Natin Menemukan Semangat Baru

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ June 7, 2012 ⋅

Pindah ke kubikal yang baru.

Mestinya hal itu bisa menjadi momen untuk berubah menjadi pribadi baru. Tapi susah juga sih kalau hati sudah keras seperti batu. Semua hal baik yang dilakukan oleh managemen bisa diterjemahkan sebagai tindakan buruk.

Padahal, dalam acara peresmian kubikal baru itu pun Pak Presiden Direktur sudah menyampaikan pesannya dengan jelas. Di acara tumpengan itu beliau mengharapkan agar semua orang yang pindah ke kubikal baru itu bisa memiliki semangat baru dalam bekerja. Sehingga dengan semua peralatan yang serba baru itu, mereka diharapkan bisa menunjukkan prestasi kerja yang lebih baik.

Emang begitu ya. Kalau hati kita sudah dipenuhi oleh prasangka. Kebaikan apapun yang dilakukan oleh orang lain untuk kita. Selalu saja direspon secara negatif. Alih-alih senang diberi fasilitas baru. Eh. Mereka malah menyumpah-nyumpah. Merasa kalau mereka itu diusir dari tempat kerja yang selama ini sudah menjadi zona nyamannya.

Didepan Pak Presiden Direktur sih mereka manggut-manggut. Menunjukkan kalau mereka itu merasa terhormat sudah mendapatkan kesempatan baik di tempat yang baru. Bertepuk tangan paling heboh ketika pita yang melintang di pintu gerbang itu digunting. Makan paling banyak ketika nasi tumpeng sudah boleh diserbu. Tampil paling heboh ketika dipersilakan mencoba fasilitas-fasilitas baru.

Kelihatannya aja mereka antusias dengan perubahan itu. Padahal. Setelah Pak Presiden Direktur dan BOD lainnya pada meninggalkan tempat. Omongan mereka sudah beda lagi. Nggak tahu deh. Apakah hati mereka yang berpenyakit. Ataukah mereka itu justru orang-orang yang cerdik. Mungkin memang berpenyakit. Soalnya, mereka memakai topeng supaya bisa bermuka dua. Mungkin juga memang cerdik, sehingga mereka tahu harus memasang topeng yang mana saat berhadapan dengan siapa.

Tapi. Satu hal saja yang bisa disimpulkan dari keadaan itu. Orang yang hatinya berpenyakit dikombinasikan dengan otaknya yang cerdik, bisa berubah menjadi orang yang….licik!

Itu baru ngomongin soal perpindahan kubikal loh. Yang jelas-jelas kondisinya lebih baik daripada yang sebelumnya. Bukan soal berubah yang enggak enak-enak gitu.. Mestinya orang-orang yang tetap tinggal di kubikal lama yang protes. Mereka nggak protes tuch. Terima aja. Sekalipun sebenarnya mereka mau juga kalau dipindah ke kubikal yang baru.

Emang sih. Capek juga mesti mindahin barang-barang serta semua file yang berhubungan dengan pekerjaan. Ribet banget. Tapi. Semuanya bisa ditebus dengan suasana baru. Meja dan kursi baru. Serta perlengkapan kerja yang serba baru lainnya. Tapi. Mereka percaya kalau semuanya sudah diputuskan oleh management. Dan mereka terima aja. Toh itu bukan soal kenaikan gaji atau tunjangan yang dibeda-bedakan.

Mereka bersyukur. Managemen telah mau menyewa tambahan space kantor agar suasana kerja menjadi lebih nyaman. Nggak uyel-uyelan seperti sebelumnya. Kan nggak sedikit juga uang sewa yang mesti dikeluarkan. Apalagi di pusat perkantoran keren seperti itu. Soal siapa yang tinggal dan siapa yang pindah kan nggak terlalu penting untuk dipermasalahkan. Lagian cuman beberapa langkah aja kok. Nggak beda lantai. Apalagi beda gedung.

Kontras banget kan cara orang merespon kebijakan managemen? Tindakannya sama. Tapi responnya bisa beda-beda. Celakanya. Respon negatif itu gampang banget mempengaruhi orang lain. Bisa-bisa. Orang yang sebelumnya berpikir positif juga bisa terpengaruh sehingga mereka berubah jadi negatif juga.

