Natin Menjadi Managing Director

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ March 20, 2012 ⋅

Hanya sebentar saja orang sadar.

Orang-orang di kubikal nyadar bahwa meskipun fisiknya nggak kelihatan, nggak berarti orang lain nggak kerja. Yang kelihatan fisiknya pun belon tentu kerja.

Mereka sadar jika sekarang adalah saatnya untuk kerja. Setelah setengah harian tadi konsentrasi mereka buyar. Hanya gara-gara nggak melihat Natin. Lain kali, mereka nggak bakal lagi langsung curiga Natin nggak masuk kantor kalau batang hidungnya nggak kelihatan.

Jari jemari mereka hampir menyentuh toots keyboard desktop. Tanda bahwa pekerjaan hari itu bisa segera dimulai. Tapi nggak jadi. Seperti janjian saja. Semua orang di kubikal menghentikan jarinya dalam jarak kira-kira satu setengah senti dari keyboard.

Apa lagi yang menghentikan mereka dari pekerjaan sekarang?
Pikiran-pikiran yang menggoda benak mereka. Tiba-tiba saja mereka jadi kepikiran ini; ”Kok bisa ya Pak Presiden Direktur memanggil Natin ke ruang kerja beliau? Dia kan hanya seorang Office Boy!”

Oh, oh, oh….
Rasanya kok nggak pantes banget ada office boy yang dipanggil oleh Pak Presiden Direktur. Kalau para Direktur, panteslah. Lha, kalau OB? Aneh.

Orang-orang di kubikal menemukan keanehan yang sama.
Opri langsung berdiri. Eh, ternyata Aiti dan Fiancy juga berdiri. Begitu pula dengan semua orang yang lainnya di kubikal itu. Pikiran mereka sama.

”Emh, e-l-o pade mikir yang sama seperti yang gue pikirkan?” Opri memulai.

Semua orang di kubikal saling menatap satu sama lain. Hening untuk sementara waktu.
Lalu mereka semua mengangguk bersamaan sambil mulai menyerocoskan kehebohan. Persis seperti bebek yang sedang rapat di kandangnya.

Jangan-jangan….
Telunjuk orang-orang bergoyang-goyang….
”Jangan-jangan….” Fiancy bicara dengan nada getar menahan emosi.
Orang-orang tak sabar menantikan kelanjutannya. ”Natin dipromosikan…..” suaranya terpekik.

Haaahhhh….? Natin dipromosikan?
OB mau dipromosi jadi apa lagi? OB itu karir abadi sepanjang masa. Kalao udah jadi OB ya seumur hidup jadilah dia OB terus. Di promosi. Ngimpi….

Tapi…,
Ngapain Pak Presiden Direktur memanggil Natin selama itu jika bukan untuk dipromosi.
Semua orang di kubikal terdiam. Mereka tidak berani mengambil resiko jika kesimpulan mereka keliru. Terlebih lagi. Mereka tidak berani mengambil resiko jika Natin benar-benar di promosi.

”Oke, kita rapat lagi.” Opri kembali memimpin pertemuan penting itu. Kali ini rapat soal jabatan apa yang kira-kira akan diberikan kepada Natin. Manager OB, tidak mungkin karena OB di kantor hanya dia satu-satunya. Sekretaris, nggak mungkin. IT nggak mungkin. Finance, juga nggak mungkin. Semua posisi sudah terisi.

Fiuh… lega rasanya.
Natin nggak mungkin dipromosikan. Nggak ada posisi kosong. Maka rapat itu pun menyimpulkan bahwa hipotesa soal Natinyang akan dipromosi hanya isapan jempol belaka. Mereka pun bubar.

Aiti dan teman-temannya kembali menuju ke kubikal masing-masing. Nggak ada yang merasa aneh kecuali Sekris yang harus melintasi ruang kerja para boss. Tepat di pojok sebelah tenggara, dia melintasi sebuah ruangan besar yang sejak 3 bulan ini kosong.

Sekris berhenti tepat ketika melintas di ruangan itu.
Jantungnya berdegup kencang ketika dia melihat label di pintu ruangan itu. ”Managing Director.” Jabatan yang kosong sejak 3 bulan lalu….

