Loyalitas

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ September 28, 2012 ⋅

Suasananya seru banget.
Maklum. Itu adalah hari pertama buat Jeanice memimpin briefing. Sebenarnya bukan pertama kali dalam karirnya selama bekerja disitu. Karena selama ini juga dia sudah terbiasa sih sebenarnya. Gantian aja dengan teman-teman lainnya. Kalau ada briefing yang jadi PIC-nya giliran. Tapi briefing kali ini beda banget. Soalnya, yang pertama dilakukan dalam posisinya sebagai seorang supervisor.

Nggak gampang loh. Grogi juga ternyata. Nggak tahu kenapa ya. Pokoknya ada yang aneh aja deh. Mungkin orang lain tidak merasakan hal itu. Tapi didalam hati, Jeanice bisa merasakannya. Kalau diperhatikan baik-baik, mungkin akan ketahuan juga kalau dia itu sedikit gemetaran.

Kalau teman-teman lainnya, menganggap jika briefing kali ini sangat istimewa sekali. Selain karena dipimpin oleh supervisor baru, juga karena supervisor baru itu adalah teman sendiri yang selama ini sudah dekat banget sama mereka. Jadi semacam perayaan gitu deh. Nggak peduli kalau dibilangin perayaannya nggak habis-habis. Makanya, mereka antusias banget mengikuti briefing itu.

Kayaknya nggak ada deh briefing pagi yang seseru itu. Biasanya, kita tahulah kayak apa suasana briefing dengan atasan. Yang penting datang aja deh. Sambil ngantuk-ngantuk juga nggak apa. Tapi kali ini nggak bisa begitu. Bukan nggak bisa. Nggak tertarik aja untuk begitu. Pokoknya semangat 45 banget deh.

Selain merasa dengan teman sendiri, tampaknya Jeanice juga berhasil menunjukkan jika dia bisa membangun jembatan emosi yang sehat dengan orang-orang di kubikal. Berkomunikasi secara dua arah. Mempersilakan teman-teman menyampaikan pendapatnya secara leluasa. Juga boleh mengajukan usulan. Kalau perlu ketidak sepakatan. Makanya breifingnya nggak bikin boring.

Selama briefing itu, Jeanice meminta Aiti mencatat hasil pertemuan. Lalu mereka sama-sama membuat komitmen untuk menjalankan apa yang sudah disepakati. Biar nggak cuman jadi omong besar aja. Biasanya kan gitu. Di ruang rapat iya-iya aja. Eh, pas udah keluar nggak peduli dengan tindaklanjutnya.

“Oke ya teman-teman, kita sepakati dulu aturan mainnya…” kata Jeanice.
“Yo-i Bu Supervisooooor……” teriak teman-teman.
Jeanice melotot. Dia paling nggak kepengen dipanggil Bu supervisor. Jadi dipasangnya wajah cemberutnya sekali lagi.
“Iya, Iya…. maaf… kita salah lagi. Maklum kita kan kepengen menghormati Bu Super.. eh… boss kita,”

“Gue juga nggak perlu disebut boss kali ya…” sergah Jeanice.

“Maaf Bu Super… eh Bu Boss.. ehm.. eh, emmh Jean….” Sekris berpura-pura gugup. “Gue minta ijin mau ke pantry dulu. Gue lupa bawa minum…” katanya.

Permintaan ijin Sekris disambut suara ‘huuu…’ dari temen-temennya.
“Gue tadinya nggak kepengen minum,” katanya sambil agak cemberut gitu deh. “Cuman sekarang tenggorokan gue rasanya seret banget… ya… please…..” Mata belonya menatap Jeanice sambil menggenggam jemarinya.

“Ya udah. Sekali ini gue ijinkan,” kata Jeanice. “Lain kali elo pade nggak ada yang boleh cari-cari alasan buat keluar disaat briefing sama gue…. deal?!” lanjutnya.

“Oke boss… emh… Jean…” Sekris melonjak kegirangan.
“Aturan itu berlaku untuk elo, elo, dan elo juga…..” Jeanice menatap teman-temannya satu persatu.
“Iya….. kami mengerti Bu Super… eh… Jeaaaaaann……” paduan suara itu berkicau lagi.

“Oke, kalau begitu kita teruskan briefingnya…” Jeanice kembali kepada pokok pembicaraan yang tadi sempat tertunda. Mereka baru saja membahas dua atau tiga poin penting ketika bunyi ‘blung blung blung…’ terdengar dilantai. Bukan cuman bunyi aja. Tapi getarannya juga kerasa banget.

