Jabatan Itu……

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ September 13, 2012 ⋅

 Tidak ada yang memahami apa yang terjadi selama 2 minggu belakangan ini. Padahal, boleh dibilang seperti api dalam sekam. Dari luar sih nggak kelihatan. Kalau pun ada asap, hanya sedikit sekali. Cuma suasananya yang terasa agak ‘hangat’. Kehangatan itu bisa dilihat dari sedemikian antusiasnya semua kandidat mengikuti setiap tahapan seleksi. Tapi didalam dada semua orang, sesungguhnya sangat panas sekali. Dan hari ini akan menjadi puncaknya. Tahu kenapa? Soalnya, hari ini bakal diumumkan hasil seleksi calon supervisor.

Jam enam lewat delapan belas menit.
Mereka sudah pada hadir di kubikal. Padahal, bisanya nggak segitu rajinnya kali. Habisnya mau gimana lagi. Sudah sejak tadi malam orang-orang pada nggak bisa tidur. Penasaran pengen segera tiba saat yang dinanti-nantikan itu. Buat para kandidat, jelas ini merupakan hari penentuan dari perjalanan karir mereka. Kalau dapat posisi supervisor itu, berarti mereka berhasil meningkatkan derajatnya. Mereka akan menjadi atasan.

Orang-orang yang sudah keburu gugur di tahap sebelumnya juga tetap saja antusias menantikan pengumuman hasil seleksi itu. Soalnya, bagi mereka ini adalah sebuah perayaan bagi keberhasilan sahabat-sahabat mereka sendiri. Sekalipun bukan dirinya yang naik, tapi kalau jatuh ketangan sahabat sendiri rasanya kok jadi ikutan menang juga kan. Pokoknya, buat semua karyawan di perusahaan pengumuman hari ini bakal menjadi kemenangan bersama. Soalnya, ini adalah untuk pertama kalinya seleksi promosi jabatan hanya melibatkan orang dalam saja. Tidak ada satu pun kandidat dari luar.

Entah apa yang dibisikkan oleh Natin kepada top management. Yang jelas, sejak dia menjadi office boy dikantor itu, tampaknya cukup banyak kebijakan yang berubah. Awalnya orang cuman heran aja. Kok office boy bisa keluar masuk dengan mudahnya sih ke ruang Pak Presiden Direktur. Terus orang curiga juga. Kenapa Natin bisa berlama-lama di ruang beliau. Kalau cuman ngepel aja kan mestinya lima menit juga sudah keluar lagi. Ini nggak. Dia bisa sampai dua jam di ruangan beliau. Tanpa seorang pun tahu apa yang dilakukannya. Dulu, mereka memang suka merasa aneh. Tapi sekarang, sudah nggak lagi. Soalnya, sudah bukan rahasia umum lagi kalau Natin itu penuh misteri. Tapi karena misterinya banyak yang memberikan dampak positif buat semua orang, jadinya nggak ada yang mempermasalahkan misteri itu.

Kata orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan lain, sistem seleksi di kubikal emang beda banget dengan cara promosi di perusahaan lain. Di kebanyakan perusahaan seleksi supervisor itu kan cuman psikotest sama wawancara dengan beberapa orang kunci. Udah gitu, tinggal nunggu aja. Nggak ada yang tahu soal seluk beluknya. Eh, tahu-tahu diumumkan aja deh siapa yang kepilih. Nggak heran deh kalau penilaiannya jadi subyektif. Dan nggak heran juga kalau orang yang kepilih itu justru paling nggak pantes jadi atasan dimata teman-teman lainnya. Jangan kaget deh kalau ada yang bilang;’orang kayak gini kok jadi atasan!”

Di kubikal beda banget. Malahan semua orang bisa merasakan serunya. Disini, acara pemilihan supervisor bukan monopoli para boss. Semua serba transparan. Malahan ada tahap seleksi yang melibatkan karyawan lain untuk bertindak sebagai dewan juri kehormatan segala. Dan semua orang terlibat. Setiap kandidat mendapatkan tugas untuk menyelesaikan suatu misi. Semacam simulasi memimpin orang-orang saat menyelesaikan suatu proyek gitu deh. Nah, semua anggota team yang dipimpinnya kemudian yang memberikan evaluasi dan penilaian. Jadi, nggak ada tuch kelakuan atasan yang sok bener sendiri. Apa lagi yang sok kuasa. Soalnya, yang memberi penilaian bukan atasan pada bawahan. Tapi sebaliknya. Anak buah yang menilai atasan. Makanya setiap kandidat yang berperan sebagai atasan berperilaku sangat baik sekali.