Sama seperti misalnya kita memasukkan telur busuk kedalam keranjang telur yang bagus-bagus. Bukan telur busuk itu yang berubah menjadi telur bagus. Malah telur bagus itulah yang bisa ikut menjadi busuk.

Emang sih. Manusia bukan telur. Yang bisa pasrah aja dengan apa yang ada di lingkungannya. Kita punya pertimbangan akal dan perasaan. Makanya kita bisa tahu mana baik dan mana buruk. Mana yang harus diikuti dan mana yang mesti dihindari. Cuman. Dalam prakteknya nggak selalu semudah itu.

Saking panasnya telinga. Opri dan teman-temannya di kubikal lama pernah juga menyampaikan unek-uneknya.

Ketegangan sempat berlangsung cukup lama. Sehingga persetruan antara Opri dan Voldy semakin memuncak. Dan berkepanjangan. Baru mulai mereda setelah Natin masuk menjadi Office boy di kantor itu.

Dulu. Hampir setiap hari terjadi keributan antara Opri dan Voldy. Kejadiannya dimana lagi kalau nggak di pantry. Soalnya. Itulah satu-satunya tempat yang dikunjungi oleh semua karyawan. Dari semua bagian. Dan dari semua tingkatan.

Nggak cuman pagi-pagi ketika orang-orang mengambil minum. Tapi juga siang hari kalau mereka pas lagi males makan di luar. Atau sore hari ketika mereka memakan cemilan. Malahan. Kadang-kadang juga beberapa manager ngumpul di pantry ketika menunggu meeting dengan boss besar dimulai. Kalau di ruang meeting, gerah katanya.

Pokoknya. Nggak ada bedanya deh dengan kondisi pantry di semua kantor. Kecuali ketika Opri dan Voldy pas lagi bareng-bareng masuk ke ruangan itu. Pasti terjadi keributan kecil.

Di hari pertama Natin masuk kerja. Terjadi persetruan mereka soal kubikal baru itu terjadi pas seru-serunya. Kedua jagoan itu ngotot dengan pendapatnya masing-masing. Semua orang juga bisa ngerasain kalau Voldy itu emang cuman cari gara-gara. Sedangkan Opri terlalu mudah tersulut emosinya.

Voldy tidak henti-hentinya mengungkit-ungkit soal perpindahan pantry itu. Dan dia selalu punya alasan untuk mempermasalahkan setiap kebijakan managemen. Bagi Voldy. Apapun yang dikatakan oleh managemen selalu dianggap tidak adil. Sedangkan Opri sudah cukup muak dengan ocehannya.

Teman-teman Opri sudah mengingatkan kalau sebenarnya Voldy itu cuman mau cari perhatian aja. Dia itu cowok caper. Soal itu Opri sendiri sudah setuju dengan pendapat semua orang. Tapi, ada satu krusial lainnya yang membuat Opri tidak sepaham dengan teman-temannya. Yaitu, ketika mereka bilang kalau Voldy itu sengaja mencari perhatian Opri.

Jadi sebenarnya Voldy bukan ingin mempermasalahkan kebijakan managemen. Tapi dia sengaja menggunakannya sebagai kesempatan untuk ‘berdekatan’ dengan Opri. Nah. Soal ini nih yang nggak bisa diterima oleh Opri. Dia ngotot kalau persetruan itu murni soal prinsip terhadap pekerjaan.

Ada banyak orang yang menyaksikan pertengkaran di pantry itu. Perhatian semua orang tersedot kepada kehebohan yang ditimbulkannya. Sampai-sampai mereka semuanya tidak menyadari kalau Natin pun memperhatikan seluruh detail kejadiannya. Sebagai orang baru. Apa lagi posisinya yang hanya office boy. Natin sama sekali nggak ikut campur. Hanya orang-orang itu saja yang berusaha untuk melerai.

Usaha mereka baru berhasil setelah beberapa orang menarik Voldy untuk menyingkir dari pantry. Setelah beberapa teriakan dari mulut masing-masing. Akhirnya suasana kembali hening.