Semua orang juga tahu kalau itu indikasi jika si Bongsor sudah balik dari pantry. Tapi yang bikin semua orang heran adalah; kenapa dia mesti pake lari-lari segala? Kan dia bisa berjalan biasa aja. Nggak perlu sampai membuat seluruh kubikal seperti terserang gempa bumi kayak gitu kaleee….

Benar saja.
Beberapa detik kemudian pusat gempa bumi itu tiba di ruang briefing.
“Elo kenape sih Kris?” begitu sambutan Opri tepat ketika wajah bundar gadis itu nongol dipintu.

“Emangnya elo barusan dikejar-kejar setan?” Sambung Fiancy. Semua orang jadi pada bingung gitu deh. Soalnya muka Sekris nyaris pucat pasi.

“Elo baik-baik aja kan, Kris?” Sapa Jeanice.
“Hggh… hhh gueh… gueh sih nggak apa-apa Jean… cuman….” kata-katanya terpotong oleh acara menarik nafas panjang. “Itu loh..hhh… Natin…”
“Natin kenapa?” Fiancy langsung nyamber…..
“Nggak perlu panik gitu kali Fi…..” Sindir Aiti.
Kontan aja Fiancy jadi cemberut. “Elo jangan cari gara-gara ya Ti!” bentaknya. “Siapa juga yang panik……”.
“Yeee elo nih gimana sih,” hardik Sekris. “Tadi elo pade nanya gue. Eh giliran gue mau jawab malah pada berantem gitu…”
“Udah, udah….” kata Jeanice. “Elo tenang dulu deh.” Lanjutnya sambil menatap Aiti dan Fiancy. “Jadi kenapa elo kok seperti dikejar-kejar hantu gitu?” sekarang dia berbalik ke arah Sekris.

“Natin, Jean….” jawab Sekris.
“Iya, Natin kenapa?” desak Jeanice.
“Dia bilang… “ Sekris terlihat agak ragu. “Kita nggak perlu… anu…”
“Hiiih, susah amat sih ini anak. Ngomong aja kenapa sih lo Kris!” Opri nyaris hilang kesabarannya.
“Natin bilang kita nggak perlu apa, Kris?” sambung Jeanice.
“Kita nggak perlu loyal kepada perusahaan….” akhirnya Sekris bisa menyelesaikan kata-katanya.

“HAAAAAAHHHHH?” semua orang pada ternganga. Nggak ada kecuali. Pokoknya semua mulut pada terbuka lebar gitu deh.
“Masak sih, Kris?” Tanya Fiancy. Kelihatannya dia nggak percaya kalau Natin bilang begitu. Mustahil aja kalau orang yang selama ini selalu memberi semangat dan energi positif kok malah mengatakan kalau kita nggak perlu loyal kepada perusahaan.

“Gue juga nggak yakin kalau Natin bilang gitu…” Aiti menyambung.
“Nggak mungkin….” Mbak Aster dan Mrs. X kompakan dengan komentar yang berbarengan.
“Kalau menurut gue sih, mungkin aja kali….” cuman Opri yang nyantai aja. Kayaknya emang dia nggak terlalu pusing dengan semuanya itu. “Mungkin aja dia udah bosen dengan pekerjaannya jadi office boy….” ceplosnya lagi.

“Ya nggak mungkinlah Pri…” sanggah Aiti. “Orang dikasih jabatan tinggi aja dia nolak kok…. Nggak mungkin orang seperti Natin sebel sama pekerjaannya….”

“Iya tapi kenapa dia ngomong nggak usah loyal ke perusahaan kalau emang dia suka sama pekerjaannya?” Balas Opri.

“Jangan-jangan….” Sekris mengacung-acungkan jari telunjuknya… “Natin mau pindah kali ya….?”

“HAAAAAA? Natin MAU PIIINDAAAAH…..”
Nah. Kalau itu urusan serius. Kalau sampai Natin pindah ke perusahaan lain, mereka nggak tahu lagi deh. Bakal seperti apa masa depan kubikal. Nggak kebayang aja menjalani hari-hari kerja tanpa penyemangat seperti Natin. Mungkin suasananya akan kembali seperti masa-masa ketika Natin belum datang. Boring. Dan dingin seperti kuburan.