Tapi bukan cuman perilaku aja yang dinilai. Hasilnya juga. Proyek itu emang bagian dari sistem seleksi. Tapi, bukan berarti boleh gagal. Tetep harus berhasil. Kalau proyeknya soal penjualan, ya selain prosesnya mesti bener, hasil penjualannya juga harus sesuai dengan target. Kalau proyeknya soal penggunaan software baru, yang dinilai juga apakah software itu bener-bener bisa meningkatkan bisnis perusahaan. Pokoknya, belum pernah ada yang melihat proses seleksi supervisor seperti di kubikal.

Proses seleksi yang terbuka itu membuat semua orang bisa melihat kualitas calon supervisor secara gamblang. Persaingan makin sengit ketika jumlah kandidat sudah semakin mengerucut. Yang masih kurang bagus, pasti tersingkir. Akhirnya, tinggal 4 orang saja yang masih bertahan. Sebenarnya, semua orang bisa saja menebak-nebak siapa yang bakal terpilih menjadi supervisor. Tapi, karena ke-4 kandidat terakhir itu sama-sama hebat, boleh dibilang peluangnya sama kuat. Jadinya nggak mudah juga memperkirakan siapa yang bakal dapat.

Tapi ada serunya juga lho. Gara-gara kualitas ke-4 kandidat itu seimbang, makanya semua orang jadi sibuk mendiskusikan siapa ya yang kira-kira bakal dapat. Itulah yang menjadikan suasana selama dua minggu itu benar-benar fokus ke situ. Nggak ada pembicaraan lain di warung kopi Mak Minun selain soal itu. Saat makan siang juga ngomongin soal itu. Kayaknya, nggak habis-habisnya deh diskusi soal itu.

Jam 12.00.
Tidak ada tanda-tanda jika hasilnya akan segera diumumkan.
Penantian dan harap-harap cemas semakin menjadi-jadi. Tapi nggak ada yang bisa melakukan apapun selain hanya menunggu.

“Udah deh kita makan siang dulu aja…” kata Mbak Aster. “Udah laper nih…”
“Makan siang?” Mata Sekris melotot. “Ide bagus tuch,” tambahnya. “Tapi gue masih bisa nahan laper.”
“Ntar kalau pas makan siang tahunya diumumkan gimana?” tambah Aiti.

Semua orang pada terdiam untuk beberapa saat.
Mereka emang sudah laper. Tapi, nggak rela juga kalau sampai ketinggalan informasi penting. Kan seru banget kalau langsung tahu begitu hasilnya diumumkan. Real time gitu loh.

“Ya udah, kita gantian aja,” Opri akhirnya angkat suara. “Biar kita nggak terlalu tersiksa juga,” tambahnya.
Sebenarnya orang-orang usah hampir setuju. Tapi, Fiancy bertanya begini;”Apa nggak lebih baik kalau kita menanggung semuanya bersama-sama?” sambil memasang wajah yang bening. “Kapan lagi kita menanggung kebersamaan kayak gini?”

Orang-orang pun kembali saling pandang. Pertanyaan Fiancy itu memberi mereka hanya dua pilihan; Sama-sama makan dengan resiko ketinggalan berita. Atau sama-sama menunggu dengan resiko pada kelaparan. Lumayan lama juga loh untuk mengambil keputusan.

“Emangnya pasti nggak kalau pengumumannya bakal keluar pas kita makan?” Tanya Jeanice.
“Yaaa elo,” protes Opri. “Kalau udah pasti ngapain kita pada ribut?” tambahnya.
“Bisa sore juga kan?” kejar Jeanice.
“Ya bisalah Jean. Gimana sih lu!?” balas Opri lagi. Orang lain juga pada nge-ho-oh-in.