“Tinggalkan gue sendiri deh…” begitu Opri menjawab ketika teman-temannya berusaha untuk menghiburnya.

“Oke deh kalo gitu…” itulah yang dikatakan oleh teman-temannya sambil beranjak pergi. “Tapi elo baik-baik aja kan?” kata mereka ketika kaki mereka hendak melintasi garis pintu pantry.

Opri mengangguk. Sekarang dia tinggal berdua dengan office boy baru itu. Dengan malas dia melirik ke kursi plastik di pojokan yang tadi didudukinya. Hloh…kemana office boy itu? Dia sudah tidak terlihat lagi di tempatnya.

“Ah, sudahlah… gak penting.” Opri menepiskan tangannya. Dia tidak perlu pusing memikirkan office boy itu. Dia malah seneng. Karena bisa sendirian di ruangan itu. Lalu kembali menatap cangkir kopi yang sedari tadi tidak disentuhnya.

Ketika matanya melihat cangkir itu dia melihat ada secarik kertas terselip disana. Tulisan didepannya jelas sekali menunjukkan jika kertas itu ditujukan kepadanya. ‘Untuk Mbak Opri….’

Opri agak heran juga. Soalnya. Nggak pernah ada orang yang memanggilnya dengan sebutan ‘Mbak’. Hanya satu kemungkinannya. Yaitu orang yang baru bergabung di kantor itu. Dan hanya satu orang yang baru bergabung dikantor itu. Yaitu. Office boy itu.

Opri membuka lipatan kertas itu. Dan dia membaca tulisan ini:

SEMANGAT BARU ITU ADANYA DIDALAM DIRI
BUKAN PADA FASILITAS BARU DAN KEBENDAAN LAINNYA

Sejak saat itu Opri tidak lagi gampang terpengaruh oleh ulah dan ocehan Voldy.

Sekarang Opri mengerti. Mengapa ada orang-orang yang dikasih apapun tetap saja merespon secara negatif. Mengapa ada orang-orang yang diperlakukan bagaimanapun juga tetap saja menganggap orang lain salah.

Seperti kata Natin. Segala sesuatunya sangat ditentukan oleh apa yang ada didalam diri kita sendiri. Jika kita memang baik. Semua hal yang datang dari luar akan direspon dengan cara yang baik. Bahkan sekalipun orang lain melakukan sesuatu yang buruk.

“Heh! Ngapain elo pake ngelamun segala?”
Opri benar-benar terperanjat dengan pertanyaan itu. Seperti liliput kecil yang tiba-tiba menampakkan dirinya Fiancy ujuk-ujuk sudah berada dihadapannya. Menempuk bahunya sampai jantungnya nyaris copot….

“Aduduhh… ajaja… dasar lu ya. Bikin gue kaget aja!” Opri menghardik habis-habisan.
“Ya elonya tuch yang aneh. Gue udah berabad-abad nongkrong disini.” Balas Fiancy. “Gue panggil-panggil kok nggak jawab. Ya udah gue tampol aja pundak elo yang sterek itu…”

Opri cuman bisa melongo. Setengah nggak percaya kalau temannya itu sudah dari tadi nongkrong disitu.

“Tumben. Elo ngelamun kayak gitu,” Aiti menghampiri.
‘Gawat. Apakah gue sudah separah itu ya….?’ Opri bergumam dalam hatinya sendiri. Hampir nggak percaya kalau pikirannya melayang hingga jauh ke masa lalu seperti itu.

“Elo lagi jatuh cintrong ya non….?” Jeanice melontarkan pertanyaan nakalnya.
“Ngaco lo ah!” Opri gondok setengah mati. Bukan karena dia merasa ditohok. Tapi dia merasa kalau sampai saat ini pun belum ada cowok yang menurutnya cocok buat dirinya.

“Elo sih boleh aja bilang gitu, Pri…” Sekris menanggapi dengan santainya. “Tapi… sejak kejadian di warung Mak Minun kemarin, kayaknya elo lebih sering mikirin Voldy……ya nggak teman-teman……”

Semua cewek itu langsung terpekik-pekik. Antara lucu. Iseng. Dan seneng ngeliatin reaksi Opri.

