Gara-gara Natin Nggak Masuk Kantor

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ March 15, 2012 ⋅

Semua orang berkerumun.
Nggak ada lagi yang mengerjakan apapun hari ini. Selain berkerumum itu. Ya, itu juga kalau berkerumun bisa disebut kerjaan.

Sepertinya roda kehidupan di kubikal sudah berhenti sejak Natin nggak masuk kantor. Ohm, bukan sejak Natin nggak masuk kantor. Tapi sejak orang-orang tahu kalau Natin nggak masuk kantor.

Tadi pagi semua orang duduk di kubikal masing-masing. Sekris masih bisa liat kubikal mana yang belum ada penghuninya. Begitu juga kalau Pak Presiden Direktur lewat. Beliau akan tahu kalau orang-orang itu semuanya sedang berada pada posisi bekerja. Diulang; posisi bekerja. Soal kerja atau tidak sih, meneketehe. Pan?

Geliat proses bisnis belum benar-benar berhenti ketika orang-orang belum tahu kalau Natin nggak masuk kantor. Baru kerasa ada yang kurang aja. Tapi kalau sekarang, bukannya baru kerasa ada yang kurang. Tapi benar-benar kerasa dampaknya.

Kalau dipikir-pikir….
Emangnya apa ya dampak gara-gara Natin nggak masuk kantor? Yang mau ngopi, kan bisa bikin kopi sendiri. Yang suka nyuruh beli makan siang, pan untuk sekali ini bisa turun panas-pasanan ke warung kaki lima yang berjejer di gang sempit didepan kantor. Amigos. Agak minggir got sedikit.

Toilet kotor… nah. Itu baru masalah.
Nggak juga sih. Kan tinggal naik satu lantai. Atau turun ke lantai kantor lain. Belok kiri disamping pintu lift. Nah. Ketemu deh toilet yang bersih…

Jadi apa sih dampaknya kalau Natin nggak masuk kantor?
Dih, orang-orang itu malah pada bengong. Apa dampaknya kalau Natin nggak masuk kantor. Nggak apa-apa kan?

Nggak bakal lageee orang-orang itu disuruh bersihin WC kantor. Percaya duweeeh… Nggak tertulis di jobdesc.

”Heeey, Galz, pada mau kemana?.” Opri sewot ketika semua orang sudah hampir bubaran. ”Ini bukan soal jobdesc, tauk!” katanya.

Orang-orang itu berhenti melangkah. Terus sama-sama menengok kearah Opri.
”Maksud elo….?” mulut-mulut itu berhenti tepat pada bunyi ’O’.

”Maksud gue?” Opri balik melototin mereka. ”Elo kok pade nggak ngerti sih?” katanya. Sebenarnya dialah yang tidak mengerti kenapa semua orang nggak ngerti seperti dirinya.

”A-a….” Orang-orang itu menggelengkan kepala. Sekarang mulut mereka terjebak pada bunyi ’a’ yang kedua.

”Hiiiiih, pada G06l0K semua!” bentak Opri. ”Dipikir dong. Bagaimana ceritanya Natin kok bisa dibiarkan nggak masuk kantor kayak gitu.”

”Yaaa elo, Pri. Itu kan urusannya boss dong. Ngapain kita yang ngurusin dia.” sekarang gantian Fiancy yang sewot. ”Gue sih bisa aja motong uang makan dia. Tapi kan mesti nunggu memo dari Pak Mergy….”

”Diih, kalian ini sadis banget sih…” Aiti menyela. ”Masa sih elo tega motong uang makan OB. Gila lo pade nih….”

”Nah elo lagi Ti, nggak nyambung melulu. Makanya elo jangan cuma gaul sama komputer doang. Biar elo ngerti bahasa orang….” hardik Opri.

”Halah… sudah-sudah jangan ribut mulu. Jadinya gimana nih urusan Natin?” tiba-tiba saja Sekris menyela. Nggak ada yang tahu kapan dia ikutan berkerumun juga. Eh, tahu-tahu badannya yang bongsor itu sudah ada ditengah-tengah lingkaran orang-orang.

”Oke. Sekarang kita bikin rapat buat ngebahas nggak ngantornya Natin.” Opri kembali mengambil inisiatif.

Semua penghuni kubikal merapatkan diri membentuk lingkaran yang semakin mengecil. Mereka sudah siap melakukan rapat penting.

Tapi…..
Sebelum rapat itu benar-benar dimulai…..
Tiba-tiba saja Pak Mergy berteriak dari depan pintu ruangannya; ”Heh, kalian sedang apa lagi? Kok pada berkerumum begitu.” Katanya. ”Hayo semuanya kembali bekerja!”

Seperti burung merpati yang sedang asik mengerubuti remah-remah di taman rekreasi. Langsung kabur begitu ada orang yang mengoprak-opraknya secara tiba-tiba.
Buuuurrrrrr……. langsung pada mabur. Setiap kubikal itu pun kembali terisi oleh para penghuninya.

”Lain kali kalau Natin tidak masuk kantor lagi kalian tidak usah ikut campur.” kata Pak Mergy. ”Kalian itu bisanya cuman ngomentari orang lain yang tidak ngantor. Tapi kalian sendiri cuman badannya doang ada di kantor. Kerja. Bukan ngerumun kayak gitu.”

Pak Mergy terus menyerocos sambil berkeliling disekitar kubikal.
Semua penghuni kubikal terdiam. Menundukkan kepala. Sambil memencet-mencet tombol keyboard komputer. Atau membolak balikkan kertas dokumen.

”Soal Natin nggak masuk kantor itu adalah tanggungjawab saya.” kata Pak Mergy lagi. ”Kalian nggak usah ikut mikirin. Fokus saja pada pekerjaan masing-masing. Mengerti?”

”Mengertiii Pak Mergyyyyyy……” semuanya serempak menjawab.

Bagus. Adalah satu-satunya kata yang keluar dari mulut Pak Mergy sebagai pujian atas jawaban orang-orang. Beliau lalu berjalan memasuki ruang kerjanya.

Pas didepan pintu Pak Mergy berhenti.
Lalu membalikkan badannya. Dan berkata. ”Kalau gara-gara Natin nggak masuk kantor ada orang yang sampai tidak bekerja karena memikirkannya……”

Pak Mergy tiba-tiba berhenti bicara.
Orang-orang di kubikal menahan nafas untuk mendengarkan kalimat selanjutnya.

”Maka orang yang pantas begitu hanyalah…..” Pak Mergy berhenti lagi.

Nafas orang-orang di kubikal ditahan lagi.

”Saya.”
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..

Pak Mergy melangkahi garis pintu. Menutup pintunya rapat. Lalu duduk di kurinya yang empuk.

Tiba-tiba saja semua orang menyadari jika ketidakhadiran orang lain bukanlah alasan bagi mereka untuk ikut-ikutan berhenti bekerja. Ada tidaknya orang lain, tidak sepatutnya mempengaruhi pekerjaan mereka hari itu…..

 

Catatan Kaki:
Kita sering terlalu usil dengan pekerjaan orang lain yang terbengkalai. Sampai-sampai kita tidak menyadari jika pekerjaan kita sendiri ikut terbengkalai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s