“Kalau jam makan,” kata Jeanice dengan kalemnya, “Ada batas waktu nggak?”
Orang-orang di kubikal mulai memahami maksud Jeanice. Mereka saling pandang. Lalu… “Elo memang cerdas Jean!” kata mereka bersama-sama.

Nggak ada yang menjamin jam berapa pengumuman itu bakal keluar. Lagipula, hasil keputusan itu sama sekali tidak dipengaruhi oleh makan siang. Semakin lama mereka berdebat, jam makan siang mereka semakin berkurang. Akhirnya…. semua orang menarik nafas panjang. Lalu satu… dua… tiga…..! “KITA MAKAAAAAAN!” semuanya berteriak dengan girang. Nggak ada hentinya mereka membuat kehebohan.

Yang seru waktu di kantin pas ada orang-orang dari perusahaan lain yang sedang makan siang. Karena orang-orang kubikal itu pada heboh, jadinya kedengeran sama orang dari perusahaan lain. Awalnya sih mereka cuman ngeliatin aja. Mungkin mereka mengira sedang ketemu dengan orang-orang aneh. Tapi lama kelamaan mereka jadi penasaran juga. Kehebohan apa sih yang sedang dibicarakan. Ya udah, diceritain deh kepada mereka soal proses seleksi supervisor di tempat kita.

“Oh, gitu ya?” respon mereka rata-rata gitu. Nggak nyangka aja ada cara seleksi secanggih itu. “Wah, hebat banget tuch yang punya ide,” kata mereka lagi.

“Yo-i dong…” kata orang-orang kubikal. “Natin gitu loh….”
“Natin?” orang-orang pada mengerenyitkan dahi. “Beliau HR direkturnya ya?” gitu deh tanggapan orang-orang. Dari nada bicaranya bisa diartikan tersimpan kekaguman. Atau….. terselip rencana untuk mengirimkan surat lamaran. Mana tahu kan?

“Woooo, buuuuukan…” kata mereka. “Natin bukan HR Direktur.” Sepertinya orang-orang kubikal nggak rela kalau Natin disebut sebagai HR Direktur. Jabatan Natin nggak ada bandingannya. “Jangan sembarangan ya nebak-nebak jabatan orang….”

“Oh, maaf. Pak Natin itu Presiden Direkturnya ya?” orang-orang dari perusahaan lain makin penasaran.
“Bukan,” jawab mereka.
“Owner perusahaan?” rasa penasaran semakin bertambah.
“Bukan?” kayak yang nggak ada jawaban lain aja.
“Konsultan?” eh malah jadi kayak teka-teki gini.
“Bukan?” bener. Emang nggak ada jawaban lain.

“Jadi beliau itu siapa?” akhirnya mereka nyerah. Tapi mereka hanya bisa bengong aja ketika dikasih tahu kalau Natin itu adalah office boy di kubikal. Sepertinya mereka nggak percaya. Malahan ada yang mulutnya menganga. Sampai nggak sadar kalau ada cairan meleleh selaga.

Orang-orang kubikal bangga sekali rasanya. Punya Natin. Dan punya suasana kerja seseru itu. Nggak kerasa lho, ternyata berita itu makin menyebar. Sampai akhirnya semua orang di gedung perkantoran itu pada tahu. Bayangin aja. Di gedung berlantai 40 itu ada sekitar 50 sampai 70 perusahaan. Misalkan aja masing-masing punya seratus karyawan. Gile ada 5,000 – 7,000 orang yang tahu soal itu. Padahal, dulunya sih mana ada perusahaan lain yang peduli. Masing-masing pada cuek bebek aja dengan urusannya sendiri. Banyak yang sombong juga karena sok kerja di perusahaan besar segala. Sekarang, siapa yang nggak tahu kubikal dan keunikan sistem seleksi supervisornya.

Nggak pake basa-basi. Jam 13.00 mereka langsung pada kembali ke kubikal. Kalau biasanya ada aja yang membandel balik makan siang lebih dari jam 13.00. Malah sampai ada yang kena teguran segala. Tapi hari ini, semua orang kepengen segera berada di kubikal. Makanya pada bergegas begitu suapan terakhir mereka telan.

