudah terpampang disana? Kapan dan siapa yang memasangnya. Ingin sekali mereka memecahkan teka-teki itu. Tapi apa daya, perhatian mereka langsung tersita oleh kalimat yang tertulis di spanduk itu:

DARI POSISI YANG LEBIH TINGGI
KITA BISA MELIHAT LEBIH LUAS DAN LEBIH JELAS

Semua orang tercenung. Kembali hening untuk beberapa saat lamanya.
“Menu Natin kali ini khusus buat gue…” gumam Jeanice. Dia sadar sekarang. Bahwa sebagai seorang atasan, dia harus bisa memiliki pandangan yang jauh lebih luas daripada anak buahnya. Sekarang dia mengerti. Mengapa sering pusing dengan tugas-tugasnya yang semakin bertambah berat dan banyak. Itu karena dia masih memandang segala sesuatunya dari posisi sebagai staff. Bukan sebagai seorang atasan.

Banyak orang yang kinerjanya bagus ketika masih menjadi staff. Tapi ketika diangkat menjadi supervisor atau manager, ternyata tidak bisa menghasilkan kinerja sebaik ketika mereka menjadi staff. Akhirnya mereka gugur pada masa percobaan. Atau tetap menjadi manager yang tidak memiliki nilai tambah apapun.

Tidak heran jika banyak manager yang bisanya hanya menuntut anak buah. Tapi mereka sendiri tidak bisa memberikan solusi yang dibutuhkan ketika anak buahnya menemui masalah. Banyak manager yang keras pada anak buahnya, tapi lembek kepada dirinya sendiri. Banyak juga manager yang menuntut anak buahnya berdisiplin tinggi, tapi mereka sendiri tidak disiplin. Jeanice mengerti sekarang. Itu disebabkan karena mereka, tidak mempunyai ruang pandang yang cukup tinggi agar bisa melihat segala sesuatunya lebih jernih.

“Oke. Gue tahu elo pade mumet. Sekarang, kita keluar dulu,” kata Jeanice. “Kita ke warung Mak Minun sambil diskusiin jalan keluarnya…. Gimana?”

Nggak ada yang jawab.
Semua orang di kubikal masih pada manyun.

“Lho, kok malah pada bengong gitu sih?” kata Jeanice. “Nggak usah takut. Gue yang tanggungjawab. Ayo kita minum dulu….”

“Nggak mungkin Jean….” Kata mereka.
“Hlo, nggak mungkin gimana?”

“Masak sih hanya untuk Jeanice sendiri. Sejak kapan Natin bertingkah tidak adil begitu?” Rupanya mereka masih pada mikirin. Apa makna pesan dari Natin buat mereka.
“Ya udah, makanya kita istirahat dulu. Ntar kita pikiran bareng-bareng,” Jeanice setengah membujuk.

“Jangan ke warung Mak Minun…” kata Sekris. “Kita ke atap gedung aja…” tambahnya.
HHHAAAA? KE ATAP GEEEDUNG?!!!!! Semua orang khawatir kalau-kalau Sekris sedang kesambet. Tapi, dia bisa meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Dan dia bilang kalau untuk memahami pesan Natin itu mereka mesti naik ke atap gedung.

Entah dari mana datangnya gagasan itu. Yang jelas, kegilaan itu tidak bisa dicegah. Semua orang malah pada setuju usulan Sekris. Mereka pun berjalan mengendap-endap. Lalu menuju ke lokasi tangga darurat yang membawa mereka akses ke atap gedung perkantoran itu. Ada tulisan ‘restricted’. Terlarang banget. Tapi, mereka sudah kadung niat. Mereka pun meneruskan pendakiannya.

Setelah susah payah itu. Akhirnya mereka sampai juga di puncak tertinggi gedung itu. Atap gedung pencakar langit! Ini gila. Yang lebih gila lagi, mereka mendapati sebuah tenda disana. Tenda itu membuat mereka bertanya-tanya; siapa orang yang cukup gila untuk naik kesitu selain mereka sendiri. Rasa penacaran mendorong mereka ngintip kedalam tenda itu. Mereka lebih terkejut lagi ketika mendapati bahwa didalam tenda itu mereka menemukan… Opri!

“Hah? Lagi ngapain elo disini, Pri?” Tanya mereka tanpa basa-basi. Kehebohan pun terjadi beberapa saat.

“Gue sembunyi disini kalau lagi kangen…” kata Opri. Dia itu sejak zaman SMA sampai kuliah paling senang mendaki gunung. Kalau perlu pergi sendirian saja. Ditempat yang tinggi itu, dia sering merasakan kedamaian dan ketentraman. “Seperti lebih dekat dengan Tuhan…” katanya.

Teman-temannya nggak nyangka, kalau orang seperti Opri memiliki spiritualitas setinggi itu.

“Tapi lain kali elo ngomong dong Pri…” kata Jeanice. “Bagaimanapun juga gue bertanggungjawab untuk memastikan kalau…”
“Tugas gue selesai, begitu?” Potong Opri.
Jeanice terhenyak. Dia membatin. Sudah sedemikian buruknya citra kepemimpinan yang tertanam dihati orang-orang? Sebuah ujian atas kualitas dan cara dia memimpin orang-orang itu.

