Natin Mengasah Keterampilan

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ June 14, 2012 ⋅

Pada awalnya terasa janggal juga. Nggak tahu saja harus mulai dari mana. Ternyata, nggak gampang loh untuk memahami pekerjaan orang lain. Meskipun kelihatannya sepele sekali. Tapi rupanya pekerjaan orang lain tidak segampang yang kita kira. Meskipun secara teknis bisa mengerjakannya, tapi secara mental belum tentu siap melakukannya. Pekerjaan data entry misalnya. Sepele banget kan? Tapi waktu mencobanya, baru tahu kalau pekerjaan itu membutuhkan kombinasi antara jari jemari, kejelian mata, dan konsentrasi yang tinggi.

Bukan hanya orang yang belajar tentang pekerjaan orang lain yang merasakan betapa tidak mudahnya itu. Orang yang mengajarinya tidak kalah kikuk juga. Secara selama ini mereka hanya melakukannya. Tapi nggak pernah mengajarkannya kepada orang lain. Gara-gara gagasan itu, mereka jadi mesti menunjukkan kepada orang lain bagaimana cara melakukan pekerjaannya. Kita bisa saja pintar mengerjakan tugas-tugas kita. Namun belum tentu sanggup untuk menjadi guru atau mentor yang baik bagi orang lain.

Semua orang di kubikal terkesan dengan kemauan satpam itu. Meskipun pekerjaannya sebagai satpam, tapi dia mempunyai pikiran yang besar untuk meningkatkan kualitas hidupnya dimasa mendatang. Makanya dia semangat sekali untuk mempelajari hal lain selain soal kesatpaman. Dia sadar kalau kelak usianya sudah tidak mungkin kuat lagi untuk begadang semalaman karena harus bertugas di shift malam. Dengan belajar menjadi office boy, dia mempunyai peluang lain untuk tetap bisa bekerja tanpa terlalu terpengaruh oleh usinya.

Lagi pula, pekerjaannya sebagai satpam itu kan sifatnya outsourcing. Jadi, kondisinya tidak bisa menjamin kalau dia selamanya akan terus bekerja disitu. Dengan belajar tentang tugas dan pekerjaan office boy, katanya, dia bisa mempunyai keterampilan lain untuk menjaga berbagai kemungkinan.

Setelah satpam itu menceritakan soal pertemuannya dengan Natin dia pun pamit. Sementara semua orang di kubikal sepakat untuk mengikuti tindakan yang diambil oleh satpam itu. Mereka sepakat untuk mengisi waktu luang yang mereka miliki dengan belajar tentang pekerjaan orang lain. Tapi, bagaimana memulainya?

Setelah berdebat ini itu, akhirnya mereka sepakat untuk melakukan pooling. Setiap orang menulis di kertas kosong secara rahasia mengenai bidang apa yang terlebih dahulu ingin mereka pelajari. Ternyata, bidang finance mendapatkan pemilih yang paling banyak. Walhasil, Fiancy harus bersedia untuk menjadi guru pertama kalinya.

Boleh dibilang, di kubikal sekarang sedang terjadi proses pertukaran ilmu. Meskipun prosesnya belum benar-benar lancar tapi sudah menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Seru juga loh. Ada saja yang bisa bikin mereka tertawa tergelak. Misalnya yang terjadi ketika Fiancy mengajari teman-temannya tentang pembukuan. Ada yang nggak ngerti-ngerti dikasih tahu soal istilah-istilah akunting. Sudah dibilangin bolak-balik, eh tetep aja nggak nyangkut di otak. Ada yang bingung soal menempatkan jumlah tagihan dari vendor. Ini dimasukkan ke kolom kiri atau kanan. Ada yang benar-benar bolot, sehingga laporan keuangan nggak pernah bisa balance.

“Misalnya, perusahaan membeli satu set komputer seharga 5 juta secara tunai,” begitu kata Fiancy. “Itu masuk ke Aset atau Liability, siapa yang bisa jawab?” tantangnya.

Orang-orang pada mengerutkan dahi. Termasuk yang nggak mau pusing dengan urusan hitung-hitungan dan angka-angka. Soalnya kalau nggak ikut mengerutkan dari bakal ketahuan kalau dia nggak serius belajarnya. Lumayanlah. Setidaknya mereka bisa mengerti apa yang dikerjakan oleh orang-orang finance.

Ada berbagai jawaban yang keluar dari mulut mereka. Keadaan jadi seru banget ketika Fiancy, sang trainer ahli keuangan itu, mengatakan ‘salah!’. Semua orang langsung tertawa kegirangan. Lebih seru lagi ketika Fiancy bilang ‘Yes, Benar!!!’. Orang yang tadi menjawab langsung teriak ‘hore’ sambil bergaya narcis banget.

Yang paling seru adalah ketika orang-orang dengan jawaban yang berbeda itu ditanya alasan mengapa menjawab demikian. Setiap kali muncul jawaban yang berbeda menimbulkan perbedaan pandangan sehingga tanpa disadari mereka terlibat dalam diskusi yang serius banget tapi dalam suasana yang asyik.