Setiba di kubikal. Keadaan masih sepi. Nggak ada tanda-tanda kalau top management akan mengumumkan hasilnya segera. Makanya mereka jadi lunglai juga. Berjalan gontai menuju ke mejanya masing-masing. Menghidupkan kembali komputer yang tadi dimatikan. Membolak-balik kertas kerja yang tadi sempat tertunda. Yaaah… gitu-gitu aja.

Tiga menit kemudian, komputer sudah benar-benar bangun. Mereka berharap semoga saja sudah ada pengumuman lewat email. Supaya adil, mereka sepakat untuk membuka email kantor bareng-bareng. Satu, dua, tiga! Nggak ada juga. Di inbox nggak ada email apapun yang berjudul ‘Pengumuman Hasil Seleksi Supervisor’ disingkat PHSS.

Cuman ada beberapa email kerjaan biasa. Ditambah email pribadi yang beraneka ragam. Ada yang dapat dari pacarnya. Milist. Atau juga teman. Nggak aci. Sudah waktunya kerja lagi. Makanya mereka memutuskan uuntuk membaca email kerjaan aja. Tapi gimana lagi, dari judulnya nggak ada yang menarik. Soalnya perhatian mereka masih terfokus pada hasil seleksi itu. Makanya, nggak semangat juga buat baca email kerjaan. Ada sih email dari Natin. Tapi. Judulnya juga nggak menarik. Mereka sedang menunggu email dari HRD, bukan dari Natin. Tapi karena email HRD belum juga datang ya udah deh. Buka yang dari Natin aja.

Klik.
Semua mouse dipencet tanpa gairah.
Kling.
Semua layar monitor komputer memperlihatkan email dari Natin. Isinya bukan hasil seleksi pastinya. Cuman ada menu hari ini yang berbunyi begini:

JABATAN INI ADALAH AMANAH..  MAKA PERTANGGUNGJAWABKANLAH (Jeanice)

Semua orang membaca kalimat unik khas Natin. Tapi kali ini rasanya beda. Agak hambar. Iya deh. Terimakasih. Sekarang sudah nyadar kalau jabatan ini adalah amanah. Maka pertanggungjawabkanlah.

“Natin ini kurang kerjaan,” begitu gerutu orang-orang.
“Udah tahu orang pada nungguin pengumuman, eh malah diceramahin.” Kata yang lainnya lagi.

“Bilang sama Natin, kita kepengen tahu siapa yang kepilih jadi supervisor!” teriak yang lainnya lagi di belakang.
“Ah elo lagi,” protes temannya. “Natin kan nggak ada kewajiban buat ngumumin soal itu!”

Akhirnya, mereka sibuk berdebat soal kewenangan Natin dan menu hari ini yang nggak berkualitas. Sewaktu perdebatan itu sedang memuncak, tiba-tiba komputer mereka bunyi ‘kling!’ ada email yang masuk. Dari Natin lagi. Subyeknya ‘Pengumuman hasil seleksi supervisor’

Uhuwaaaa… semua orang langsung melompat. Balapan membuka email itu. Waktu mereka membukannya, begini isinya: “Kan tadi sudah diumumkan….” cuman gitu doang.

Haaaah? Sudah diumumkan? Kapan? Dimana? Siapa? Percuma aja mereka bertanya-tanya. Nggak ada yang tahu kapan dan dimana diumumkannya. Siapa yang terpilihnya. Sepertinya mereka sedang dipermainkan.

“Waaah, ngerjain kita nih si Natin,” kata Opri. Dia sudah hampir berdiri untuk mencari Natin ketika Sekris beteriak.

“Teman-teman…..” wajahnya rada gugup gitu. Semua orang melihat kearahnya. “Coba elo baca lagi email Natin yang sebelumnya…” katanya. Semua orang menurutinya. Lalu membuka email yang tadi. Tulisannnya nggak berubah. Masih seperti ini:

JABATAN INI ADALAH AMANAH
MAKA PERTANGGUNGJAWABKANLAH
(Jeanice)

Sejenak mereka mengerenyitkan dahi. Lalu…. heeeeyyy…. sejak kapan Natin menuliskan menu hari ini sambil mencantumkan sumber referensinya? Haaaaaah? Itu bukan sumber referensi. Itu adalah nama kandidat yang terpilih menjadi supervisor…..!!!!

