Delegasi

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ October 15, 2012 ⋅

 Yang pasti.
Banyak hal baru yang Jeanice alami. Atau sekedar jadi lebih tahu.
Ketika masih menjadi staff, banyak hal yang tidak Jeanice ketahui. Banyak hal juga yang diajarkan oleh Natin namun masih belum kebayang. Selama ini dia hanya mengira kalau menjadi boss itu enak-enak saja. Ternyata, tidak selamanya enak. Malahan boleh dibilang lebih banyak tidak enaknya dibandingkan enaknya. Yaaa, terutama buat boss tanggung seperti dirinya. Pangkat supervisor itu gajinya naik cuman sedikit. Nggak jauh beda deh pokoknya sama teman-teman lain yang masih staff. Tapi kerjanya… yaaa ampuuuun. Perasaan beratnya nambah sampai bekali-kali lipat.

Sekarang Jeanice bisa mengerti. Kenapa para supervisor sering mengeluh. Sewaktu masih menjadi staff, dia sama sekali tidak bisa memahaminya. Masak sih orang udah dipromosi malah jadi loyo. Bukannya tambah semangat. Ternyata, setelah Jeanice mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi supervisor, oh… baru tahu deh.

Banyak supervisor yang nyaris frustrasi dengan jabatannya. Di mata anak buahnya, mereka tidak terlalu dianggap. Apalagi sama anak buah yang merasa dirinya lebih senior. “Siape lu? Anak kemarin sore nggak usah ngurusin gue deh!” Begitu katanya. Nyebelin banget kan?

Belum lagi anak buah yang merasa dirinya lebih mampu dan lebih berhak mendapatkan jabatan itu. Ngomongnya nyakitin hati banget. Ada yang nuduh kita penjilat lah. Ada yang bilang kita main belakanglah. Pokoknya macem-macem banget. Padahal mereka juga tahu kalau promosi jabatan itu dilakukan lewat proses yang terbuka dan fair. Tapi teteeeeep aja mereka yang nggak suka sama hasilnya melihat segalanya dari sisi negatif.

Jeanice masih beruntung. Karena dia bersaing ketat dengan teman-temannya sendiri. Yang dari awal juga udah komit nggak macem-macem. Dan bakal saling dukung nggak peduli siapapun yang terpilih jadi supervisor. Dia juga beruntung karena mendapatkan team yang terdiri dari teman-teman yang sejak dulu kompak. Jadi lumayanlah. Nggak terlalu bikin masalah. Coba dia ditempatkan di team yang lain? Mateng deh.

Dulu. Mana Jeanice tahu soal itu. Sekarang. Setiap hari dia kan ketemu sesama supervisor. Rapat. Dan curhat. Biasalah itu. Nggak cuman staff yang doyan curhat. Supervisor pun begitu juga kok. Cuman mereka rada jaim. Dan nggak mau kalau curhat-curhatan mereka ketahuan sama anak buah. Gengsi dong, bok! Lagian juga nggak bagus buat wibawa mereka didepan anak buahnya.

Ada juga sih supervisor yang nggak tahu tempat. Setiap hari komplen aja kerjaannya. Termasuk kepada anak buahnya. Nggak disebut namanya juga kali ya. Pokoknya ada deh. Kalau lagi briefing sama teamnya juga komplen. Soal target yang terus naiklah. Soal atasannya yang nyebelinlah. Soal tunjangan yang kecillah. Nggak sebanding dengan pekerjaan yang semakin berat, katanya. Mungkin dia mengira kalau ngomongin soal begituan sama anak buahnya bakal dapat simpati dari mereka kali ya? Kenyataannya tidak tuch. Kejadiannya malah sebaliknya. Dia nggak punya wibawa dihadapan anak buahnya. ‘Elu sendiri yang minta jabatan kan? Kenapa merengek?’