“Yeee… apa-an sih elo. Gue mikirin Voldy bukan karena gue suka sama dia tauk!” hardiknya. Ketihatan sekali kalau dia bener-bener kesel.

“Lho, siapa yang bilang elo seneng sama Voldy, Pri….?” Timpal Fiancy menimpali lagi. “Sekris kan cuman bilang kalau elo mikirin Voldy… eh, ternyata bennner…hihi…”

Opri nggak tahan lagi dengan ocehan absurd itu. Dia mengejar cewek-cewek yang pada berhamburan menjauhinya.

Untuk beberapa waktu keadaan dikubikal menjadi heboh. Semua orang yang sedang duduk pun pada ikutan mengolok Opri. “Dari dulu juga elo cocok kok sama Voldy…” katanya. Opri pun berganti arah mengejar orang yang baru ngomong itu.

“Hampir jadian, tapi keburu pindah ke kubikal lain….” Itu adalah kalimat yang dikatakan oleh orang lainnya. Tepat ketika Opri hampir bisa menangkap orang yang tadi. Maka Opri pun berlari kesana kemari. Mengejar semua orang yang semakin semangat menggodanya.

“Anak-anak….!” Teriakan keras Pak Mergy menghentikan langkah mereka.
Tak seorang pun yang berani menatap kearah beliau. Mereka nyadar kalau sudah melakukan sesuatu yang nggak pantas di jam kerja. Mestinya mereka nggak lari-larian kayak gitu. Ini kantor. Bukan sekolahan. Apalagi saat ini sedang ada tamu penting yang sedang meeting dengan Pak Presiden Direktur.

Mereka hanya bisa pasrah aja. Gimana lagi. Udah terlanjur. Tak ada yang bisa dilakukan selain berharap Pak Mergy tidak memarahi. Kecuali Opri yang dibakar oleh kekesalan yang semakin menjadi. Karena dia tidak bisa membalas kejahilan teman-temannya.

Suasana hening dalam penantian keputusan yang bakal diambil oleh Pak Mergy. Ketika semua orang bersiap-siap untuk mendengarkan kata-kata beliau selanjutnya. Pak Mergy berjalan mendekati mereka.

Semakin lama. Semakin terasa langkahnya. Dan semakin mencekam keadaannya. Membuat semua orang di kubikal menahan nafas. Menantikan apakah gerangan fatwa yang akan disampaikan oleh Pak Mergy.

“Ada yang tahu nggak sih…” kata Pak Mergy. Gadis-gadis itu makin mengkerut. “CLBK itu artinya apa sih?”

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…… .

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa bukanlah fasilitas baru yang bisa menghasilkan semangat baru. Bukan juga hal-hal lain yang sifatnya material yang bisa menambah antusiasme seseorang dalam bekerja. Melainkan sikap dia menghadapi situasi di tempat kerja. Apapun yang terjadi disana. Pasti jadi kebaikan. Bagi orang-orang yang sikapnya baik.

Jabatan baru. Fasilitas baru. Dan semua hal yang baru lainnya tidak mungkin sering-sering kita dapatkan. Skema insentif baru. Atasan baru. Managemen baru. Belum tentu sesuai dengan selera semua orang. Makanya. Bener kata Natin. Jangan pernah membiarkan orang lain menentukan semangat didalam dirimu. Karena mereka tidak benar-benar tahu apa yang engkau inginkan. Natin bilang; temukanlah didalam dirimu sendiri. Karena didalam dirimu itu. Tersimpan semua gagasan tentang apapun yang engkau dambakan dalam hidupmu. Itulah yang akan selalu menjadi penyemangat. Di sepanjang hidupmu.

Catatan Kaki:
Meskipun kita tidak selalu mendapatkan hal-hal baru. Tetapi kita bisa selalu menumbuhkan semangat baru didalam diri kita. Karena setiap hari baru yang kita jalani. Menyimpan harapan baru. Bagi pribadi-pribadi yang dapat menemukan semangat baru dari dalam dirinya sendiri. Hore, Hari Baru!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s