Dedikasi

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ October 8, 2012 ⋅

 Gawat.
Sama sekali nggak ada yang nyangka kalau urusannya bisa jadi ribet kayak gitu. Selama seminggu terakhir ini terjadi perdebatan yang seru banget. Mungkin lebih cocok kalau di bilang heboh banget. Atau, bisa juga dibilang rusuh banget. Nggak sampai terjadi kerusuhan sih emang. Tapi, kayaknya itu bisa jadi urusan yang serius banget. Soalnya, sekarang beberapa manager sudah ikut campur segala.

Nggak tahu persis gimana awalnya. Ujuk-ujuk pada ribut gitu aja. Padahal, sejak pertama terjadi polemik itu minggu yang lalu kan urusannya langsung selesai. Emang sih, awalnya semua orang di kubikal juga pada heboh. Gara-gara Natin bilang di menu hari ininya kalau: “ Karyawan itu nggak perlu loyal kepada perusahaan. Berikan saja dedikasimu yang tertinggi.” Gimana nggak bikin heboh coba. Kalau selama ini para boss di perusahaan manapun selalu berpidato untuk meminta semua karyawannya pada loyal. Eh, Natin malah ngomong yang sebaliknya.

Sebelum adanya pernyataan itu, boleh dibilang setiap nasihat Natin selalu langsung dipahami oleh orang-orang. Yaaaa… kalaupun ada yang loading lama tapi kan ujung-ujungnya bisa ngerti juga. Tapi. Pernyataan yang satu itu kayaknya bakal jadi urusan serius. Sebenarnya kalau buat orang kubikal nggak jadi masalah. Terutam setelah dijelaskan maksudnya oleh Jeanice. Semuanya klir, dan bisa dimengerti. Tapi. Justru karena penjelasannya itulah akhirnya Jeanice jadi kebawa-bawa. Kayaknya dia bakal dapat masalah besar.

Kalau buat orang-orang di kubikal, penjelasan Jeanice itu justru sangat membantu untuk memahami pernyataan Natin yang kali ini seperti sabda para wali. Nggak sembarangan orang bisa mengerti. Makanya, waktu Jeanice membeberkan maknanya semua orang manggut-manggut. Yang menjadikannya masalah justru dikalangan para manager. Mereka tetap tidak setuju dengan pernyataan Natin. Katanya, Natin sudah berbuat makar. Ingin merusak kesetabilan persusahaan dari dalam. Dan Jeanice, dituduh menjadi kaki tangan Natin.

Para Manager menganggap Natin telah merusak nilai-nilai yang selama ini mereka tanamkan dihati para karyawan. Supaya mereka menjadi pekerja yang loyal pada perusahaan. Sia-sia deh usaha mereka gara-gara satu kalimat yang dituliskan oleh office boy di white board kesayangannya yang digantung di pantry itu.

“Mestinya office boy itu sudah sejak dulu dipecat dari perusahaan ini!” begitu teriak salah seorang Manager yang sudah senior. Nggak usah disebutin namanya ya soalnya bisa dosa kalau ngomongin orang. Lagian juga, kalau sampai beliau tahu namanya disebut-sebut, wah bisa berabe. Urusannya bisa panjang, Brow.

“Dia itu tidak tahu diri,” tambahnya lagi. “Office boy kok gayanya seperti orang pinter saja!” beliau menyerocos lagi. “Keminter itu namanya.”