Bagaimana pun juga, Jeanice sangat beruntung. Kayaknya dia emang disayang sama malaikat. Selalu dijagain. Dan mendapatkan keadaan yang paling ringan beban mentalnya. Kalau beban kerja, nggak ada yang ringan disitu. Semuanya berat. Tapi, selama beban mentalnya nggak terlalu menekan kan lumayan banget dong. Itulah hikmah orang yang sabar dan rajin sembahyang. Enggak pentinglah cara sembahyang elo kayak apa. Pokoknya sembahyang aja deh seperti yang diperintahkan oleh keyakinan elo. Percaya deh. Elo. Nggak bakal bisa mengatur semua hal di luar diri elo. Makanya elo mesti rajin berdoa sama penguasa alam semesta. Biar hidup elo dijauhkan dari marabahaya. Dan dimudahkan dalam segala urusan.

Itu baru ngomongin anak buah. Belum lagi soal atasan. Nggak gampang loh jadi supervisor. Kalau pas dapet atasan yang reseh? Bbbeuuuhhh… minta ampyun deh. Gimana nggak semek coba. Kalau dapet atasan yang menganggap supersivor itu sebagai kacungnya? Hiiiiy…. Amit-amit deh.

Ada indikasi sih kalau kebanyakan Manager doyan banget melimpahkan pekerjaannya kepada supervisor mereka. “Lho, ini kan namanya delegasi…” itu yang pernah Jeanice dengar di ruang meeting ketika sedang ada rapat kordinasi. “De-Le-Ga-Si! Mengerti?” ya sudah deh. Kalau Manager sudah bilang begitu, supervisor bisa apa? Kan teori kepemimpinan mengajarkan delegasi? Kalau itu nggak bener, ya jangan nyalahin Magager dong. Salahin aja teori kepemimpinannya. Atau…jangan-jangan…. Trainer ilmu kepemimpinannya kali yang salah ya? Makanya, jangan sembarangan pilih trainer kepemimpinan. Salah-salah, ya dia bisa ngajarin yang salah.

Tapi, masa sih kok yang disalahin malah trainernya. Itu sama aja kalau kita nggak bisa ngitung uang kembalian belanjaan dari tukang sayur terus nyalahin guru matematika. Apa lagi ini sudah pangkat Manager. Kayaknya mereka yang salah menerapkan ilmu deh. Delegasi kan nggak mungkin dilakukan begitu aja. Pasti ada ilmunya. Pasti ada prasyaratnya. Pasti ada prakondisinya.

“Kamu baru aja diangkat jadi supervisor ya. Jadi ilmu kamu belum nyampe!” begitu respon yang didapat oleh Jeanice di ruang rapat ketika dia menanyakan soal delegasi itu. “Liat tuch, senior-senior kamu. Nggak ada yang membantah kayak kamu….” Kata manager itu sambil menunjuk para supervisor lain yang lebih senior dari dirinya.

“Maaf Pak, bukan maksud saya begitu tapi….” Jeanice berusaha menjelaskan.
“Halllah, kamu itu. Kamu nanya gitu aja udah mbalelo. Apalagi sekarang kamu ngomong lagi….” Potong manager itu.

“Yo wis toh, kasih dulu kesempatan orang muda bicara gitu lho…..” Beliau Senior Manager menengahi.

Pak Manager yang menghardik Jeanice itu pun langsung mengkerut.
“Silakan Dek Jeanice mau bicara apa?” kata Beliau Senior Manager.
“Begini Pak, saya hanya ingin tahu,” kata Jeanice. “Jika semua pelaksanaan teknis di lapangan dilakukan oleh para supervisor…” lanjutnya. “Jadi peran para Manager ada dimana ya Pak ya….?”

Di ruang berAC dingin itu seperti terjadi korsleting listrik. Ada kilatan electron yang melompat. AC mati. Lalu kabel listriknya terbakar. Terus api menghanguskan semuanya dalam waktu satu persejuta detik. Langsung panas. Terlihat dari wajah-wajah para manager yang memerah. Suasana langsung berubah menjadi seperti di tempat pelelangan ikan. Berisik. Dan bau amis. Mereka baru berhenti menggerutu ketika Beliau Senior Manager berteriak;”Sudah-sudah! Semuanya tutup mulut!”