Pikirannya mengelana kemana-mana.
Sel-sel otaknya mengembara ke berbagai tempat. Semua informasi berputar-putar dalam kepalanya. Lalu saking rumitnya putaran otak itu dia tidak dapat menguasainya. Sampai akhirnya Sekris berteriak;”Natin menjadi Managing Director!!!!!”

Teriakan itu nyaris membuat jantung semua orang di kubikal copot.
Benar. Hanya itu posisi yang lowong saat ini. Oh, bagaimana mungkin seorang OB diangkat jadi Managing Director?

Seperti zombie. Tak seorang pun bisa bicara lagi. Mereka hanya bisa berdiri. Lalu berjalan perlahan menuju ke ruang kosong tempat Sekris berdiri. Disana mereka hanya bisa menatap pintu bertuliskan ’Managing Director”. Tanpa bisa berkata-kata.

”Siapa yang bilang Natin diangkat jadi Managing Director?” teriakan Pak Mergy membuyarkan hipnotis itu.

Seperti orang linglung. Mereka semua saling pandang satu sama lain. Lalu menunjuk kearah ruang kosong yang cozy itu.

Pak Mergy geleng-geleng kepala.
”Jangan mengada-ada,” katanya. ”Nggak mungkin itu.” lanjutnya. ”Hayo, balik lagi ke kubikalmasing-masing.”

Maka para zombie itu pun kembali.
Tapi, pikiran mereka semua dipenuhi oleh teka-teki. Termasuk isi kepala Pak Mergy. Mungkinkah Natin mendapatkan promosi jabatan yang sedemikian bergengsi?

”Huuuuuhuhu huhu…”
Tiba-tiba saja terdengar suara aneh itu. Semua orang di kubikal penasaran dari mana datangnya. Oh. Dari ruangan Pak Mergy.

Rencananya mau duduk kembali di kubikal masing-masing. Tapi suara ’huhuhu huhu’ telah menghipnotis mereka untuk yang kedua kali. Sehingga arah semua orang sekarang berpindah. Menuju ke pintu ruangan Pak Mergy yang sudah kembali tertutup rapat.

”Huuuuu huhu huhu…” Pak Mergy menangis lagi.
Hati semua orang kubikal tersayat oleh kepedihan. ”Kenapa Natin yang dipromosikan menjadi Managing Director……” desah Pak Mergy di sela isak tangisnya.

Ya. Mengapa Natin dipromosikan menjadi Managing Director. Tidak ada logikanya. Setiap orang di kubikal merasa jika seorang OB tidak pantas dipromosikan setinggi itu.

”Mengapa Natin, oh….mengapa Natin….” suara lirih Pak Mergy kembali terdengar jelas dari lubang kunci.

Ya. Mengapa Natin.
”Saya kan sudah lama menjadi manager…” kata Pak Mergy lagi. ”Seharusnya saya yang diangkat jadi Managing Director…hohohoho…hoooooo hoho hoho….”

Tak tahan mendengar ratapan seseorang yang sudah sedemikian lamanya mengharapkan jabatan itu. Periiih hati tersayat oleh harapan yang sirna secara tiba-tiba.

Tak lam kemudian terdengar rintihan yang menyedihkan dari dalam ruangan; ”Gimana kalau nanti saya dipimpin oleh orang yang selama ini saya rendahkan…..”

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..

Tidak seorang pun bisa membayangkan untuk menjadi bawahan seseorang yang selama ini dianggap remeh.

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu tentang nasib seseorang. Hari ini, seseorang bisa jadi boss. Besok. Mungkin dia menjadi bawahan. Hari ini. Seseorang menjadi bawahan. Tapi besok. Dia mungkin menjadi boss besar.

Sesal mulai menyelusupi hati mereka. Tak ada gunanya, menyepelekan kehadiran orang lain. Bahkan sekalipun mereka menduduki posisi yang paling rendah sekalipun…..

Catatan Kaki:
Jabatan itu hanyalah titipan sementara. Hari ini kita memilikinya. Namun tak pernah tahu, kapan akan kehilangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s