“Tapi gimana caranya mecat si Natin, Mas?” tanya Manager lainnya. “Dia kan deket banget sama Pak Presiden Direktur….” tambahnya.
‘”Itulah masalahnya,” Jawab Beliau Senior Manager lagi. “Boss kamu itu kelakuannya ya nganeh-nganehi aja….” ketusnya.
“Ya… beliau kan bossnya Kang Mas juga toh…” jawab Manager satunya lagi.
“Ya… itulah. Aku jadi sampai malu hati punya boss kayak gitu!” Pak Senior Manager kembali menyungut.
“Kayak gitu gimana toh Mas?” kata Manager yang lainnya lagi. Pokoknya sudah kayak konferensi tingkat tinggi gitu lah. Padahal, sebelumnya nggak pernah deh kayaknya para Manager itu berkumpul sebanyak itu. Biasanya, kalau diundang rapat itu lha kok adaaaaa saja alasan para manager buat nggak hadir. Sedang visitlah. Sedang ketemu pelangganlah. Sedang ada tugas urgenlah. Susah banget buat ngumpulin mereka.

Emang sih. Kadang datang juga banyak manager. Tapi mereka itu ya kalau rapat pada bawa laptop. Kirain sibuk ngerjain apaaa gitu sambil rapat. Eh, tahunya mereka cuman main game sama browsing. Gimana mau ngerti topik rapat coba.

Pak Presiden Direktur marah banget waktu memergoki kelakuan mereka itu. Lha, terus keluar deh fatwa kalau setiap rapat manager nggak boleh bawa laptop. Pantaslah. Mereka dihukum karena kelakuannya sendiri. Semua materi presentasi mesti dikirim ke corporate secretary sehari sebelum rapat. Habis itu, cuman ada satu laptop panitia yang aktif. Rasain deh.

Cuman ya itulah. Kalau dasarnya udah mental kayak gitu yang susah juga dirubahnya. Mereka nggak bawa laptop emang. Tapi mereka juga nggak kalah ngakali. Sekarang mereka pada bawa blackberry. Setiap kali rapat, mereka sibuk sendiri mainin blackberry. Hanya kalau Pak Presiden Direktur ada di ruangan rapat aja mereka nggak pegang blackberry. Kalau beliau tidak ada, ya udah deh. Ruang rapat cuman jadi arena pamer baru-baruan gajet. Mungkin mereka bakal nyadar kalau Pak Presiden Direktur melarang bawa blackberry ke ruang rapat kali ya.

Tapi ajaib juga loh. Dalam rapat ngomongin soal Natin itu mereka kompak sekali. Fokus pada topik rapatnya. Nggak ada sama sekali yang ketawa-ketawa sendiri ngeliatin LCD blackberry. Mereka intens banget membahas soal itu. Mereka bilang kalau si Natin itu merupakan bahaya laten kumpeni. Maksudnya berbahanya buat kelangsungan hidup perusahaan. Jadi harus diwaspadai. Dan harus dibersihkan hingga ke akar-akarnya. Keluarganya tidak boleh diterima kerja disitu selama tujuh turunan.

“Maksud pertanyaan kamu itu apa toh?” Beliau Senior Manager balik menghardik.
“Itu lho Mas, tadi mas bilang malu hati punya boss kayak gitu. Lha, maksudnya ‘gitu’ itu gimana toh?” kata manager yang tadi tanya itu.

“Hloh! Kok masih tanya gitu loh, kamu itu!” hardik beliau. “Ya boss kamu itu….”
“Boss kita Mas…” Manager lainnya memotong kalimat beliau.
“Yoooo, karepmu sajalah. Bossmu, bossku, boss kita ya sama saja toh!?” balas beliau Senior Manager. Tampaknya beliau tidak senang kata-katanya dipotong seperti itu.
Semua manager disitu saling melirik lalu senyum-senyum sambil manggut-manggut. Pastinya sambil ngomong didalam hatinya masing-masing ‘….kalau nggak diangkat jadi direktur ya jangan mutung kayak gitu toh…’.

“Yo wis, sampai dimana tadi rapat kita?” Kata beliau Senior Manager.
“Kelakuan boss kita kayak gitu, itu lho Mas….” kata para Manager seperti sedang nyanyi di konser vocal group anak teka. “Maksud Kang Mas itu gimana, gitu loh….”