“Elo yakin Natin bilang begitu Kris?” suara Jeanice menghentikan semua respon histeris. “Elo salah denger kali…” lanjutnya.
“Gue nggak denger Natin bilang gitu Jean…” jawab Sekris.
Langsung aja di ‘huuuu…’-in lagi sama teman-temannya. “Kalau elo nggak denger Natin ngomong gitu terus kenapa elo ngomong gitu….!” beberapa potongan kertas yang digulung melayang kearahnya….
“Sudah, sudah… nggak perlu gitu-gitu amat kali…” Jeanice kembali menengahi.
“Emang!” kata Sekris dengan nada membela diri. “Natin nggak ngomong,” katanya lagi. “Tapi dia menulisnya di white board hari ini.”

Semua orang pada bengong.
Hampir nggak percaya kalau white board yang biasa digunakan untuk menu hari ini penuh inspirasi dari Natin itu sudah berubah fungsi menjadi alat provokasi.
“Ada orang lain yang nulisin kali?” Sergah Fiancy. Dia masih nggak percaya jika Natin mengatakan itu.
“Nggak…deh Fi. Kita semua kan tahu tulisan Natin kayak apa…” Sekris berusaha meyakinkan.

“Gue rasa ini memang masalah yang cukup serius,” begitu Jeanice menimpali. “Pak Presiden Direktur pasti marah kalau itu bener-bener tulisan Natin.”

Jeanice punya cukup alasan untuk mengatakan itu. Secara perusahaan sedang gembar-gembor soal loyalitas karyawan, eh kok Natin malah ngomong yang sebaliknya. Padahal, kata-kata Natin sering lebih bertuah daripada nasihat dari top management.

“Ya udah… kita break dulu briefingnya…” kata Jeanice. “Biar lebih jelas, kita sama-sama ke pantry aja. Sekalian kita lanjutkan briefingnya disana sambil minum kopi….”

Tanpa diperintah dua kali, gerombolan itu langsung bergerak menuju ke pantry. Mereka penasaran banget. Apa iya Natin mengatakan agar karyawan tidak loyal kepada perusahaan.

Sesampainya di pantry, mereka melihat tulisan yang sangat jelas di white board itu. Tidak ada yang meragukan jika itu benar-benar tulisan Natin. Semua orang sudah hafal kok goresan-goresannya. Di white board itu tertulis begini:

Menu hari ini:
TIDAK PERLU LOYAL PADA PERUSAHAAN… BERIKAN SAJA DEDIKASIMU YANG TERTINGGI

“Sekarang gue mengerti,” kata Jeanice.
Semua orang menatap kearahnya. Sepertinya mereka berharap Bu Super eh,…emmh… bos… ups… sahabatnya yang baru diangkat menjadi supervisor itu bisa memberikan penjelasan.

Lalu dengan segenap daya cerna dan kedewasaannya Jeanice menerangkan apa maksud kalimat itu. Kita memang sering sekali dijejali dengan jargon-jargon soal loyalitas. Padahal kenyataannya, perlu dipikir ulang; apa iya ada karyawan yang benar-benar loyal kepada perusahaan? Boss tertinggi pun belum tentu. Malahan, banyak karyawan kelas atas yang sedemikian gampangnya pindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Padahal, mereka selama ini selalu berteriak-teriak soal loyalitas. Kenyataannya, mereka gampang tergiur kok dengan iming-iming gaji lebih besar atau jabatan yang lebih tinggi di perusahaan lain. Yang paling sering pindah kerjaan kan para boss kelas atas, bukan pegawai rendahan kayak kita-kita.

Ada juga orang yang loyaaaaal banget sama perusahaan. Tapi, itu terjadi karena nggak bisa menemukan perusahaan lain yang lebih baik. Atau nggak tahu mesti kemana lagi mencari sesuap nasi. Apa itu yang disebut loyalitas? Jujur deh pada dirimu sendiri. Apa iya ada loyalitas kepada perusahaan dilubuk hatimu yang paling dalam.

Ada yang lebih parah lagi dari itu. Karyawannya sih loyal banget sama perusahaan. Tapi dia tidak perform sama sekali. Emangnya perusahaan butuh karyawan yang loyal tapi nggak perform? Yang ada kan perusahaan kepengen banget ‘membersihkan’ orang kayak gitu. Banyak juga kan karyawan yang sudah nggak kepake perusahaan. Tapi mereka loyal banget. Sampai nggak mau mengundurkan diri.