Belum tentu loh kegiatan seseru ini bisa didapatkan dalam training finance for non finance di luaran. Soalnya kan ini dilakukan tanpa beban. Nggak pake target yang muluk-muluk. Nggak pake biaya macam-macam. Pokoknya, spirit yang dipakai kan cuman satu; belajar dari teman sendiri di waktu luang. Lagian, kalaupun melakukan kesalahan kita nggak malu. Kan yang tahu teman-teman kita juga. Nggak perlu takut juga. Soalnya semuanya kan hanya dummy. Tapi jangan salah loh. Acara ini aplikatif sekali soalnya yang diajarin sama Fiancy adalah semua hal yang membumi. Nggak ngawang-ngawang dengan teori-teori yang tinggi-tinggi.

Sekarang mereka tahu, ternyata belajar dan saling mengajari dengan teman itu bisa sangat menyenangkan sekali. Fun banget deh pokoknya. Nggak stress seperti ketika sedang mengikuti training di luar yang diwajibkan oleh perusahaan. Selain hal itu merupakan kewajiban, trainernya juga belum tentu memahami perasaan mereka. Belum lagi trainer yang ilmunya sudah menyentuh langit. Teori-teorinya jadi terlalu rumit. Jadinya nggak jelas lagi apakah trainer itu sedang mengajar, ataukah sedang menunjukkan jika dia itu orang pinter. Disini, kita semuanya pekerja. Makanya, materi belajarnya pun terkait langsung dengan pekerjaan.

Bukannya menganggap teori itu nggak penting. Pastinya penting dong. Tapi apa sih gunanya teori kalau nggak nyambung dengan kenyataan dalam pekerjaan sehari-hari. Waktu Fiancy ikutan trainingnya yang resmi pun begitu. Pulang dari training dia mendapatkan setumpuk makalah yang di bundle menjadi modul yang tebalnya minta ampun. Boro-boro sanggup membacanya setelah training. Pada saat training pun cuman dibahas sekilas aja kok. Makanya pulang dari training berhari-hari itu cuman bisa membawa pulang ilmu sedikit aja.

Jadi penyedia training publik itu jelek? Oh. Nggak sama sekali. Mereka bagus kok. Hanya saja, semua materi yang mereka buat itu bersifat umum. Jadi, wajar aja kalau nggak bisa menyentuh kasus-kasus aktual yang secara nyata dihadapi oleh Fiancy. Tapi, dari pengalaman itu Fiancy mendapatkan pelajaran penting, yaitu; mengajari teman-temannya soal hal-hal yang praktis aja.

“Selamat siang Mbak, mohon ijin untuk bicara,” Satpam itu datang lagi. Tapi kali ini tidak membawa minuman seperti kemarin.
“Ada apa Mas?” Opri langsung memandang kearahnya.
“Siap, saya disuruh Natin untuk menyampaikan pesan,” katanya.
“Ya sudah, simpan aja pesannya di meja itu dulu…” balas Opri.
“Siap Mbak, mohon maaf pesan dari Natin hanya bisa disampaikan secara lisan.” Jawab satpam itu.

“Ya udah, kalau gitu ceritakan apa pesan Natin,” Kata Fiancy sambil memberi isyarat kepada Opri dan teman-temannya supaya memberinya kesempatan untuk bicara.

Satpam itu lalu mengatakan kalau Natin menitipkan pesan ini. Katanya:

AJARKANLAH KEPADA ORANG LAIN – MAKA KETERAMPILANMU AKAN SEMAKIN TERASAH

Hal itu benar-benar dirasakan oleh Fiancy. Minimal, melalui persiapan yang dilakukannya sebelum mengambil peran sebagai pengajar bagi teman-temannya. Meskipun semua pekerjaannya menyangkut akunting sudah bisa dikerjakannya, tapi dia tetap belajar lagi untuk memastikan kalau acaranya bisa berhasil baik. Jangan sampai ada pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya. Sehingga dia menyiapkan dirinya semaksimal mungkin. Fiancy berusaha kembali mengingat beberapa istilah yang selama ini sudah dia lupakan.

Hari ini Natin mengajari mereka dua hal yang penting. Yaitu menjadi seorang pembelajar. Dan menjadi seorang pengajar. Menurut Natin, belajar dan mengajar itu adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Hal itu menjadi tambahan pemahaman baru bagi orang-orang di kubikal.

Selama ini, mereka sudah mengenal prinsip learning by doing. Belajar dengan cara melakukannya. Pernah ada trainer eksternal yang diundang oleh perusahaan untuk menjelaskan prinsip learning by doing itu. Ternyata memang sangat ampuh sekali. Dengan mengerjakannya, mereka belajar secara lebih efektif. Sayangnya, prinsip itu punya efek samping yang berat. Misalnya, atasan yang selalu mengatakan “kerjakan dulu deh, nanti kamu akan tahu dimana salahnya…”

Ya susah dong kalau begitu. Segala sesuatunya kan mesti pake ilmu. Kalau nggak diajari dasar-dasarnya sudah pasti banyak salahnya. Trial and error emang bagus, tapi kalau trialnya kelamaan dan errornya kebanyakan kan sangat merugikan semua pihak juga. Repotnya, seringkali prinsip learning by doing itu disalahgunakan sama atasan yang malas mengajari anak buahnya. Mereka menuntut anak buahnya belajar sendiri, karena merasa repot kalau harus mengajari. Pekerjaan atasan kan banyak sekali!