“Pertanyaan seperti itu kurang pantas untuk diajukan di forum terhormat ini, Pak beliau Senior Manager….” Salah seorang Manager berkata lantang. “Tidak ada tata kramanya.”
“Hloh… ya ndak apa-apa toh?” Kata Beliau. “Kamu itu Manager kok nggak mau denger suara anak buah, gitu lho. Gimana toh ini?”

Semua orang lain diruangan itu pada tertawa. Agak aneh memang. Mereka merasa terwakili oleh pertanyaan Manager itu. Tapi, ikut mentertawakan ketika orang yang bicara lantang itu ditegur oleh Beliau Senior Manager.

Untungnya manager itu berbakat sekali untuk ngeyel. Jadi dia masih punya satu senjata ampuh yang belum digunakan. Setelah semua tertawaan mereda, dia kembali bicara; “Maaf Pak Beliau Senior Manager, apakah itu juga berarti para Manager boleh bertanya tentang….” Dia berhenti. Kelihatannya nyalinya tidak cukup sampai kalimat itu selesai.

“Mau bicara apa, Mas Manager…?” Kata Beliau Senior Manager. “Hayoh, silakan. Silakan saja. Disini forum terbuka kok. Kita mesti belajar membuka hati. Dan membuka diri pada masukan yang dikatakan oleh anak buah….”

“B-Begini Pak Beliau… apa boleh kalau kami para Manager ini juga menanyakan dimana peran Bapak Beliau Senior Manager dalam hal…..” lanjut Manager itu. Dengan nada yang agak gemetar.

“Whellleh… yo opo toh iki? Sampeyan mau kuwallat toh?” Mata Beliau Senior Manager melotot. “Kamu itu sudah berapa lama menjadi manager, eh?” katanya.

Mas Manager diam saja.
“Berapa lama kamu jadi Manager? Kamu itu kan termasuk yang sudah lama jadi Manager toh? Lha, kok ndak ngerti tugas dan tanggungjawab masing-masing gitu lho!”

Mas Manager semakin menunduk.
Sementara manager lain pada berbisik satu sama lain. Tidak ada yang terdengar jelas. Tapi melihat gelagatnya sih…., sedang terjadi pertarungan politik retorika yang sengit.

“Kamu tahu teori kepemimpinannya apa tidak?” Beliau Senior Manager kembali mencecar. Semua orang sudah tahu. Beliau Senior Manager tidak akan berhenti ceramah begitu saja. Apa lagi Beliau Senior Manager terkenal sudah punya jam terbang yang tinggi sekali. Curiculum vitaenya sampai bisa dijadikan satu buku. Saking panjangnya pengalaman beliau. Dan menurut kabar burung sih… Beliau Senior Manager juga puna pekerjaan sampingan. Semacam nyambi gitulah. Sebagai trainer kepemimpinan. Semacam pembicara gitulah. Katanya sih hanya hari sabtu atau minggu. Cuman ya kadang-kadang dihari-hari biasa juga beliau suka hilang nggak jelas kemana. Menurut kabar burung sih, beliau lagi ngerjain proyek ngasih training di perusahaan lain.

Pokoknya, kalau bicara teori kepemimpinan. Beliau Senior Manager itulah yang paling jago. Nggak ada yang bisa menandingi.

“Kamu tahu teori kepemimpinannya?” Sekali lagi Beliau Senior Manager mencecar Mas Manager.

Alih-alih menjawab, Mas Manager malah terlihat semakin gemetaran. Kalah jam terbang. Lagian juga di dunia ini ada ratusan bahkan ribuan teori kepemimpinan. Mau menjawab juga percuma. Soalnya dia nggak tahu teori yang mana yang dimaksudkan oleh Beliau Senior Manager. Salah-salah, bisa semakin dicecarnya nanti. Kalau jawabannya benar juga malah bisa bikin ribet. Kalau Beliau Senior Manager merasa tersaingi, bisa berabe urusannya. Jadi, Mas Manager memilih untuk mengalah saja.

“DO YOUR PART. I’LL DO MINE!” Kata Beliau Senior Manager. “Sudah pernah mendengar kalimat itu?” desaknya lagi.

