Natin Nggak Masuk Kantor

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ March 14, 2012

Hari ini semua orang dikantor merasa ada yang kurang.

Apanya ya yang kurang? Nggak tahu. Nggak ada yang tahu. Bukan karena nggak pada mau tahu. Tapi masih banyak pekerjaan, jadi waktunya kurang kalau harus mencari tahu apanya yang kurang.

Hiiih, apanya yang kurang sih hari ini?
Semua berusaha untuk tidak mencari tahu apanya yang kurang. Dan berusaha fokus kepada pekerjaannya.

Aneh. Semakin fokus kepada pekerjaan. Malah semakin nyadar kalau hari ini dikantor benar-benar ada yang kurang.

Apa sih yang kurang!? Ajar? Nggak, kok. Nggak ada yang kurang ajar.
Makan siang? Tunjangan makan siang orang lapangan nggak dikurangi. Menu makan siang orang kantor pun nggak berubah. Itu lagi. Itu lagi. Berubah sih. Setiap hari emang berubah. Tapi minggu depan? Ya gitu lagi.

APA YANG KURANG!?
Semua orang kembali mengerjakan pekerjaannya sehari-hari.

Sekris sang sekretaris itu seperti biasanya berkeliling ke semua kubikal untuk sekedar melihat siapa yang telat datang. Ah, itu bukan maunya. Gadis cantik itu hanya menjalankan tugasnya. Meskipun merasa sebal kalau selalu diawasi begitu, kita nggak boleh menyalahkan dia.

”B360, banget ya dia…” begitu hampir setiap hari Opri yang operator telepon itu ngirim whatch up ke teman-temannya. ”Mestinya kan dia bisa ngeliat data absensi yang disediakan orang IT.”

Kalimat itu disambut cekikikan para pecentil lainnya.
”Nggak bakal gue kasih akses ke data itu!” tiba-tiba muncul ping dari Aiti yang memang kerjaannya sehari-hari ngurusi soal IT.

”Waha, untungnya doi kalau pergi keliling kayak gitu nggak butuh SPJ, hihi…” Fiancy yang ngurusin finance menimpali.

Nggak ada yang suka sama Sekris. Kasihan. Padahal dia hanya menjalankan tugas. Sama seperti teman-temannya yang lain.

Nggak ada yang kurang, kan?
Setiap hari Sekris muterin semua ruang kubikal satu persatu. Melihat ke kolong meja kalau dia rasa perlu.

Nggak ada yang kurang. Setiap hari juga semua orang pada ngomongin Sekris yang dari gayanya sih kadang ketahuan juga kalau dia itu risih melakukan pekerjaannya. Kasihan Sekris.

Oh. Nggak juga tuch. Semua orang juga sering merasa risih mengerjakan tugasnya masing-masing. Opri. Berapa kali kena marah pelanggan yang komplen. Aiti? Paling sebel kalau Pak Mergy yang udah jadi manager itu bolak-balik minta service laptopnya. Memang sih, laptop yang keseringan dipakai surfing situs-situs aneh biasanya sering banget kena virusnya. Kalau udah gitu, Aiti lagi deh yang kena sibuknya.

Tapi Pak Mergy kayaknya risih juga dengan kerjaannya. Semua tanggungjawab harus dipikulnya sendirian. Lah, gaji gede juga nggak sepadan dengan kerjaannya.

Nah, ketemu deh apa yang kurang hari ini. Banyak banget kurangnya kita ini. Kurang gaji. Kurang kreatif. Kurang kerjaan. Tapi pan semua kejadian itu sudah jadi pemandangan sehari-hari. Nape masih bikin kita merasa kurang juga ya. Berarti bukan itu dong yang kurang. Apa dong yang kurang woooy, apa?

Diujung lorong kubikal tiba-tiba Sekris teriak; ”Ada yang tahu nggak, kenapa jam segini Natin belum datang?”

“Naahhhhh itu dia tuch yang kurang…..” heleeeh, bukannya menjawab. Semua orang dikubikal itu malah berteriak nggak karuan seperti itu.

Sekarang mereka tahu, apa yang terasa kurang hari ini. Office boy itu belum datang.

Sekris segera berlari melapor kepada manager. “Pak Mergy, Pak Mergy.” Suaranya berkejaran dengan nafas yang terengah-engah. Getaran di lantai masih terasa akibat injakan kakinya yang sangat berbobot. “Natin belum masuk kantor!” katanya.

Kehebohannya membuat semua orang di kubikal berhenti ngapa-ngapain. Mereka diam aja seperti terkena sihir pembeku sekujur tubuh. Tapi kepala mereka masih bisa nongol sedikit diujung sekat pembatas meja kerja masing-masing.

Sekarang kantor itu seperti dipenuhi batok kepala, aih batok kelapa bekas yang bertengger diatas dinding sekat kubikal. Semua menahan nafas menantikan arahan manager.

Perlu waktu beberapa detik sebelum Pak Mergy mengambil keputusan. “Jadi Natin nggak masuk kantor ya…” gumamnya seolah sedang bicara pada dirinya sendiri. Beliau berjalan mondar-mandir. Sambil menggerak-gerakan telunjuknya mendekat ke jidat.

Nafas semua orang hampir habis. Untungnya pak Mergy sudah mendapatkan ide jitu tentang apa yang harus dikatakannya. Beliau pun berteriak tak kalah histerisnya: “Haaaah, Natin nggak masuk kantor hari ini?”

Orang-orang tak sabar menantikan kalimat berikutnya. Lantas Pak Mergy beteriak lagi. “Lantas, siapa yang menyapu kantor hari ini?”

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..

Pantesan ada yang terasa kurang hari ini.
Natin nggak masuk kantor.

Tiba-tiba saja mereka menyadari jika kehadiran orang yang sering dianggap remeh itu sangat penting. Baru terasa jika dia tidak ada……..

Catatan Kaki:
Berhentilah untuk mengecilkan peran orang lain dalam kehidupan kerja kita. Karena sekecil apapun perannya, sangat berarti bagi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s