“Ya gitu bossmu itu,” jawab beliau.
Para manager lainnya meletakkan telapak tangan di jidatnya masing-masing. Cape deh.
“Halah. Kalian ini kayak yang nggak ngerti aja!” kata Beliau Senior Manager. “Ya nggak usah diomongin toh. Kalian kan sudah pada tahu semua!”

“Kami belum tahu maksud Kang Mas,” jawan para manager lainnya.
“Hloh. Gimana toh? Kok Manager pada nggak ngerti gitu lho.” Kesal beliau. “Hmaksudku,” suara nafas beliau memburu tanda kesal sekali. “Presidden Direketurmu itu kok lebih mendengarkan office boy dari pada kita. Hla, kita ini kan para pejabat tinggi? Gitu lho, ngerti nggak?!”

“Oooooooooooooooo…. gitu maksudnya” paduan suara itu kembali bernyanyi.

Suara ribut-ribut para manager itu menggema di seantero kubikal. Sehingga hanya orang yang tuli yang tidak bisa mendengarnya. Karenanya, orang-orang kubikal pada terperanjat. Lalu menghentikan semua aktivitas yang sedang mereka kerjakan. Kemudian mereka semuanya mengendap-endap mendekatinya. Setelah itu, mereka menempelkan telinganya masing-masing didinding ruang meeting.

“Kalian ngapain sih?” Jeanice yang sedari tadi menyaksikan keanehan itu tidak kuasa membiarkan teman-temannya melakukan tindakan seperti itu. “Nggak boleh nguping orang yang lagi meeting, tauk!” katanya. “Hayoh, bubar sana.”

“Masalahnya makin serius, Jean…” kata teman-temannya.
“Halaaah, udahlah nggak usah dibesar-besarin. Mendingan kita kerja yang bagus yuk…” jawab Jeanice.

“Mana bisa kerja tenang kalau terancam dipecat gini, Jean…” protes orang-orang di kubikal.
“Yang disuruh dipecat itu Natin, bukan elo pade. Makanya elo tenang aja. Kembali kerja, gih…” Jeanice tidak henti-hentinya membujuk mereka.

Tapi percuma aja. Mereka nggak mau nurut. Apa lagi tahu kalau Beliau Senior Manager dan para Manager itu sedang membahas usulan pemecatan Natin. Mereka nggak rela kalau Natin dipecat.

“Gue bakal ngundurin diri!” Teriak Opri. “Kalau sampai Natin dipecat dari sini.” Tangannya mengepal keatas. “Siapa mau ikut?!” Matanya menatap tajam teman-temannya. Pekiknya membuat merinding siapapun yang mendengarnya.

Untuk sesaat. Teman-temannya cuman bisa melongo. Nggak ada yang memberikan respon apapun. Nggak ada yang mengangkat tangan untuk ikut keputusan Opri.

“Nggak usah emosional gitu dong Pri…” kata Jeanice. “Sabar dulu. Sabar…”
“Nggak bisa sabar lagi kalau urusan ginian!” Opri balik menghardik. “Kalau elo pade nggak mau ikut keluar. Gue keluar sendiri. Tapi inget, ya!” Kali ini mata Opri memelototi semua orang kubikal satu persatu.

“Elo! Elo! Elo. Dan Elo!” katanya.
Semua orang kubikal pada merinding.
“Mesti ingat.” Kata Opri lagi. “Siapa yang selama ini membuat elo pade merasa menjadi pegawai kecil yang dihargai?” dia berhenti sebentar. “Siapa yang membuat elo merasa bangga dengan pekerjaan elo?” sambungnya. “Siapa yang membuat elo selalu bersemangat? Siapa yang membuat elo tabah meskipun lagi diomelin atasan elo?” Pelototnya setajam ujung pensil yang baru diserut. “Si Natin, tauk!”

Orang-orang kubikal seperti dihipnotis. Pada diam selama beberapa detik. Kemudian, satu demi satu mereka mengangkat tangan…”Gue ikut…” kata mereka. “Kalau Natin di pecat gue bakal keluar juga.”

