Kembalinya Orang Udik

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ August 27, 2012 ⋅

 Tepat sepuluh hari.
Sama dengan sepertiga bulan lho. Mereka tidak bertemu satu sama lain. Rasanya memang nggak terlalu lama. Soalnya, setiap orang mempunyai kesibukannya masing-masing dengan keluarga di kampung halaman. Yang nggak mudik juga sibuk menikmati jalanan yang lengang di setiap pojok jalan-jalan ibu kota. Oooh… rasanya legaaa… sekali. Tapi, sepertiga bulan. Mestinya sih bukan waktu yang sebentar. Khususnya bagi mereka yang mempunyai sahabat dekat di kantornya.

Emang sih, badan terasa lelah sekali ketika baru tiba kembali dari rumah. Tapi, mendadak saja; rasa rindu itu timbul begitu saja. Teman-teman yang untuk sementara waktu kemarin terlupakan, mendadak kembali hadir sosoknya dalam benak masing-masing. Hari senin ini mestinya menjadi saat dimana perasaan rindu itu tercurahkan. Makanya, semua orang pada datang lebih awal. Walhasil, kubikal sudah mulai ramai sejak jam tujuh pagi tadi.

Keramaiannya nyaris seperti di pasar. Entah siapa yang memulai, tapi tahu-tahu semua orang sudah pada bergerombol sambil nyerocos soal ini dan itu. Satu hal yang pasti; mereka pada bersalaman, sambil mengucapkan; “Maafin gue ya….”

Kalau cowok-cowok sih cuman salaman aja sambil tukar sapaan. Tapi yang cewek? Lain dong. Mereka pada pake cipika cipiki segala. Eith, nggak cukup sampai disitu. Mereka pelukan. Berlomba mengucapkan sesuatu sampai-sampai mereka sendiri nggak bisa mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Maklum. Bukan juga perempuan kalau nggak bicara tanpa ada terminalnya. Pokoknya mereka ngomong aja. Nggak terlalu peduli jika kata-kata mereka saling bertabrakan. Habis itu, mereka pada cekikikan.

“Iiihh… elo kok makin cantik aja sih Jean….” Puji Sekris.
Biasa dong, yang dipuji melayang tanpa peduli apakah pujiannya itu beneran atau hanya sekedar basa-basi doang.

“Elo yang makin cantik, Kris…” Jeanice nggak kalah terampil memuji. “Penampilan elo makin oke aja….”

“Kalau gue sih nggak tahu ya Jean…,” balas Sekris. Pipinya bertambah tembem gara-gara mulutnya dibuat agak cemberut. “Perasaan puasa gue udah habis-habisan,” lanjutnya. “Tapi badan gue, tetep aja bahenol……”

Hening sebentar. Lalu keduanya tertawa keras sekali.
“Jadi niat puasa elo cuman buat ngurusin badan yang bongsor itu ya?” tiba-tiba saja Opri menyela mereka.
“Waaaah….. elo kapan datang Pri?” Keduanya memburu Opri. Lalu memeluknya.
“Nggak gitu-gitu amat kali, bok!” Jelas Sekris ketika kedua pipi mereka bersentuhan. “Puasa gue,” katanya. “Murni ibadah.” Tambahnya.

“Oke deeeh…” balas Opri.
“Kalau soal ngurangin berat badan sih….” Sekris nyengir. “Ngarep juga, hahahaha….”
Tawa ketiga gadis itu mengalahkan kegaduhan yang terjadi disudut lain. Seperti magnet aja. Satu demi satu orang-orang di kubikal mendekat kearah mereka. Lalu kerumunan-kerumuman kecil-kecil itu akhirnya menghilang. Yang tersisa sekarang hanyalah sebuah gerombolan besar di tengah ruangan.

Lah, ternyata. Nggak usah ada acara halal bihalal segala. Mereka sudah secara otomatis melakukannya begitu hari pertama masuk kerja. Nggak ada yang menyuruh pula. Selain itu, suasananya jadi terasa hidup dan spontan. Nggak ada protokoler. Atau aturan apapun yang membuat keadaan menjadi kaku. Beda banget sama acara halal bihalal yang seperti biasanya. Kesannya formal banget. Salamannya mesti giliran. Ngantri seperti orang mau beli tiket kereka api.