Di kantor, banyak atasan yang berperilaku seperti itu. Nggak mau susah mengajari bawahannya. Tapi nggak mau terima kalau mereka melakukan kesalahan. Bagi mereka, bawahan itu harus langsung bisa melakukan apa yang mereka inginkan. Makanya, mereka lebih suka menerima bawahan yang sudah berpengalaman. Padahal, nyatanya pengalaman tidak selalu berkorelasi dengan kemampuan kerja yang mumpuni.

Tapi nggak fair juga sih kalau menunjuk hidung para atasan itu. Soalnya. Banyak juga atasan yang dipromosi, terus langsung bertugas untuk memimpin orang-orang di team kerjanya. Padahal, mereka belum pernah mendapatkan training kepemimpinan. Jadi, mereka juga meraba-raba soal apa yang mesti dilakukannya sebagai seorang pemimpin. Mestinya kan mereka dikasih ilmu untuk memimpin. Supaya proses adaptasi dari staff menjadi pemimpin itu bisa berjalan lebih smooth… dan terhindar dari kegagalan yang nggak perlu. Soalnya kalau sedari awal menjadi pemimpin mereka sudah ngawur, bakal sulit untuk memperbaikinya. Jadinya semua serba ruwet deh.

Namun hari ini, Natin telah membuka pemahaman baru kepada mereka. Natin bukan lagi mengajarkan learning by doing. Melainkan Learning by teaching. Bukan berarti learning by doing itu buruk, tetapi Natin mengajak kita untuk naik satu tingkat lebih tinggi. Setelah bisa ‘doing’ itu, kita ditantang untuk bisa ‘teaching’.

Hari ini, semua orang di kubikal sudah bisa membuktikannya. Mereka sekarang mempunyai pengetahuan dan keterampilan tambahan di bidang akunting. Bahkan ada beberapa orang yang sudah bisa mengerjakannya dengan sangat baik. Sebaliknya, Fiancy pun bisa belajar dari pertanyaan yang selama ini tidak pernah kepikiran sama dirinya. Termasuk pertanyaan sulit yang belum bisa dijawabnya sehingga dia harus mengatakan;”Nah, kalau soal itu gue mesti mikir dulu. Besok gue kasih jawabannya ya…” Maka dia pun semakin terpacu untuk belajar lagi.

“Permisi anak-anak, saya mau bicara empat mata sama Sekris,” Sekonyong-konyong suara Pak Mergy membuyarkan konsentrasi mereka.

Pasti nggak ada orang yang bisa menghalangi keinginan Pak Mergy dong. Sekris langsung menghampiri beliau. Lalu “Ya Pak…” katanya.

“Kris, saya mau kamu kerjakan yang ini dan yang ini, dan yang ini juga, ya.” Pak Mergy menyodorkan setumpuk dokumen kepadanya. “Mesti selesai sore ini,” katanya.

Orang-orang di kubikal pada menahan tawa karena geli. Mintanya bicara 4 mata. Tapi semua tingkah dan kata-katanya bisa didengarkan dan disaksikan oleh orang lain. Yaah… begitulah Pak Mergy.

“Oh, emh… “ Sekris terlihat ragu. “Yang ini saya belum pernah, Pak.. enggh… bisa Bapak kasih tahu bagaimana caranya?” wajah bulatnya terlihat laksana bulan purnama.

“Ohoh, soal itu. Kan kamu bisa berusaha untuk mencari literaturnya sendiri. Yak an?” balas Pak Mergy. “Learning by doing dong….” Tambahnya.

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa hanya orang-orang yang mampu melakukan setiap pekerjaan dengan tangannya sendirilah yang bisa mengajari orang lain. Dan hanya dengan cara mengajari orang lainlah keterampilan yang dimiliki itu menjadi semakin terasah. Agak mirip seperti telur dan ayam memang. Hanya jika ada ayam, bisa ada telur. Dan hanya jika ada telur, bisa ada ayam. Makanya, mengerjakan sesuatu dengan tangan kita sendiri menjadi sama pentingnya dengan mengajari orang lain tentang hal itu.

Ternyata ilmu dan keterampilan kita juga begitu. Hanya bisa mengajari orang lain, jika sudah terampil. Dan hanya bisa benar-benar terampil, jika beresedia mengajari orang lain. Pantaslah kalau Tuhan menempatkan orang-orang yang berilmu itu pada derajat yang tinggi. Karena orang-orang yang benar-benar berilmu itu adalah mereka yang melakukan apa yang mereka katakan. Dan mereka mengatakan apa yang mereka lakukan. Artinya, orang yang ilmunya bener itu ditandai dengan keselarasan antara kata dan perbuatannya.

Catatan Kaki:
Ilmu itu ajaib. Malah semakin bertambah ketika pemiliknya semakin rajin menyebarkannya kepada orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s