Kata-kata Natin itu memang agak aneh. Mungkin juga bisa menimbulkan kontroversi. Natin dengan tegas mengatakan bahwa karyawan itu tidak perlu loyal kepada perusahaan. Sungguh bertolak belakang dengan pidato, pengarahan maupun nasihat-nasihat para pemimpin perusahaan. Para motivator pun banyak yang dengan gigih dan gagah beraninya mengatakan itu di ruang-ruang seminar.

“Terus, apakah Natin nggak manantang management?” begitu teman-teman menanyakan.
“Nggak,” jawab Jeanice tegas.
Jeanice bisa memahami maksud Natin yang sebenarnya. Ternyata, memang yang dibutuhkan oleh perusahaan dari karyawannya bukan semata-mata soal loyalitas. Kalau pun elo pade mau keluar. Pindah ke perusahaan lain, bahkan kompetitor sekalipun. Sungguh, perusahaan tidak bisa menghalangi. Kalau mau keluar, ya keluar saja. Dan tidak ada yang bisa dipersalahkan soal itu. Hak asasi. Jadi mesti dihargai.

Jadi apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh perusahaan dari para karyawannya?
Bener sih, idealnya perusahaan mendapatkan karyawan yang loyal. Tapi apa beneran ada karyawan yang bener-bener loyal. Kalau banyak manager yang keluar masuk perusahaan, siapa yang jamin karyawan lain nggak begitu. Kalau level direktur aja pindah-pindah juga terus dimana letak loyalitasnya. Banyak juga yang kutu loncat, kan? Tapi apakah mereka salah? Nggak. Sah-sah saja kok. Kan nggak ada yang bisa menghalangi. Apalagi sampai memberi sanksi.

Apa sebenarnya yang dibutuhkan perusahaan dari para karyawannya?
Kata Natin DEDIKASI YANG TERTINGGI. Itulah yang lebih dibutuhkan oleh perusahaan dari para karyawan. Percumeh, elo ngaku loyal tapi kebiasaan datang ke kantor telat terus. Omong kosong elo bilang loyal tapi kalau perusahaan bikin keputusan yang kurang menyenangkan elo kemudian mutung. Gak ada artinya elo ngaku loyal, tapi di jam kerja elo ngerjain urusan lain yang nggak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Berikan dedikasi elo yang tertinggi pada perusahaan. Maka elo, nggak bakal menyia-nyiakan amanah yang diberikan perusahaan kepada elo. Kata Natin, orang berdedikasi tinggi itu bisa diandalkan. Bisa diharapkan kinerja terbaiknya tanpa mesti diawasi. Itulah yang lebih dibutuhkan oleh perusahaan jaman sekarang. Kenape? Karena perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan orang-orang yang loyal, kerja belasan atau puluhan tahun tapi cuman bisa jadi benalu.

Kalau karyawan yang hanya komit kerja satu dua tahun tapi selama masa kerjanya yang pendek itu sanggup mengerahkan semua dedikasi terbaiknya… Oh, karyawan seperti itu yang dibutuhkan oleh perusahaan. Dan kepada karyawan yang berdedikasi tinggi kayak gitu juga perusahaan mau memberikan imbalan yang lebih baik. Lihat. Perusahaan yang loyal kepada karyawan. Bukan sebaliknya.

Natin bilang, karyawan nggak mesti loyal kepada perusahaan. Tapi karyawan wajib, musti bin kudu berdedikasi tinggi. Maka dengan dedikasi itu dia bisa berprestasi. Karena prestasi itu perusahaan sayang kepadanya. Terus diberi reward yang memuaskan. Karena reward itu memuaskan, maka karyawan itu makin betah kerja disana. Makanya dia nggak ada niat pindah pindah. Ngapain pindah kalau disini kerjaan sudah bagus dan rewardnya juga bagus? Dari komitmen cuman satu dua tahun, dia berdedikasi sampai sepuluh… sebelas… bahkan puluhan tahun hingga nggak kerasa mencapai usia pensiun.

Kata Natin. Hanya dengan cara itu loh kita bisa menjalani hari-hari kerja kita dengan penuh kepuasan. Yaitu kepuasan yang dilahirkan dari dedikasi tinggi. Yang menghasilkan kinerja tinggi. Menyebabkan imbalan yang tinggi. Lalu menciptakan ikatan batin yang tinggi antara karyawan dengan perusahaan.