Semua orang langsung menyerbu Jeanice. Memeluknya ramai-ramai. Sampai-sampai Jeanice nyaris nggak bisa bernafas. Ada namanya dibawah menu hari ini dari Natin.

“Galz… hhh guys… shh… mmmph….” Jeanice berusaha melepaskan diri. “Gue rasa itu sebuah kesalahan…” katanya. “Mana ada pengumuman disampaikan seperti itu.” Tangannya terus menggapai-gapai. “Lepasin gue… lepasin gue.”

Percuma saja. Semua orang sudah kadung yakin kalau email dari Natin itu adalah isyarat kalau Jeanice yang terpilih jadi supervisor.

“Ya udah kita tungguin aja pengumuman resminya…” tubuh mungil Jeanice makin nggak berdaya. “Sekarang… ngghhhhh leppppasssin gg-gue..hhhmmphnnnhhh…”

Kerumunan orang-orang aneh itu nggak juga melepaskan pelukan mereka. Sampai terdengar tepuk tangan yang keras dari arah lain. Mereka berhenti sejenak. Lalu melihat kearah datangnya suara. Ternyata Pak Presiden Direktur dan semua boss sudah berdiri disana. Bertepuk tangan sambil mengucapkan ‘Selamat! Selamat!’

Sekarang Jeanice bisa bernafas lega. Buru-buru dia merapikan rambutnya yang amburadul gara-gara ulah para perusuh itu.

“Kalian sudah mengetahui hasilnya, kan?” Pak Presiden Direktur membuka pembicaraan.
“Sudah Paaaaak…” teriak semua orang. PD banget. Nggak pake tanya lagi benar apa tidaknya.

“Baiklah,” kata Pak Presdir. “Saya mengundang supervisor kita yang baru maju ke depan.”

“Jeanice! Jeanice! Jeanice!” teriak semua orang sambil bertepuk tangan memberinya semangat. Sedangkan Jeanice mengerut ngeri sendiri dengan suasana seperti itu. Dia masih nggak yakin kalau dirinya yang terpilih. Dia baru merasa lega ketika Pak Presdir dan para boss ikut bertepuk tangan dan tersenyum hangat kearahnya. Memberi isyarat kalau memang dialah yang mendapatkan promosi itu. Lalu kakinya yang masih gemetar, ditariknya untuk melangkah.

“Saudara-saudara sekalian,” kata Pak Presdir, “Inilai supervisor yang baru kita….”
Tepuk tangan meriah nyaris membuat kata-kata beliau tidak terdengar. Sementara Jeanice gemetaran menerima sepucuk surat pengangkatan.

Pak Presiden Direktur hendak mengucapkan petuahnya ketika tiba-tiba ada suara seseorang sedang berlari tergesa-gesa.

“Tunggu duluh, tunggu duluh…” katanya sambil terengah-engah.
“Sedang dikejar hantu ya Pak?” kata Opri sambil melihat wajah Pak Mergy yang memerah.
“Hbukannhhh… saya hanya hinginhh mengetahuih shiapah hyang terpilih menjadih supervisorh….”

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…….

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa jabatan yang mereka kejar-kejar itu pada hakekatnya adalah amanah. Jika mereka tidak menjalankan amanah itu dengan baik, maka akan mempermalukan diri sendiri dihadapan para anak buahnya. Dihadapan atasannya. Dihadapan semua orang. Dan mereka akan malu dihadapan Tuhan. Namun jika mereka bisa menjaga amanah itu. Tanpa ternoda oleh perilaku angkuh. Aji mumpung. Mentang-mentang dan sebangsanya, maka mereka akan menjadi pemimpin yang dicintai anak buahnya. Disayangi atasannya. Dan… Diridoi oleh Tuhannya. Maka patutlah untuk para pemimpin merenungkan nasihat Natin. Jabatan ini adalah amanah. Maka pertanggungjawabkanlah.

Catatan Kaki:
Jika tidak sanggup menjalankan amanahnya, sebaiknya tidak usah ikut-ikutan mengejar jabatan. Jadi rakyat sajalah. Dan baik-baiklah disana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s