Acara sepontan kayak gini nih yang paling seru. Siapapun bisa berseliweran kemanapun. Salaman dengan siapapun. Dan boleh nyeletuk semaunya. Ciri kalau kehidupan di kubikal sudah kembali pulih seperti sedia kala.

Kayaknya, semua orang di kubikal sudah saling bersalaman. Tapi karena nggak ada yang mengatur siapa yang harus ngomong dan siapa yang mesti diam. Makanya nggak jelas lagi sekarang seseorang sedang mengatakan apa. Cuman gemuruh aja yang bisa kedengaran dengan jelas. Sesekali ada suara tawa yang meledak. Setelah itu gemuruh lagi. Persis seperti bunyi nyamuk yang beterbangan di belakang telinga. Ada suaranya. Tapi tidak jelas apa katanya.

Selain suara yang nggak karuan itu, ada setumpuk makanan diatas meja. Sampai-sampai mereka bingung harus mulai mencicipi dari yang mana. Ada lanting. Bakpia. Keripik sanjai. Dodol. Rengginang. Opak. Kolontong. Tape ketan. Kue putri salju juga ada. Manisan terong. Jenang. Kacang disko. Kerupuk upil. Keripik kentang. Manisan pepaya. Kismis. Apa lagi tuch. Ada banyak jenis makanan yang nggak tahu namanya apa. Pokoknya semuanya bertumpuk di meja yang mereka kerubuti.

Inilah repotnya.
Sudah susah-susah membersihkan usus selama satu bulan penuh. Eh, sekarang dipenuhi lagi dengan berbagai macam makanan yang terlalu sayang kalau dilewatkan. Biarin! Nanti bisa diet lagi!

Nggak kerasa. Hapir dua jam mereka bergerombol disitu. Entah berapa ribu kata sudah mereka ucapkan. Dan entah berada ribu kalori lagi yang mereka telan. Momen itu benar-benar terlalu indah untuk dilewatkan.

“Sudah jam Sembilan.” Teriak Fiancy.
Semua orang melihat jam tangannya masing-masing. Sama sekali tidak ada yang bersuara ketika mereka melakukan itu. Lalu, semua wajah menengok ke kubikalnya masing-masing. Terbayang betapa banyaknya pekerjaan yang sempat tertunda selama mereka menikmati liburan. Sepertiga bulan!

Setelah puas menengok meja kerja di kubikalnya, mereka saling menatap satu sama lain. Suasananya sedemikian hening. Sehingga setiap orang bisa mendengar jelas helaan nafas panjang masing-masing. “Selamat datang kembali ke dunia nyata…..”

Meski terasa berat. Tapi, mereka semuanya menyadari kalau memang begitulah adanya hidup. Suka atau tidak. Mereka mesti menghadapi kenyataan itu. Kalau tidak suka, ya mereka sendiri yang rugi karena bekerja dengan terpaksa. Makanya, nggak ada pilihan lain untuk tetap ceria selain menyambut semua pekerjaan yang tertunda itu dengan suka cita.

“Sudahlah…” Ceplos Aiti memecah keheningan itu.
Seperti tersadar dari lamuman. Semua orang kembali bangun dari impian mirisnya.
“Sudahlah bagaimana maksud elo, Ti?” Opri penasaran.

“Maksud gue,” jawab Aiti. “Sudahlah……. teruskan saja ngobrolnya…. Hahahaha…..”
Semua orang terkesan dengan ide cemerlang Aiti. Ya sudahlah. Nggak usah mikirin pekerjaan dulu. Teruskan saja kangen-kangenannya. Kemudian seluruh ruangan itu gemuruh lagi.

“Ya udah, kita sama-sama aja kaleee…” entah siapa yang mengatakan kalimat itu. Tapi, kelihatannya semua orang langsung setuju. Aneh banget. Perasaan tadi mereka ngomongnya nggak terarah gitu. Nggak jelas siapa bicara apa. Kepada siapa. Tapi kok tiba-tiba saja mereka sepakat untuk satu hal itu. Sesuatu yang mereka akan lakukan bersama-sama itu.