Beberapa detik kemudian, seluruh ruang kubikal seperti sedang dipenuhi oleh tiang bendera. Semua jari mengacung keatas pertanda semua orang setuju untuk ikut keluar.

“Heh, kalian lagi ngapain disini? Berisik saja. Apa kalian tidak tahu kalau boss sedang rapat, eh?!” Beliau Senior Manager keluar dari ruang meeting.

“Maaf Pak, mereka….” Jeanice tidak bisa meneruskan kalimatnya.
“Kamu!? Anak kemarin sore yang sok jadi supervisor.” Dia berhenti karena dibentak Beliau Senior Manager. “Kamu itu biangnya. Mestinya kamu dipecat juga, ya!” tambah beliau.

“Kenapa Jeanice mesti dipecat, Om?” tantang Opri.
“Heleehhh… kamu lagi. Siapa kamu, heh. Am Om Am Om. Memangnya kamu itu keponakan saya, hah?” Kelihatannya Opri mempunyai pesaing kuat untuk main pelotot-pelototan.
“Supervisor sotoy kamu itu belum ngerti apa-apa soal kepemimpinan,” hardik beliau sambil menunjuk-nunjuk muka Jeanice. “Masih ingusan gini aja kok berani-beraninya mengatakan kalau loyalitas itu tidak perlu. Memangnya kamu……”
“Yang bilang gitu bukan Jeanice Om, eh Pak. Tapi Natin.” Balas Opri. Tinggal dipakein sarung tinju, kayaknya kejadian deh yang seru-seru diantara dua jagoan itu.

“Saya tahu itu. Nggak usah sok ngajarin boss ya. Tapi si supervisor ingusan ini malah turut mengaminkannya.” Balas beliau. “Mestinya kamu itu,” Beliau Senior Manager berbalik memelototi Jeanice yang mukanya sudah merah padam. Mungkin sebentar lagi dia akan menangis.
“Mestinya kamu itu menjaga anak buah kamu. Menyuruh mereka supaya loyal pada perusahaan…” telunjuk Beliau Senior Manager sudah tinggal setengah senti lagi dari hidung Jeanice. “Mengerti kamu?”

“Kalau kepengen marah sama saya aja Om, eh Pak…” Opri melangkah.
“Heh kamu ya ing….” Pelotot Beliau Senior Manager hampir membuat matanya keluar. Telunjuknya sudah diujung langit. Semua orang sudah hampir yakin kalau bakal terjadi makian sengit. Tapi. Para penonton harus menaggung rasa kecewa.

Kecewa sekali para penonton.
Karena Beliau Senior Manager tidak jadi menumpahkan amarahnya. Bukannya marah. Wajah beliau malah berubah ramah. Dan suara beliau menjadi merdu laksana bidadari yang pandai bernyanyi…”Eh..emh… B-Bapak Presiden Direktur… heheh… S-selamat siang Pak….” Katanya.

Ada kali satu per sejuta detik lamanya orang-orang kubikal dan para Manager terpukau. Sebelum akhirnya mereka sadar bahwa Pak Presiden Direktur sudah berada di belakang mereka.

Canggih juga ya Beliau Senior Manager itu. Hanya beliau sendiri lho yang menyadari kehadiran Pak Presiden Direktur.

“Ada apa ini, kok ribut-ribut begini?” Kata Pak Presiden Direktur dengan penuh wibawa.

“Ooh…anu tidddak kok Pak, tidak ada keributan apa-apa.” Jawab Beliau Senior Manager. “Kami… hanya sedang anu.. emh diskusi dengan seluruh staff di kantor…” lanjutnya. “Biasa Pak. Untuk koordinasi biar bisnis kita semakin ba….”