Mas Manager menggelengkan kepala.
“Lha, itu….” Kata Beliau Senior Manager. “Ilmu masih cetek kok mau nanya dimana peran saya sebagai senior dikantor ini. Bagaimana cara berpikir kamu itu, gitu lho!”

Seisi ruangan menjadi senyap untuk sesaat. Tidak ada yang berani membantah. Apalagi mendebat. Jeanice melirik ke kiri dan ke kanan. Semua kepala manggut-manggut. Kecuali dirinya yang masih polos. Dan Mas Manager yang sedang menjadi bulan-bulanan Beliau Senior Manager, yang menahan rasa hati yang mendongkol.

“Saya jelaskan artinya ya. Kalian semuanya dengerin ya. Jangan sampai nggak ngerti teori kepemimpinan yang satu ini, gitu lho. Gimana perusahaan mau maju gitu lho. Managernya kok nggak ngerti ilmu yang penting kayak gini gitu lho.”

Semua orang memegang pulpen masing-masing. Siap untuk mencatat di buku agendanya. Terdengar bunyi ‘ceklik’ dari pulpen ceklek yang di pencet pemiliknya. Rupanya masih ada yang punya pulpen kayak gitu. Tapi pemiliknya nggak merasa ketinggalan zaman. Soalnya pulpen itu ada logo terkenalnya. Jadi inget penjual liar di bandara. Yang suka menawarkan parfum dan pulpen bermerek dengan harga miring.

“DO YOUR PART!” kata Beliau Senior Manager. “Artinya, kerjakan tugas-tugas kalian dengan sebaik-baiknya. Mengerti?” lanjutnya.

“Mengerti Pak Beliau Senior Manager…..” kata semua orang. Jeanice hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Kalian yang supervisor dengerin,” lanjut Beliau. “Pastikan semua tugas yang diberikan oleh para Manager bisa selesai dengan sebaik-baiknya. Jangan ada yang nggak beres!” katanya. Para Manager manggut-manggut tanda setuju.

“Dengerin tuch… jangan cengengesan begitu….” Kata Jeng Manager sambil melotot sama supervisor disamping kirinya.

“Kalian juga sama,” kali ini mata Beliau Senior Manager menatap para Manager. “Sebagai Manager tugas kalian itu yang menyelesaikan tugas yang saya berikan kepada kalian toh? Nggak usah banyak tanya. Kerjakan aja gitu lho.”

Giliran para Manager yang hatinya kemeresel. Dan giliran para supervisor yang merasa puas sambil bicara sesama mereka sendiri pake ilmu telepati;’rasain tuch… bisanya cuman merintah-merintah melulu.”

Tapi lewat bahasa telepati itu juga mereka saling curcol lagi;”Iya, tapi ntar tugas mereka dilimpahin lagi ke kita…. Terima nasib aja deh….”

“Sudah jelas artinya sekarang?” Tanya Beliau Senior Manager. “DO YOUR PART!”
Para Manager mengangguk. Begitu juga para supervisor.

“Kalau sudah mengerti, kalian langsung kerjakan, gitu lho.” Kata Beliau Senior Manager.

“Maaf Pak Beliau Senior Manager…..” Jeng Manager mengangkat tangan.
“Ya, ada apa Jeng Manager?” Kata Beliau Senior Manager.

“Mohon penjabaran lebih lanjut mengenai makna dari I’LL DO MINE itu, Bapak Beliau Senior Manager. Terimakasih sebelumnya….” Kata Jeng Manager.

“Lah, hiiiiini. Hiiini. Masih belum mengerti juga….” Beliau Senior Manager terlihat tidak senang. “Ya itu artinya kerjakan tugas kamu sebaik-baiknya toh? Begitu lho. Mengerti?”

“A-anu Pak Beliau. Saya jadi bingung,” kata Jeng Manager. “Tadi Pak Beliau bilang kalau DO YOUR PART itu artinya kerjakan tugas kamu sebaik-baiknya….”
“Hiya toh. Tugas kamu sebagai Manager apa, ya kerjakan sebaik-baiknya….” Timpal Beliau Senior Manager.
“B-Baik Pak Beliau. Saya sudah mengerti itu…” lanjut Jeng Manager.
“Lha, yang belum kamu mengerti itu apa? Yang jelas gitu lho.” Sahut Pak Beliau Senior Manager.