“Iya, sama-sama aja.” Sahut Sekris.
“Nggak enak lagi, kalau kita lakukan sendiri-sendiri,” sambung Fiancy.
“Ya udah, kita mulai dari siapa dulu?” tanya Jeanice.

Mereka terdiam untuk sementara waktu. Lalu….
“Pak Presiden Direktur?” teriak semua orang. Berkat energy semesta yang utuh, mereka sepakat lagi secara otomatis. Kemudian, gerombolan itu bergerak menuju ke ruang kerja Pak Presiden Direktur.

Ooooh, rupanya mereka mau bermaaf-maafan sama beliau. Bener banget. Paling nggak enak kalau harus melakukannya sendirian. Selain risih. Ngeri juga kalau menghadap para boss di ruang masing-masing. Kalau dilakukan rame-rame kan nggak kerasa stressnya.

Nah, di ruangan Pak Presiden Direktur ini para bebek itu mengantri dengan tertib. Bersalaman dengan beliau sambil mengucapkan minal aidin walfaidzin.
“Ada angpaunya nggak ya?” celetuk seseorang.
“Sssshhhht! Jangan keras-keras bleh!” tegur yang lainnya. “Kedengeran tahu nggak sih!”
Lalu keadaan kembali hening. Para bebek pun kembali meneruskan antriannya.

Setelah semua bersalaman. Pak Presiden Direktur menyampaikan sambutan. Emhh… bukan sambutan kali ya… kok jadi kayak upacara begini. Mungkin… sepatah dua patah kata… atau…. Ah peduli deh, apapun namanya. Pokoknya, beliau menyampaikan beberapa kalimat emh… nasihat… oh….

“Bagaimana kabar keluarga kalian?”
“Baik Pak….” Semua menjawab serempak. Kayak vocal group gitu deh. Ada yang kebagian suara satu, suara dua, suara tiga dan …suara sumbang.
“Saya senang kalian kembali dari mudik dalam keadaan sehat walafiat,” lanjut beliau. “Hal itu patut kita syukuri.” Katanya. “Kalau kita lihat di tivi, telah terjadi cukup banyak kecelakaan di jalan selama arus mudik berlangsung. Dan Tuhan sudah memberi kita perlindungan hingga bisa kembali tanpa kurang apapun.”

“Isi dompet yang berkurang Pak…” entah siapa yang nyeletuk lagi. Membuat kesal teman-teman semuanya. Mungkin maksudnya dia cuma nyeletuk pelan. Tapi karena semua orang konsentrasi pada pidato Pak Presiden Direktur, suara celetukannya malah jadi kedengaran jelas sekali.

Pak Presiden Direktur berhenti sejenak. Untungnya beliau memperlihatkan wajah yang sumeringah dengan senyum penuh kesabaran. Sehingga orang-orang udik itu tidak terlalu wajib menanggung beban ikut malu.

“Memang pulang kampung itu tidak murah,” beliau meneruskan. Nggak sangka, ternyata beliau merespon celetukan itu. Sekarang, orang-orang pada berdebar menantikan apa yang akan dikatakannya kemudian.

“Makanya, perusahaan memberikan kalian THR.” Lanjutnya. “Apakah semua sudah menerima THR?” tanya beliau.

“Sudah Pak…” kebanyakan orang bilang begitu.
Tapi ada juga yang bilang “Sudah habis Pak…..” Iiiih… bikin gemes aja tuch orang. Lama-lama juga bisa habis kesabaran!

Untungnya Pak Presiden Direktur tidak tersinggung. Beliau malah tersenyum. Lalu katanya;”Dulu, saya juga pernah mengalami keadaan seperti kalian.” Ajaib sekali. Kata-kata beliau seperti mengandung mantra. Semua orang di kubikal merasa jika beliau pun dapat memahami keadaan mereka. Lebih dari itu, mereka sekarang sudah nggak bisa lagi belaga sok tahu.

“Gaji bulanan saya langsung habis.” Lanjut beliau. “Dan THR saya tidak pernah cukup,” katanya. “Kemudian saya berpikir bahwa saya tidak bisa selamanya begitu. Saya harus berubah. Dan seperti yang kalian lihat sekarang. Kehidupan saya, jauh lebih baik daripada sebelumnya.”