“Bisnis kita bisa semakin baik kalau kita semua bekerja dengan baik, Pak Senior Manager.” Potong Pak Presiden Direktur.
“Ohoh.. ihiyya Pak. Betul sekali petunjuk Bapak itu….” Jawab Beliau Senior Manager.
“Lha, kalau begitu kenapa semua bukan pada bekerja?” Tegas Pak Presiden Direktur. “Kok malah bergerombol tidak karuan begini?”
“Anu Pak.. kami sedang rapat koordinasi tentang…” Beliau Senior Manager belum sempat menyelesaikan kata-katanya.

“Tentang pemecatan Natin Pak,” Opri keburu menyalipnya.
“Oh b-buuuuukan Pak, bukan itu kok….” Beliau Senior Manager seperti diserang oleh demam malaria dicampur diare berat.

“Yayaya…” kata Pak Presiden Direktur. “Saya tahu apa yang kalian maksud,” lanjutnya. “Ini soal loyalitas itu kan?. Kalian meributkan nasihat Natin soal loyalitas itu, kan?.”
“Hloh, kok Bapak tahu toh Pak?” Beliau Senior Manager terperanjat.

“Nah, mumpung kalian semua sedang pada kumpul disini. Biar saya perjelas.” Kata Pak Presiden Direktur. Kemudian menjelaskan banyak hal. Khususnya soal pesan Natin yang menjadi polemik itu.

“Intinya begini,” katanya. Semua orang menantikan kalimat selanjutnya dengan harap-harap cemas. Orang-orang di kubikal cemas kalau sampai Pak Presiden Direktur marah pada Natin. Mereka hanya bisa berharap Pak Presiden Direktur bertindak bijaksana. Kalau memang pesan Natin itu dianggap salah minta tolong dimaafkan saja. Jangan sampai memecat Natin.

Para Manager juga harap-harap cemas. Mereka berharap agar kejadian itu membuka mata Pak Presiden Direktur bahwa office boy yang selama ini dipercayainya ternyata bahaya laten yang bisa merusak perusahaan dari dalam. Sebaiknya dipecat saja. Atau kalaupun masih dipekerjakan ya di tempatkan pada porsi yang semestinya. Kalau office boy ya ngepel lantai saja sama melayani keperluan para manager. Nggak usah neko-neko kayak gitu. Pangkat office boy tapi merasa dirinya seperti konsultan bisnis perusahaan gitu.

“Dengarkan. Supaya semuanya paham,” kata Pak Presiden Direktur.
Semua orang pada diam. Siap mendengarkan amar putusan.
“Saya sependapat dengan pesan yang disampaikan oleh Natin…” lanjutnya……

Tak seorang pun di ruangan itu yang tidak terperanjat mendengar pernyataan Pak Presiden Direktur. Orang-orang kubikal terperanjat karena tidak menyangka kalau Pak Presiden Direktur akan berkata begitu. Para Manager terperanjat karena tidak menyangka kalau Pak Presiden Direktur akan berujar demikian.

Setelah bengong sebentar. Suasana hening pun berakhir ditelan keriuhan tepuk tangan orang-orang kubikal. Mereka bersoak. Beperlukan. High five. Mengacungkan tinjunya keudara sambil berteriak “YES!” dan ada juga yang berurai air mata karena terharu dan bahagia.

“Tapi Pak Presiden Direktur….” Beliau Senior Manager berusaha mengalahkan kebisingan.

“Ada keberatan Pak Senior Manager?” Kata Pak Presiden Direktur.
Semua orang kembali hening setelah corporate secretary memberi isyarat.

“Anu Pak…” kata Beliau Senior Manager.
“To the point saja Pak Senior Manager,” kata Pak Presiden Direktur.
“Bukankah loyalitas itu….” Beliau Senior Manager meneruskan.
“Sebentar Pak…” Pak Presiden Direktur memberinya isyarat berhenti bicara ketika corporate secretary membisikan sesuatu. Pak Presiden Direktur manggut-manggut. Sementara semua orang lainnya pada sibuk dengan kebingungan dan tebakannya masing-masing.

