Alasan Natin Jadi Office Boy

From http://www.dadangkadarusman.com

By Dadang Kadarusman ⋅ March 22, 2012 ⋅

Mestinya kehebohan sudah mereda.
Tapi untuk kali ini ternyata tidak. Meskipun orang-orang di kubikal sudah tahu jika Natin batal jadi Managing Director, tapi kegundahan mereka tidak juga berakhir.

Aneh aja. Kok Natin menolak untuk diangkat menduduki jabatan yang diperebutkan banyak orang itu?

Mungkin Natin cukup tahu diri. Jabatan itu bukan untuk orang seperti dirinya. Tapi, bukankah banyak orang yang tahu kalau dirinya sendiri tidak cocok untuk suatu jabatan. Namun ngotot ingin mendapatkan jabatan itu?

Banyak kok orang yang nggak peduli kapasitas dirinya. Tapi, mereka berebut kursi-kursi bergengsi. Pake cara apa saja, jika perlu. Ah, mungkin itu tanda jika sebenarnya mereka tidak tahu diri.

Tapi apakah iya penolakan Natin disebabkan oleh dia sendiri yang tahu diri? Mungkin dia takut dilecehkan oleh anak buahnya kelak. Mungkin dia khawatir kehilangan wibawa dimata orang-orang yang dipimpinnya.

Tapi kan kalau pun itu terjadi, Natin kan bisa sembunyi dibalik ketiak Pak Presiden Direktur. Toh banyak juga orang yang berperilaku begitu. Jika anak buahnya sudah tidak bisa diatur, ya tinggal minta memo dari Presiden Direktur. Executive decision, istilahnya. Kalau sudah begitu, kan nggak bakal ada lagi yang berani membangkang.

Natin ini benar-benar lugu. Polos. Atau…
Mungkin juga sebenarnya dia orang yang dungu. Ah, tak seorang pun tahu.

Tapi, kalau memperhatikan perilaku. Gerak gerik. Cara berbicara. Dan cara Natin menjalani hari-hari kerjanya. Semua orang bisa merasakan jika dia itu bukanlah OB biasa. Beda banget dengan bayangan setiap orang tentang gambaran OB pada umumnya.

Natin punya sesuatu yang menyebabkan kata-katanya didengar orang. Termasuk semua orang di kubikal. Maupun Pak Mergy. Bahkan, kenyataan dia dipanggil Pak Presiden Direktur selama itu menunjukkan jika Natin bukanlah orang sembarangan.

Tapi, kalau benar Natin itu bukan orang sembarangan. Kenapa dia memilih menjadi OB sih? Benar-benar membingungkan. Seperti mimpi. Atau dongeng-dongeng masa lalu. Tapi kan, sekarang kan bukan lagi zamannya dongeng seperti itu.

Inilah yang menyebabkan kisah Natin menarik untuk dikaji. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, para penghuni kubikal kembali merapatkan diri. Topik kali ini adalah mencari justifikasi, mengapa orang seperti Natin mau menjadi OB.

”OB itu kerjaannya ringan.” itu adalah kalimat yang meluncur dari mulut Opri. Semua orang setuju. Kerjaan OB kan ringan. Cocok untuk orang yang suka males-malesan.

”Elu yakin kerjaan OB itu ringan?” sergah Fiancy. Semua ladies di kubikal saling pandang. Nggak benar-benar ngerti maksudnya.

”Gue sih, mendingan kerja sampai tengah malam di kantor daripada mesti ngepel, nyuci piring kotor, dan beresin ini itu di rumah….”

”Yeeee, kerjaan OB kan nggak gitu-gitu amat kaleeeeee…” bantah para working ladies.

Fiancy dengan mudah menangkisnya menggunakan satu kalimat ampuh ini; ”Lah, intinya sama aja. Babu-babu juga.” Kata-katanya membuat semua orang di kubikal mengakui, bahwa kerjaan OB itu nggak termasuk gampang. Apa lagi dengan gajinya yang kecil itu. Nggak kebayang deh bisa hidup dengan penghasilan segitu.

Jadi, apa dong yang membuat Natin mau jadi OB?

”Aaahaa, gue tahu.” Sekris menggoyang-goyangkan pinggulnya yang aduhai. Semua orang menatap kearahnya. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena goyangan badan bongsornya yang hot itu membuat seluruh kubikal bergetar.