Jadi. Kata Natin. Nggak penting lagi dengan jargon soal loyalitas itu. Sekarang, zamannya kita lebih mengedepankan dedikasi. Supaya kita selalu terdorong untuk bekerja sebaik-baiknya. Dan menghasilkan laba yang lebih baik buat perusahaan. Supaya perusahaan semakin sayang kepada kita. Sebab, hanya dengan dedikasi tuch yang macam begitu bisa kita wujudkan. Bukan dengan jargon loyalitas yang sulit dicari modelnya di dunia nyata…..

“Tapi kan Jean, semua perusahaan ingin karyawannya pada loyal….” kata Sekris.
“Ingin?” Jeanice seolah mengharapkan penegasan.
“Iya dong Jean, semua perusahaan ingin karyawannya pada loyal.” Sekris menampakan wajah yang serius.
“Nah kalau begitu,” jawab Jeanice. “Elo mesti belajar membedakan antara keinginanan dan kebutuhan…..” lanjutnya. “Ingin dan Butuh. Bedakan.”
“Maksud elo, sebenarnya semua perusahaan lebih membutuhkan karyawan yang berdedikasi tinggi daripada yang sekedar loyal gitu?” Fiancy menimpali.
“Pinter.” Jeanice mengacungkan jempolnya.

Semua orang sedang pada manggut-manggut ketika pintu pantry tiba-tiba terbuka.
“Waaaahhh… kalian ini gimana sih… waktunya kerja malah bergerombol disini….” kata seseorang yang masuk.
“Kita bukan bergerombol Pak…” sergah Opri. “Kita lagi briefing sama Bu Super… ehm… sama Jeanice…”

“Halah, mana ada briefing di pantry.” Ketus Pak Mergy. “Saya sudah kerja puluhan tahun disini. Nggak pernah ada tuch yang namanya briefing di pantry….”

“Bapak orang yang loyal dong Pak….” kata Opri.
“Ooooo ihiyyya dooong…. saya ini loyal banget sama perusahaan….. Loyyyal gitu loh.” Pak Mergy menepuk dadanya dengan bangga.
“Loyal sih loyal Pak…” balas Opri. “Kalau nggak punya dedikasi, mendingan ke laut aje kaleeee…..”
“Weit! Sembarangan. Ya iyya toh!” Pak Mergy langsung menjawab. “Saya ini orang yang paling berdedikasi diperusahaan ini….”
“Berdedikasi kok sering terlambat masuk kantor toh Pak….” kali ini ucapan Opri benar-benar menohok.

Wajah Pak Mergy jadi agak merah… “Kalau soal itu sih… eheh… harap maklumlah.. hehe…” katanya sambil nyengir.

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa loyalitas itu merupakan sebuah kata yang indah untuk diucapkan. Digembar-gemborkan oleh semua orang di perusahaan. Namun, pada kenyataannya hanya pemilik perusahaan yang benar-benar loyal. Sedangkan para karyawan? Mau di level apapun. Dari staff sampai Presiden Direktur sekalipun. Kalau perusahaan itu bukan miliknya sendiri, belum tentu benar-benar memiliki itu yang namanya loyalitas yang sebenarnya. Jadi, sekarang. Sudahlah. Berhenti berwacana soal loyalitas. Karena, kalau ada tawaran yang lebih menarik dari perusahaan lainpun kemungkinan kita akan pindah kok. Atau… kalau ada hal-hal yang mengecewakan di perusahaan pun kemungkinan kita akan langsung menyebar CV kepada para head hunter kok. Cukup soal loyalitas. Finitto. Tamatto. Sekarang, saatnya untuk lebih banyak mencurahkan dedikasi kepada perusahaan.

Sejak hari itu. Orang-orang dikubikal berkomitmen untuk memberikan dedikasi yang paling tinggi bagi perusahaan. Karena mereka percaya jika dengan dedikasi itu, mereka bisa berprestasi tinggi. Dan dengan prestasi tinggi itu, mereka akan mati-matian dipertahankan oleh perusahaan. Mungkin, dengan begitu mereka bisa bekerja lama disana. Kalau bisa, sampai masa pensiun tiba.

Catatan Kaki:
Meminta karyawan untuk memberikan dedikasi tertingginya kepada perusahaan jauh lebih masuk akal, daripada meminta mereka menjadi pekerja yang loyal.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s