“Baiklah.” Kata Pak Presiden Direktur. “Saya diberitahu corporate secretary bahwa baru saja ada pesan yang saya terima lewat sms.” Katanya. Dan saya yakin pesan itu juga dikirimkan kepada kalian. Coba buka handphone kalian.” Lanjutnya.

Semua orang buru-buru membuka handphonnya. Dari tadi juga mereka sudah tahu kalau ada sms masuk. Cuman nggak ada yang berani membukanya selagi dengar pidato Pak Presiden Direktur. Ketika mereka membaca sms itu, wajah mereka ada dua macam. Ada yang terlihat senang. Dan ada yang terlihat kecewa.

“Coba Pak Senior Manager dibacakan. Apa bunyi pesannya?” lanjut Pak Presiden Direktur.

Semua orang juga tahu kalau Beliau Senior Manager enggan membacanya. Tapi, tidak ada pilihan lain selain manut saja pada perintah Pak Presiden Direktur. Lalu beliau membacanya. Namun, baru saja satu kata diucapkan. Opri langsung teriak. “Nggak kedengaran Ooom eh… Paaak….” Katanya. Kontan aja semua orang pada ketawa.

Corporate secretary dengan sigap menyerahkan mic speaker pada Beliau Senior Manager. Meskipun sudah berusaha menyembunyikan kekesalannya, namun beliau tidak bisa mencegah semua orang untuk mengetahui perasaan hatinya yang mendongkol.

“Silakan dibacakan Pak Senior Manager…” Kata Pak Presiden Direktur.

Lalu Beliau Senior Manager membaca isi sms ini:

HANYA ORANG YANG BERDEDIKASI TINGGI… YANG BISA MEMBANGKITKAN LOYALITAS SEJATI

Rupanya SMS itu dari Natin.

“Sudah jelas sekarang.” Kata Pak Presiden Direktur. “Kita semua harus mendahulukan dedikasi. Bukan lagi loyalitas.”

“Tapi Pak…” Beliau Senior Manager mengangkat tangan.
“Sebentar Pak Senior Manager. Dengarkan saya bicara.” Kata Pak Presiden Direktur.
Beliau Senior Manager menarik telunjuknya. Lalu melirik kearah para Manager sambil menyerengkan mukanya tanda kesal kepada mereka. Dalam hatinya berkata;’’sontoloyo ini orang-orang. Kok ndak ada yang mau berjuang bersama saya.”

“Menuntut loyalitas karyawan secara buta adalah pola kepempimpinan yang usang.” Kata Pak Presiden Direktur. “Dan terbukti tidak benar.”

Orang-orang kubikal bersorak dalam hati.
“Kalian mau tahu buktinya apa?” Tanya Pak Presiden Direktur. “Buktinya. Banyak pemimpin perusahaan. Para Direktur. Dan Manager.” Berhenti sejenak. “Yang menuntut anak buahnya untuk loyal kepada perusahaan.”

Semua orang menunduk. Ada yang sambil tersenyum. Ada juga yang sambil meringis.
“Tapi mereka sendiri dengan mudahnya pindah ke perusahaan lain.” GELEBLAR! Seperti ada halilintar yang menyambar ruangan itu disiang hari bolong. “

Asal ditawai jabatan yang lebih tinggi oleh kompetitor, langsung kabur!” JELEBLUR! Halilintar itu kembali menggelegar. “Asal diiming-imingi gaji yang lebih tinggi oleh perusahaan lain, tidak pake pikir panjang lagi. Langsung pindah sambil membawa data-data rahasia perusahaan.” GELEDLAAAR…. Semua yang tersambar petir menggelepar-gelepar.

Corporate secretary menyerahkan selembar kertas kepada Pak Presiden Direktur. Segera membacanya. Lalu katanya;”Berdasarkan data internal perusahaan kita selama 10 tahun terakhir ini.” Semua orang kembali deg-degan. Penasaran. Apakah gerangan data internal yang Pak Presiden Direktur maksudkan.