“Kalau I’LL DO MINE itu lho Pak. Mohon petunjuk Bapak mengenai makna atau tafsirannya. ….” Pertanyaan Jeng Manager itu mendapat sambutan positif dari para Manager lainnya. Terlihat dari gaya mereka semuanya yang mengangguk-anggukan kepala.

“Hloh! Kamu itu cantik-cantik tapi nggak ngerti bahasa Inggris toh Jeng Manager! Kamu rajin buka kamus gitu lho. Masa kok ndak ngerti gitu lho.”

“Maaf Pak Beliau, saya sudah buka kamus elektronik tapi disana hanya ada arti harfiah tapi tidak ada tafsirannya Pak Beliau…..” Jeng Manager tidak kalah gigih demi menuntut ilmu. Para Manager lain nyengir ntah apa maksudnya.

Jeanice semakin sadar jika kecantikan bisa jadi sangat berbahaya. Kata-kata yang manis bisa lebih tajam dari belati. Jeanice faham apa yang dimaksudkan oleh Jeng Manager. Dia ingin membalikan ajaran itu kepada yang mengucapkannya sendiri.

“Ya sudddah. Saya jelaskan…” Bukan juga Beliau Senior Manager jika bisa dengan mudah ditaklukan oleh para Manager lain. Bagaimana pun juga beliau sudah lebih lama malang melintang di posisi managerial. Apalagi sambil nyambi menjadi pengajar juga. Jago tentunya.

“Bisa diulangi lagi bagian mana yang kamu tanyakan?” katanya.
“Bagian I’LL DO MINE itu lho Pak. Terimakas…..” Jeng Manager tidak sempat menamatkan ucapannya.
“Nah!” begitu potong Beliau Senior Manager. “Kamu bila I’LL DO MINE!” katanya. “I Itu artinya apa?” Beliau balik bertanya.

“I itu artinya saya,” jawab Jeng Manager. Bangga sekaligus lengah.
“Lha, betul itu. Artinya kamu!” balas Beliau Senior Manager sambil mengarahkan jari telunjukknya kepada Jeng Manager.
“Lho kok saya Pak Beliau?” Yang ditunjuk, tentu saja protes berat.
“Lha, I itu artinya apa?” timpal Beliau lagi.
“Saya?” Jeng Manager tidak mungkin membiarkan dirinya seperti tidak tahu bahasa Inggris. Lha orang dia sekolahnya juga double degree di luar negeri kok. Masak nggak ngerti bahasa Inggri. Ya ngerti toh.

“Lha, itu betul. Artinya ya kamu itu,” Beliau semakin bersemangat. “’LL itu berasal dari kata WILL yang artinya akan atau mau,” lanjutnya. “Sedang DO MINE maksudnya Mengejakan bagian sendiri….”

Semua orang di ruangan itu bertepuk tangan. Terkagum-kagum oleh kemampuan olah vocal Beliau Senior Manager. Hanya Jeanice yang masih ternggelam dalam kepolosannya.

“Jadi I itu artinya apa?” Beliau Senior Manager melanjutkan orasinya.
“Saya,” Jeng Manager membeo.
“’LL DO MINE?” Tanya Beliau lagi.
“Akan mengerjakan bagian saya,” Jeng Manager kembali membeo.
“Hnnah. Sudah jelas toh sekarang?” Seperti menggunakan hipnotis. Beliau Senior Manager berhasil memukau seisi ruangan.

Tinggal Jeng Manager yang seperti sedang diserang penyakit linglung. Sambil menggaruk kepalanya berguman dengan setengah hati;”Tapi…..”

“Ah, sudahlah. Ilmu kalian belum cukup.” Kata Beliau Senior Manager. “Tapi saya kasih tahu saja, ya. Itulah saudara-saudara inti dari DELEGATION. Mengerti ya sekarang? DELEGATION. Boso jowone DELEGASI.”