Semua orang menghela nafas. Campur aduk antara serasa disindir dan dimotivasi.

“Ada yang ingin tahu apa yang saya lakukan untuk mengubah nasib saya?” Pak Presiden Direktur bertanya. Tapi, tak seorang pun yang menjawabnya.
“Sederhana saja,” kata beliau. “Saya bekerja lebih baik daripada orang lain. Sehingga akhirnya saya mendapatkan kepercayaan lebih besar dari perusahaan. Seperti yang saat ini kalian ketahui.”

Semua orang semakin terdiam.
“Saya tahu. Kalian pun bisa meraih pencapaian yang tinggi dalam karir kalian. Sehingga gaji dan THR kalian tidak akan kekurangan lagi. Bagaimana caranya?”

Tidak seorang pun menjawab pertanyaan beliau.
“Saya berikan resepnya ya,” sambung beliau. “Pertama, kalian mesti membuang semua kemalasan. Misalnya, malas seperti hari ini. Sudah terlalu lama libur. Banyak pekerjaan lalu kalian jadi malas memulai pekerjaan. Buang jauh-jauh sifat malas itu ya…”

Semua orang pada kesindir.
“Kedua, bantu teman-teman untuk menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Ajarkan kepada mereka apa yang kalian bisa. Supaya kalian makin pandai. Dan teman kalian juga menghormati kalian. Jangan mau pinter sendirian. Karena meskipun pinter, tapi kalau pelit ilmu kalian akan terkucilkan.”

Semua orang pada nyengir.
“Ketiga.” Lanjut Pak Presiden Direktur. “Jangan hitung-hitungan.” Katanya. “Kalau kalian hitung-hitungan, maka kalian akan menakar pekerjaan. Dan cepat atau lambat kalian akan merasa kalau gaji kalian terlalu kecil sehingga kalian tidak akan tertarik bekerja secara maksimal…..”

Setelah itu, Pak Presiden Direktur menasihatkan beberapa hal lagi. Tetapi, ketiga hal yang dijelaskannya melekat kuat didalam dada orang-orang udik yang baru kembali ke kota itu. Dan mereka, bertekad untuk mengikuti jejak keberhasilan beliau dalam membangun karir profesionalnya hingga bisa meraih kedudukan yang tinggi seperti sekarang.

Ketika keluar dari ruang kerja Pak Presiden Direktur, mereka seperti baru keluar dari ruang seminar yang diisi oleh motivator terkenal. Nggak ada lagi tuch yang merasa berat memikirkan pekerjaan yang bertumpuk karena terlalu lama tidak disentuh. Mereka bertekad untuk memperbaiki nasib masing-masing. Supaya tahun depan, keadaan mereka lebih baik. Mungkin lima tahun lagi menjadi lebih baik lagi. Atau mungkin, sepuluh tahun lagi mereka bisa menduduki posisi yang pantas untuk dibanggakan.

Mereka bergegas kembali ke kubikalnya masing-masing.
Namun, ketika mereka tiba di kubikal. Mereka melihat sebuah kartu lebaran tergolek di meja. Ooooh…. Rasanya sudah ratusan tahun tidak ada orang yang menggunakan kartu lebaran. Sekarang semua orang sudah merasa cukup dengan SMS atau maaf-maafan lewat twitteran. Siapakah gerangan yang masih melestarikan kebiasaan zaman purba itu?

Emang sih. Jadul banget. Tapi sekali ada yang melakukannya, jadi terasa uniknya. Tak sabar mereka membuka kartu lebaran itu.

Kartu lebaran dari Natin.
Isinya sama sekali bukan ucapan selamat Iedul Firtri 1433H seperti yang sudah lumayan rada membosankannya dibaca dalam setiap SMS, fesbukan, dan twiteran. Tidak ada kata ‘Minal Aidin Walfaidzin’ atau ‘Mohon maaf lahir dan batin’ seperti umumnya kartu ucapan. Didalam kartu lebaran itu, Natin menuliskan kalimat ini:

CIRI ORANG YANG BERHASIL PUASANYA ADALAH:
LEBIH JUJUR, LEBIH GIGIH, DAN LEBIH TANGGUH

Iya.
Ramadhan itu adalah bulan latihan. Selama bulan itu, setiap orang melatih diri untuk tidak tergoda melakukan tindakan yang buruk. Apapun yang tidak bernilai kebaikan, ditinggalkan selama menjalani puasa. Benih untuk menumbuhkan kejujuran.