“80% orang yang keluar dari perusahaan kita itu ternyata para Manager dan Direktur.” Halilintar itu kali ini sudah menghanguskan semua benda yang disambarnya. “Hanya 20% saja dari yang keluar itu adalah kalangan staff.” Orang-orang kubikal kembali bersorak sorai. Tapi hanya dalam hati. Wajah mereka lucu-lucu banget. Ada yang aneh juga. Soalnya, nggak gampang loh menahan expresi jiwa yang meluap-luap itu. Jadinya muka mereka kelihatan jadi menyon-menyon nggak karuan gitu deh.

“Itu artinya,” kata Pak Presiden Direktur. “Yang harus lebih loyal itu adalah para pemimpin. Para Direktur. Para Manager. Supaya para staff dan pegawai lainnya mencontoh.” Lanjutnya.

“Pak Senior Manager, misalnya. Harus memberi contoh kepada anak buahnya loayl itu seperti apa. Bukan berarti bekerja lama tapi tidak menunjukkan dedikasi. ” Beliau Senior Manager manggut-manggut. Tapi nggak jelas apa karena mengerti atau karena takut.

“Bergitu juga dengan para Manager yang lainnya. Termasuk saya dan jajaran direksi semuanya. Harus menjadi contoh bagi anak buah. Bukan hanya bisa merintah orang lain untuk loyal. Tapi dirinya sendiri tidak punya loyalitas.”

“Makanya. Mulai sekarang.” Pak Presiden Direktur melanjutkan. “Mari kita tinggalkan teori managemen usang yang meminta karyawan untuk loyal. Kita mesti belajar untuk berubah dengan menggunakan prinsip managemen baru seperti yang dinasihatkan oleh Natin.” Pak Presiden Direktur menatap semua orang di ruangan itu.

“Yaitu, “ katanya. Berhenti sejenak. Lalu melanjutkan:”Berikan dedikasi tertinggi kalian kepada perusahaan……”

Kali ini. Tidak ada lagi yang bisa menahan diri. Semua orang bertepuk tangan riuh rendah. Kehebohan pun memenuhi seantero kantor. Sedangkan Beliau Senior Manager dan para manager lainnya mau tidak mau ikut bertepuk tangan meskipun sambil menelan rasa asem, mual, pahit dan getir dihatinya.

Ditengah kehebohan itu seseorang berteriak: “Pak Presiden Direktur saya mau tanya,” katanya sambil mengacung-acungkan tangan.

Sayangnya suaranya kalah keras oleh kehebohan orang-orang yang tengah bersorak sorai. Pak Presiden Direktur tidak mendengarnya sehingga beliau langsung menuju ke ruang kerjanya.

“Mau tanya apa Pak Mergy…..?” kata Opri.
“Yaaah… Pri… saya kan kepingin sekali memberi tahu Pak Presiden Direktur kalau saya ini orang yang berdedikasi tinggi….”

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa habis gelap terbitlah terang. Habis pakem management lama. Terbitlah pakem managemen baru. Habis tuntutan loyalitas. Terbitlah tuntutan pada dedikasi. Karena seperti yang dinasihatkan oleh Natin hari ini. Bahwa. Hanya orang yang berdedikasi tinggi. Yang bisa membangkitkan loyalitas sejati. Sedangkan Manager dan Boss yang hanya sekedar memerintah bawahan untuk loyal, tapi mereka sendiri seneng menjadi kutu loncat; tidak akan bisa membuat anak buahnya loyal pada perusahaan. Karena. Hanya orang yang berdedikasi tinggi. Yang bisa membangkitkan loyalitas sejati.

Catatan Kaki:
Orang yang punya dedikasi tinggi, pasti bisa menunjukkan loyalitasnya. Tapi orang yang loyal, belum tentu sanggup memberikan dedikasi tertingginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s