Sejenak melihat ke langit-langit. Lalu semua orang mengangguk. Serkarang mereka paham. Mengapa pekerjaan sering bertumpuk di tingkat supervisor. Karena, supervisor sering dianggap remeh oleh anak buahnya. Sedangkan ditangannya banyak banget tugas yang ‘didelegasikan’ oleh Managernya. Padahal, Manager itu selalu mendapatkan tugas yang didelegasikan oleh Beliau Senior Manager. Yang kemudian didelegasikan lagi oleh para Manager itu kepada para supervisornya. Semakin banyak pekerjaan yang diminta oleh supervisornya, semakin kesal anak buahnya. Maka semakin delicehkanlah para supervisor itu oleh para staffnya. Dan semakin ruwetah urusannya. Hikmah dari kesaktian ilmu delegasi yang disalahpahami. Berkat tafsir aneh melalui fatwa majlis yang dihuni oleh pejabat tinggi.

Beliau Senior Manager segera mengakhiri rapat. Namun, ketika mereka hendak bubar terdengar suara dari speaker di langit-langit ruangan. “Mohon perhatian…..” suara mendayu gaya bioskop itu terdengar. Pasti ada pengumuman penting. “Bersama ini diumumkan bahwa…” katanya lagi. Semua orang berhenti bicara. Berusaha untuk mendengarkan pengumuman penting itu. Lalu announcer melanjutkan pengumumannya. Katanya :

DELEGASI ITU KETERAMPILAN MEMIMPIN… BUKAN SARANA UNTUK MELEMPARKAN TANGGUNGJAWAB

Jreeeeeeng……
Kalimat itu terdengar seperti antidote yang menetralisir bisa ular yang baru saja disemburkan. Beliau Senior Manager jelas tidak menyukai hal itu. Seperti menu-menu hari ini yang lainnya dari Natin. Beliau memang tidak menyukainya. Tapi ada daya. Beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Soalnya, tidak ada bukti jika Natin sengaja menyesuaikan menu hari ininya dengan konteks dan topik dalam rapat yang Beliau pimpin.

Tapi beliau punya satu kesempatan untuk mempengaruhi para Manager dan Supervisor itu. “Tunggu, tunggu… jangan bubar dulu gitu lho….” Percuma saja. Semua managar dan supervisor sudah pada kabur. Soalnya rapat kan dari tadi sudah ditutup.

Baliau Senior Manager mengejar ke luar ruang rapat. Sebagian besar Manager sudah sembunyi di ruang kerjanya masing-masing kecuali…..
“Mergy, berhenti!” kata Beliau.

Pak Mergy belum sempat masuk ke ruang kerjanya. Kaki kanannya yang sedang melangkah berhenti diudara. Hanya beberapa senti lagi dari pintu ruangannya.

“Hadduhhh….” Gumamnya. Sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Kembali ke ruang meeting Mergy…..” perintah Beliau Senior Manager.
Semua orang di kubikal melihat kearah Pak Mergy. Tidak ada pilihan lain buat Pak Mergy selain balik badan. Lalu dengan wajahnya yang memelas berjalan ke ruang meeting….

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa ilmu delegasi dalam kepemimpinan yang ditafsirkan secara keliru itu sangat berbahaya sekali. Apa lagi jika kekeliruan itu diterapkan oleh pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Atau mereka yang mau enaknya sendiri. Bukannya membuat kinerja team menjadi semakin efektif. Malah sebaliknya. Ada orang-orang yang kerja banting tulang. Sementara sebagian orang tertentu lainnya bisa bersantai ria. Ilmu delegasi itu mesti dipahami sebagai bagian dari proses pengembangan anak buahnya. Sekaligus menciptakan suasana kondusif untuk saling bekerja sama. Sehingga setiap pekerjaan bisa diselesaikan dengan tanggungjawab, kewenangan, serta proporsinya masing-masing. Supaya jadi ringan sama dinjining. Berat sama dipikul. Sehingga semua orang merasa senasib sepenanggungan.

Catatan Kaki:
Pelimpahan tugas kepada anak buah bukanlah delegasi, jika tidak diiringi pembekalan dengan pengarahan, pengawasan dan pembimbingan dari atasan kepada anak buah yang menerima pelimpahan itu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s