Di bulan itu juga orang-orang dilatih untuk gigih menahan ketidaknyamanan. Puasa pada hakekatnya bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Melainkan simbolisasi tentang betapa menantangnya kehidupan. Kadang, kita diuji dengan kekurangan. Kadang kita dihadapkan pada berbagai macam cobaan. Tanpa kegigihan, orang tidak akan berhasil menyelesaikan puasanya. Dan tanpa kegigihan, orang tidak akan mungkin dapat menyelesaikan setiap tantangan dalam kehidupannya.

Mengapa selama berpuasa orang masih bisa beraktivitas? Ada sih emang yang kelihatan lemas. Dan jadi males. Ah, itu sih yang males aja. Tapi, coba deh tengok ke Rumah Sakit. Tanyakan kepada dokter disana. Selama bulan puasa, jumlah pasien di rumah sakit menurun drastis. Baik pasien berobat jalan. Apalagi pasien rawat inap. Isyarat apakah ini? Isyarat bagi ulil albab, kata Tuhan. Yaitu isyarat bagi orang-orang yang bersedia mengambil pelajaran atau hikmah dari tanda-tanda keagungan Tuhan.

Dengan puasa, tubuh kita justru menjadi semakin tangguh. Usus menjadi bersih. Tanpa harus melalui proses cuci usus yang harganya mahal. Badan bugar karena bangun lebih pagi. Bergerak lebih banyak saat sembahyang tarawih. Sedangkan jiwa dan mental kita semakin jernih karena lebih banyak berdzikir serta berserah diri kepada Ilahi. Itulah kombinasi proses yang menjadikan diri kita pribadi yang lebih tangguh lahir maupun batin.

Benar kata Natin. Jika seseorang berhasil menjalankan ibadah puasanya, maka pasti setelah masuk kerja lagi. Orang itu akan mempelihatkan 3 sifat profesional ini: Jujur, gigih dan tangguh. Dengan kata lain: orang yang berhasil puasanya, pasti kualitas kerjanya semakin baik.

Selagi mereka merenungkan isi kartu lebaran itu, terdengar suara langkah yang diseret-seret. Bunyi gesekan sepatunya dengan lantai terdengar cukup nyaring.
Opri tidak kuasa untuk menyapa orang itu;”Kakinya kenapa Pak? Masih kecapean sepulang mudik?” katanya.

“Kecapean mudik dari Hong Kong?” balas orang itu. “Nggak pake jalan kaki kali,” katanya.
“Lha, terus kenapa Bapak kelihatannya tidak bersemangat begitu?” kejar Opri.
“Maklumlah Pri, pekerjaan saya kan banyak sekali. Apalagi habis liburan kayak gini….” Kata Pak Mergy seraya menyeret kembali kakinya memasuki ruang kerjanya.

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa liburan itu semestinya menjadi kesempatan untuk menumpuk rasa rindu terhadap pekerjaan. Bukan malah sebaliknya. Kebanyakan orang merasa malas kembali bekerja setelah berlibur. Hanya sedikit yang bersemangat. Makanya, yang berhasil meraih pencapaian tinggi seperti Pak Presiden Direktur juga hanya sedikit. Apa lagi bagi mereka yang baru saja menyelesaikan penggemblengan selama bulan Ramadhan. Setelah menjalani tempaan sebulan penuh itu, mereka seyogyanya menjadi pribadi yang lebih baik dengan ciri-ciri yang sudah disampaikan oleh Natin. Yaitu pribadi yang lebih Jujur. Lebih Gigih. Dan Lebih Tangguh. Setidaknya, begitulah hikmah puasa yang dipahami Natin bagi para profesional seperti kita.

Catatan Kaki:
Lebaran itu disebut hari kemenangan. Karena mereka yang berhasil melintasi lebaran, bisa menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih gigih, dan lebih tangguh. Tiga modal utama untuk meraih kemenangan lebaran, untuk diaplikasikan di tempat kerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s