“Bukan itu saja,” kilahnya. “Tapi keselamatan elo juga,” dia menambahkan secara diplomatis.

“Tuch di tenda.” Kata Opri. Semua tugas bagian gue sudah selesai…” lanjutnya.
Semua orang pada bengong. Ternyata, mereka kalah jauh oleh Opri.
“Elo pade belum selesai kan?” Opri berkata setengah meledek teman-temannya. “Sini, ikut gue… “ katanya.

Lalu mereka pun membuntuti Opri. Mereka berjalan ke sisi barat atap gedung. Angin sepoi membelai rambut mereka yang terurai seolah tengah melambai. Lalu, “lihat…” Opri menunjuk langit di ufuk barat. Semburat merah jingga membentang si sepanjang kaki langit. Seperti selendang sutera yang tengah melilit matahari senja yang telanjang bulat.

“Ya ampuuuunnn…” mereka hanya bisa mengatakan itu. Selebihnya, sekujur tubuh mereka dibalut oleh kekaguman atas keindahan pemandangan itu. Dari tempat yang tinggi itu, mereka bisa melihat keindahan yang tiada tara. Untuk sementara waktu, mereka terkesima dengan suguhan alam semesta itu. “Subhanallah…” katanya. Entah siapa yang bilang begitu. Angin sepoi mengaburkan suaranya.

Disela kekaguman itu mereka mendengar suara riuh rendah dari arah bawah. “Sini…,” kata Opri lagi. Mereka pun kembali mengikutinya. Kali ini Opri membawa mereka ke pinggir selasar. Dimana mereka bisa melongokan kepalanya ke bawah. Dari situ mereka bisa melihat apa yang terjadi dibawah. Orang-orang berlalu lalang. Sudah jam 5 sore. Para pekerja itu berhamburan keluar dari kantor. Melintasi taman depan. Kemudian berjalan menelusuri trotoar. Orang-orang itu sama sekali tidak menyadari jika ada sekelompok orang aneh yang mengawasi dari atap gedung.

Mereka bisa menangkap semua tingkah laku orang yang ada dibawah. Macem-macem banget. Lucu. Menggelikan. Dan… membuat mereka sadar. Bahwa, sungguh mudah untuk melihat segala sesuatunya dari posisi yang lebih tinggi.

“Ini yang Natin maksudkan di spanduk itu,” kata mereka.
“Natin bilang apa?” Tanya Opri.

DARI POSISI YANG LEBIH TINGGI… KITA BISA MELIHAT LEBIH LUAS DAN LEBIH JELAS

Opri manggut-manggut. Sebagai mantan pendaki gunung, dia memahami benar makna pesan itu. Luas. Dan dalem. Tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi, selama kita memposisikan diri lebih tinggi dari masalah itu. Tidak ada tantangan yang tidak bisa diselesaikan, selama kita memposisikan diri lebih tinggi dari tantangan itu. Karena dari posisi yang lebih tinggi, kita bisa melihat lebih luas dan lebih jelas.

Ketika sedang asyik merenung itu, mereka dikejutkan oleh teriakan seseorang. “Hiiiy ngeri baangeeeet….” Katanya. Mereka menengok kearah seseorang yang tengah gemetaran sambil berjongkok.

“Pak Mergy?” teriak mereka serempak.
“Sedang apa disini?” Tanya mereka.
“A-anuu… hhh….. saya sedang….hhhh…” katanya.
“Membuntuti kami ya?” kata orang-orang sambil tertawa.
“Wohoooo, bb-bukaannn…” sangkalnya. “Saya cuman pengen liat sunset kok…” katanya sambil terus memeluk lututnya sendiri yang gemetaran.

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa untuk bisa mengatasi setiap tantangan dan rintangan dalam hidupnya, seseorang mesti belajar untuk melihatnya dari posisi yang lebih tinggi. Bukan berarti harus selalu naik ke menara. Melainkan mengubah sudut pandang. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah. Jika sudut pandang kita setara dengan masalah itu. Kita mesti mengubah sudut pandang, ke posisi yang lebih tinggi. Ketika cara pandang kita lebih tinggi dari situasi yang kita hadapi, maka kita bisa menguasainya. Dan kita bisa menemukan jalan keluar yang tidak bisa terlihat sebelumnya. Dari atas, kita bisa melihat setiap sudut ruang dibawah seperti sedang melihat sebuah maket. Kita bisa melihat semua jalannya. Setiap gang sempitnya. Kelokannya. Semuanya. Kita bisa melihat jalur padat. Jalur kosong. Ruang aman. Ruang beresiko. Segalanya. Bisa mereka lihat lebih mudah. Dan. Kita pun bisa melihat perilaku orang-orang yang berlalu lalang disitu. Dari yang normal. Sampai yang paling aneh. Dari posisi yang lebih tinggi itu segala sesuatunya terlihat dengan gambang. Oh, betapa mudahnya bagi Tuhan untuk melihat setiap perilaku kita….

Catatan Kaki:
Jika ada masalah yang sulit diselesaikan, mungkin kita perlu menaikkan sudut pandang ke posisi yang lebih tinggi. Agar bisa melihat jalan keluar lain, yang sebelumnya tidak kelihatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s