”Siapa diantara elo pade yang bisa leluasa masuk ke ruangan para boss? Ada?” Wajahnya yang bulat berhias senyum menatap berkeliling orang-orang kubikal.

”Yaaa…” Penghuni kubikal ternganga… ”Elo dong Kris. Elo kan sekretaris.” kata mereka seperti paduan suara.

”Bukan. Bukan gue.” sanggah Sekris. ”Gue hanya bisa masuk leluasa ke ruangan Pak Mergy. Tapi gue nggak bisa masuk begitu aja ke ruang manager lain. Apa lagi para direktur,” lanjutnya.

”J-jadi…, maksud eloh….” Aiti yang sedari tadi mengerut-ngerutkan dahi paling cepetan menangkap maksud Sekris. ”Natin suka jadi OB karena dia punya akses ke semua orang penting di kantor ini…..”

Semua orang di kubikal saling menatap. Sekarang mereka mengetahui betapa cerdasnya Natin dengan strategi itu.

”Tapi, apa yang dia dapat dari akses ke semua orang penting itu?” Fiancy menyela.

”Hmmmh…” Aiti mengangguk-angguk. ”Kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri Fi,” katanya. ”Melainkan dengan siapa saja dia berteinteraksi…..” lanjutnya.

Sekarang semua orang di kubikal menyadari benar apa yang menyebabkan Natin mau jadi OB. Mereka tak kuasa berkata-kata lagi. Kecuali hanya bisa menggangguk-anggukan kepala aja. Persis seperti boneka leher per yang dipajang di dashboard mobil.

”Nah, kalian ngangguk-ngangguk soal apa lagi?” jantung mereka nyaris berhenti ketika suara Pak Mergy menyeruak ditengah keheningan.

Tak ada pilihan lain kecuali membeberkan kesimpulan penting itu kepada Pak Mergy. Karena Aiti yang berhasil menemukan kesimpulan itu, maka dialah yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya pada beliau.

”Weeeeekekek kekek…… Weekekek kekek….Weeekekek kekek….” tawa Pak Mergy memenuhi seluruh langit kubikal.

”Kalian ini ada-ada saja,” katanya ketika berhasil menguasai diri kembali. ”Mana ada OB yang bisa mikir sampai sejauh itu wekekekekek…..” Tawanya belum sepenuhnya habis. ”Sudahlah. Kalian semuanya salah.” lanjutnya.

”K-kalau begitu…” Opri memberanikan diri. ”A-pa yang…. membuat Natin mau menjadi OB Pak? ” lanjutnya.

”Karena jadi OB itu dirindukan oleh semua orang!” Pak Mergy menjawabnya dengan spontan. Seperti tersambar petir. Rambut orang-orang kubikal hampir berdiri semuanya.

Masuk akal. Nggak ada yang pusing memikirkan para manager dan boss kalau mereka tidak kelihatan di kantor. Semua orang bekerja seperti biasanya. Malah banyak anak buah yang kepengen bossnya hilang setiap hari. Kalau perlu, biar ditelan oleh bumi.

Tapi pada Natin? Semua orang ingin dia ada setiap saat bersama mereka.
Ahhhh…. cerdas benar Pak Mergy menemukan jawabannya. Mereka hampir saja menyalami beliau karena temuannya yang genius itu.

Namun, ketika mereka melihat ke tempat dimana tadi Pak Mergy berdiri. Ternyata beliau sudah melangkah pergi sambil menundukkan kepalanya. Dia terlihat sedih sekali.

Dalam keheningan itu. Samar-samar suara Pak Mergy kembali terdengar. ”Kenapa sih, kok kalian nggak merindukan saya seperti kalian merindukan Office boy itu…”

Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..

Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa menjadi OB berarti menjadi somebody yang dirindukan oleh semua orang. Di kantor itu tidak ada orang yang lebih dirindukan dari pada Natin. Jika dia nggak ada, pasti dicari oleh siapa saja. Popularitasnya melebihi semua orang di kubikal. Bahkan termasuk Pak Presiden Direktur sekali pun.

Catatan Kaki:
Tidak ada orang yang paling dirindukan kehadirannya di kantor melebihi seseorang yang kita sebut sebagai Office Boy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s